MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 18


__ADS_3

Pukul 7 pagi, Cyril sudah siap untuk menuju ke kantor. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Dengan santai ia melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah kontrakan. Moodnya cukup baik pagi ini. Sesekali ia bersenandung mengikuti alunan lagu. Keadaan jalan sudah mulai ramai. Hampir 1 jam sebelum akhirnya pemuda itu tiba di perusahaan tempatnya bekerja. Salah satu perusahaan percetakan surat kabar yang namanya sudah terkenal di seantero Bandung Raya. Bukan tanpa sebab Cyril bekerja di sini. Salah seorang sahabatnya yang berprofesi sebagai wartawan yang merekomendasikan pekerjaan ini. Dan atas rekomendasi sahabatnya pula, ia bisa diterima bekerja.


***********


"Cyril!" Seorang pemuda sepantar Cyril memanggil dan melangkah mendekatinya. Mereka berjabat tangan dan saling menepuk bahu.


"Selamat datang ya, aku masih ngga nyangka, kamu mau juga kerja disini" seru pemuda bernama Galih sambil tersenyum.


"Makasih Galih. Aku coba dulu deh ya kerja disini. Cari pekerjaan jaman sekarang ngga gampang"


Kedua pemuda itu tertawa bersama dan melangkah menuju lift. Mereka pergi menemui Pak Dadang selaku pimpinan surat kabar. Ternyata Cyril ditugaskan di lapangan sebagai wartawan. Hal yang membuat pemuda itu mengerutkan kening, karena ia sama sekali tidak memiliki pengalaman atau bahkan pandangan tentang bagaimana tugas seorang wartawan. Namun Pak Dadang meyakinkannya. Tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari, tinggal pilihan mau atau tidak. Sedikit terpaksa, Cyril menyanggupi. Dan sebagai langkah awal, ia akan di bimbing oleh Galih.


Galih adalah seorang wartawan untuk berita kriminal. Sudah lumayan lama pemuda itu berkecimpung di profesi ini. Hal ini menyebabkan ia memiliki relasi yang bagus. Dari mulai polisi, dokter, para pemuda jalanan, preman, bahkan sesama wartawan. Galih akan mengajari Cyril bagaimana cara mencari berita, mengikuti penyelidikan, sampai akhirnya membuat tulisan yang kemudian dipublikasikan di surat kabar tempat mereka bekerja.


"Tunggu! Seru Galih tiba-tiba yang mengejutkan Cyril. Pemuda itu menatap Galih yang sedang mengamati penampilannya dari atas ke bawah.


"Tugas pertama kamu hari ini adalah ganti baju" kata Galih yang membuat Cyril heran.


"Kita kerja lapangan bro. Celana kain, kemeja dan pantopel ga cocok"


Cyril mengangguk tanda mengerti.


"Yaudah, ke rumah aku dulu deh, abis itu baru kita ke lapangan" sahutnya.


"Oke. Kita pake motor aku aja. Kelamaan dijalan kalo pake mobil kamu. Tau sendiri kan, jalanan Bandung sekarang macetnya kaya gimana. Bisa ketinggalan berita nantinya" Galih berkata seraya berjalan menuju parkiran motor. Tidak lama, Cyril mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


************


"Kasus yang lagi aku tangani ini kasus baru. Kematian seorang pria yang ditemukan tergantung" jelas Galih. Kedua pemuda itu masih berada di rumah Cyril.


"Bunuh diri?" Cyril bertanya. Pemuda itu merasakan darahnya mulai berpacu dan jantungnya berdegub. Kematian yang menyisakan misteri selalu membuat orang bertanya-tanya.


"Belum tau, masih dalam penyelidikan polisi"


Galih kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa foto dari dalam buku catatan.


"Ini kondisi jenasah saat ditemukan. Warga sekitar menemukannya dan langsung melapor pada polisi. Aku waktu itu ada di kantor polisi, makanya bisa cepat ikut datang ke lokasi"


Cyril mengamati beberapa foto yang diberikan Galih. Sekilas memang terlihat wajar sebagai kasus bunuh diri. Tapi entah kenapa hatinya berkata bukan.


***************


Dua gelas kopi sudah terhidang didepan Cyril dan Galih. Tidak lama, seorang pria menghampiri mereka.


"Dunia terkadang bisa sempit ya.." sapa seorang pria berumur 30an. Cyril mengenali pria itu sebagai penyidik saat kasus kematian neneknya. Yandri.


"Apa kabar?" Lanjut pria itu mengambil posisi duduk di hadapan kedua pemuda itu. Keduanya tersenyum.


