
PLAAASSHHHH!
Seorang wanita berjalan tergesa menuju ke sebuah rumah di samping kebun pisang. Berkali-kali matanya memindai nomor rumah dengan catatan kecil di tangannya. Setelah yakin bahwa rumah itu yang menjadi tujuannya, ia melangkah maju. Ia berniat untuk meminta bantuan seseorang dari masa lalunya.
Tok tok tok!
Tangannya tergesa-gesa mengetuk pintu, berharap sang empu rumah cepat menghampiri. Setelah kesabarannya hampir habis dan akan berbalik pergi, pintu terbuka perlahan.
"Mau apa kamu?" tanya seorang pria dibalik pintu.
Wanita itu langsung meneteskan air mata dan maju berusaha meraih tangan sang pemilik rumah. Sayangnya, dengan kasar sosok itu menepisnya. "Tolong aku...," mohonnya
Pria dihadapannya hanya tersenyum mengejek. "Setelah semua yang terjadi, rupanya kamu masih punya muka untuk bertemu denganku, bahkan meminta pertolongan," ucapnya sinis.
Tangisan lirih wanita itu berakhir menjadi isakan. Ia hampir jatuh berlutut. Apapun akan ia lakukan demi keselamatan putrinya semata wayang. "Arika sedang dirumah sakit. Dia sedang sakit dan kami membutuhkan pertolonganmu."
Pria itu tertegun sejenak. Dibukanya pintu lebar-lebar tapi sama sekali tidak mempersilakan untuk masuk. "Wanita sialan, setelah kau membawa pergi putriku dan menggugat cerai, sekarang kau kembali untuk meminta bantuanku. Tidak tau diuntung!" ia berbalik dan berjalan meninggalkan wanita itu.
Secepat kilat sang wanita mengejarnya ke dalam. "Tolonglah putrimu. Ia terkena Leukemia. Hanya operasi satu-satunya cara untuk menyelamatkannya. Datanglah ke rumah sakit dan bantulah dia. Kemungkinan sum-sum tulang belakangmu akan cocok...," pintanya mengharap belas kasihan pria yang merupakan ayah kandung putrinya tersebut.
Sosok itu membalikkan badannya dan menyeringai. "Kau tidak lihat? Aku sedang sibuk. Aku tidak punya waktu untuk menemui putri kepa*rat yang selalu membela ibunya"
"Demi Tuhan, dia putrimu sendiri!" kesabaran wanita itu habis sudah. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ada seorang ayah yang lebih mementingkan hal lain dibanding keselamatan putrinya.
"Terserah, aku lebih suka jika dia mati saja. Karena dia, kau selalu menentangku saat kita masih bersama. Pergilah, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Bulan depan aku akan menikah dan aku harus merenovasi dapur ini. Menyelesaikan pekerjaan menutup sumur lebih penting daripada anak sialan itu!"
Hati wanita itu hancur berkeping-keping mendengar ucapannya. Harapan terakhirnya pupus sudah. Dengan langkah gontai ia menuju pintu keluar di sudut dapur.
PLAAAASSHHH!
__ADS_1
"Ayo kita bujuk sekali lagi, kita tawarkan sejumlah uang padanya." Seorang pria di belakang kemudi berbicara pada wanita di sebelahnya. Wanita yang baru saja meninggalkan rumah itu.
"Jangan takut, aku akan menemanimu dari belakang. Jika mantan suamimu itu kembali bersikap kasar, aku akan datang dan melindungimu. Kuatlah! Arika bergantung padamu."
Setelah berpikir beberapa saat, wanita itu mengangguk dan turun dari kendaraan menuju kembali ke rumah itu.
PLAAAAASSSHHH!
Mantan suami istri itu sedang berdebat sengit di dapur. Sang pria meminta nominal lebih dari yang ditawarkan. Sedangkan sang wanita benar-benar sudah habis kesabaran. Sosok pria yang awalnya datang untuk menemani wanita itu mengintip dari balik pintu belakang. Amarah hampir membutakan hatinya melihat wanita yang ia cintai dimaki dan dikasari. Namun, akal sehatnya masih tersisa. Dia memutuskan untuk menunggu dalam diam.
Plak!
Perdebatan yang tak kunjung menemukan kata sepakat menyulut emosi sang mantan suami ke level tertinggi. Ia mulai melayangkan tangan untuk menghajar mantan istrinya itu. Kata-kata makian tidak lepas dari mulutnya, mengulang kembali trauma wanita itu akan kasarnya sikap mantan suami di masa lalu. Saat pria itu akan menendangnya, seseorang dari belakang memukul dengan keras.