"Kabar baik pak, bapak sehat?" Tanya Cyril. Galih disebelahnya bersikap biasa saja. Pemuda itu telah bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua orang ini sudah saling mengenal. Ia menduga karena kasus kematian Seruni yang tidak lain adalah nenek kandung Cyril.


"Alhamdulillah sehat.." jawab Yandri. Pria itu lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan. Secara singkat, ia menjelaskan tentang korban.

__ADS_1


"Korban bernama Jamal, berusia 49 tahun. Saat ditemukan pertama kali oleh tetangganya, ia sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuhnya tergantung di salah satu kayu atap di dapur" Yandri menunjukkan sebuah foto.


"Hasil otopsi menunjukkan kematian korban disebabkan karena kurangnya oksigen dan patah tulang leher. Tanda-tanda khas untuk sebuah kasus bunuh diri"


Cyril mengamati foto dihadapannya, dalam beberapa detik ia sudah menemui kejanggalan. Yandri yang menangkap ekspresi Cyril hanya terkekeh.


"Seperti pemikiran Galih sebelumnya, saya rasa pemikiranmu pun sama dengannya Cyril"


Cyril mengangguk membenarkan. Difoto itu terlihat tubuh Jamal yang tergantung. Dengan sebuah bangku terjatuh tidak jauh dari kakinya. Sekilas tidak terlihat keanehan dari foto TKP atau Tempat Kejadian Perkara tersebut. Namun jika diperhatikan lebih seksama dengan melihat tinggi bangku, akan terlihat kejanggalannya. Tinggi bangku itu terlalu rendah untuk menopang kaki korban, jika memang ia berniat bunuh diri. Lazimnya, korban akan menaiki kursi, menyesuaikan ketinggian dengan tali yang dililitkan di lehernya. Namun, saat posisi korban tergantung dan kursi tersebut diletakkan dibawahnya, ada jarak sekitar 60cm. Ya, kaki korban tidak menapak pada kursi penyangga. Kasus yang awalnya disangka bunuh diri ini perlahan mulai mengarah pada pembunuhan berencana.


Hampir satu jam lamanya Yandri, Galih dan Cyril berbincang mengenai kasus ini. Yandri sebagai pihak yang berwenang tidak bisa begitu saja membocorkan hasil penyelidikan kepada pihak lain. Mereka hanya membahas penemuan awal korban, karena pada saat itu Galih pun berada disana. Setelah menghabiskan berbatang-batang rokok dan segelas kopi, Yandri pamit dari keduanya.


Kedua pemuda itupun tidak segera beranjak dsri tempat mereka. Galih mulai membuka apa yang telah ia selidiki pada Cyril.


"Korban diketahui hidup sendirian. Beliau duda tanpa anak, bercerai 3 tahun yang lalu. Nah, mantan istrinya kabarnya tinggal di kota lain. Selain itu pribadi korban yang tertutup membuatnya ngga dekat dengan siapapun" jelas Galih.


"Sangat sulit menelusuri orang-orang terdekat korban untuk mulai bertanya. Bahkan tetangga-tetangga pun ngga banyak yang berinteraksi dengan korban. Aku udah menyelidiki mantan istrinya. Ternyata pada saat kejadian, wanita itu lagi bekerja di tempat pembuatan krupuk. Bosnya sendiri yang ngasih kesaksian bahwa selama ini wanita itu bekerja disana setiap hari, ngga pernah ijin sekalipun. Yang jelas, mantan istrinya punya alibi waktu itu"


"Terus sekarang gimana?" Cyril menatap Galih


"Kita balik ke TKP aja yuk, kali aja ada sesuatu yang terlewat. Kita tanya-tanya lagi tetangga sekitar. Pak Yandri ngga akan segampang itu ngasi tau kita, sampai mana hasil penyelidikan. Kita cari tau sendiri. Berita beginian bakalan booming" kekeh Galih sambil membereskan catatannya, menaruhnya kembali kedalam tas dan menuju ke pemilik warung untuk membayar.


*****************


Hampir pukul 9 malam saat Cyril merebahkan tubuhnya di kasur. Ia baru saja pulang setelah sebelumnya mengunjungi TKP korban. Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya, tapi entah apa, ia pun tidak mengerti. Dari obrolannya dengan tetangga sekitar korban, Cyril mengambil kesimpulan bahwa korban tidak memiliki hubungan sosial yang baik dengan orang sekitar. Hampir tidak ada orang yang dekat dengan korban. Tidak ada orang yang diduga memiliki motif untuk melenyapkan pria itu. Mau tidak mau, otak Cyril kembali berpikir tentang orang-orang terdekat korban. Hingga akhirnya pemuda itu jatuh tertidur tanpa sempat mengganti baju.

__ADS_1


__ADS_2