Kesabaran sudah tidak bersisa setitik pun di hati pria yang mengantar wanita itu. Dengan kalap dihajarnya bertubi-tubi perut si mantan suami. Saat matanya tidak sengaja melihat kerekan di atas sumur yang sudah ditutup, hatinya sudah gelap karena amarah. Dengan cepat diraihnya tali timba yang masih tergantung, dan secepat kilat dililitkan ke leher mantan suami kekasihnya itu. Sekuat tenaga ia menarik tali di ujung lain kerekan. Bunyi patahan terdengar nyaring, setelahnya tubuh yang terlilit itu diam tak bergerak.
PLAASSHHHH!
Berdua mereka membereskan tempat kejadian sebelum keduanya kembali keluar dari pintu belakang dan lari menuju tempat mobil diparkir.
***
Sesaat Ara merasakan aliran udara terputus dari paru-parunya. Lehernya sakit dan dadanya sesak. Setelah dengan susah payah mengambil nafas panjang, ia terbatuk dengan hebatnya, lalu jatuh terduduk di lantai ruang otopsi yang dingin.
Ketiga sosok lain di ruangan itu bergegas menyongsongnya. Dua menatapnya dengan pandangan khawatir dan seorang lagi dengan pandangan kagum. Decak kekaguman keluar dari mulut dr.Arka. Ini kali kedua ia melihat sesuatu di luar nalarnya. Bidang yang digelutinya menuntut untuk menemukan fakta yang bisa dibuktikan dengan mata kepala sendiri. Tapi hari ini, ia sadar, ada dunia lain yang berpengaruh besar. Dan, ada juga orang-orang yang memiliki kemampuan abnormal namun mengagumkan.
***
Ara, Cyril, Yandri dan dr. Arka berkumpul di kantin rumah sakit. Ara sedang berusaha memulihkan dirinya dengan segelas teh manis panas. Sedangkan sisanya yang lain hanya memperhatikan.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Ara berkata pelan. "Mantan istrinya."
Yandri yang mendengar itu dengan segera mengeluarkan buku catatan yang selalu dibawanya. Ditunjukan sebuah foto kepada Ara.
"Ya, ini orangnya," ucap Ara. "Ada seseorang yang datang bersamanya. Saya kira, mungkin kekasihnya."
Yandri mengangguk tanda mengerti. Kini ia harus memulai penyelidikan kembali dari awal dan mencari orang terdekat mantan istri korban.
"Anaknya sedang di rumah sakit," tambah Ara.
Lagi-lagi petugas polisi itu mencatat keterangan Ara. "Ada lagi?" tanyanya.
Ara menggeleng. "Itu saja. Jika orang-orang yang bersalah itu mengaku, anda akan tau bagaimana cara korban meregang nyawa."
Yandri tersenyum dan berdiri. Ia pamit untuk kembali memulai penyelidikan. Sedangkan Cyril dan dr. Arka masih menemani Ara.
"Ara, saya pernah memintamu untuk bekerja dengan saya karena rekomendasi Profesor Helmi. Tapi jujur saja, ini kedua kalinya saya melihat kamu menggunakan kemampuanmu dan saya mengaguminya.
Jika kamu sudah merasa lebih baik setelah kejadian waktu itu dan ingin kembali bekerja, tawaran saya masih berlaku." Dr. Arka kemudian berdiri dan pamit pergi.
Cyril menatap Ara lekat, hingga gadis itu merasa salah tingkah. "Apa?" tanyanya saat merasa tidak nyaman karena tatapan itu.
Cyril masih menatapnya dengan pandangan aneh. "Ada yang berbeda Ara. Aku tidak tau apakah kau menyadarinya juga atau ...,"
"Aku tau." potong Ara. "Aku tau apa yang kamu maksud Cyril."
Gadis itu menghela napas panjang. "Aku baru saja menyadarinya. Saat terakhir aku memegang jenasah, aku sudah merasakannya. Tapi kupikir itu hanya kebetulan. Maka dari itu aku penasaran dengan kemampuanku saat kamu cerita tentang kasus ini."
Cyril mencondongkan tubuhnya ke arah Ara. "Aku khawatir tadi...," bisiknya.
__ADS_1
Ara tersenyum mendengarnya. "Aku juga sekarang mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku kini bisa merasakan sakitnya para korban saat mereka meregang nyawa. Aku merasakan kesakitan mereka, bukan hanya sekedar penglihatan...."
Keduanya bertatapan tanpa kata. Cyril merasa bersalah karena secara tidak langsung ia yang membawa Ara pada kasus ini. Sedangkan Ara, gadis itu mulai mencocokkan satu hal. Kemampuannya berkembang bersamaan dengan datangnya mimpi aneh yang terus berulang.