MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 13


__ADS_3

Ara baru saja selesai sholat magrib saat ponsel diatas tempat tidurnya berbunyi.


CYRIL MEMANGGIL


"Halo Cyril.." sapa Ara


"Hai Ara, lagi sibuk ngga?" Tanya Cyril


"Ngga juga, ada apa?" Tanya gadis itu balik


"Ngga ada apa apa. Kalau ga sibuk, temenin makan yuk.." Terdengar tawa canggung Cyril diujung sana.


"Iya boleh aja" Ara menjawab sembari tersenyum


"Oke kalo gitu aku jemput sebentar lagi ya.." balas Cyril menutup pembicaraan.


******


Cyril sedang bersiap siap menjemput Ara ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya.


"Cyril, tante boleh masuk..?" Suara tante Tasya terdengar


"Masuk aja tante, ngga dikunci" seru Cyril menimpali


Pintu terbuka, dan masuklah sosok tante Tasya di hadapan Cyril. Beliau mengambil posisi menghadap pemuda itu dan duduk di sofa.


"Mau keluar kamu?" Tanya tante Tasya sambil menatap lekat Cyril


"Iya tante, mau ketemu sama temen" jawab Cyril pelan


Entah kenapa perasaannya mulai waswas. Sebisa mungkin ia mengabaikan apa yang dirasakannya. Seketika itu juga Cyril teringat sesuatu dan menoleh ke arah tante Tasya.

__ADS_1


"Tante ngapain sih beres beres taman segala? Pake baju kaya gitu lagi. Cyril kira tante tukang kebun baru loh" pemuda itu berkata


Sepersekian detik, Cyril dapat menangkap perubahan raut muka tante Tasya. Tapi dengan cepat wanita itu bersikap biasa.


"Tante liat taman udah mulai ga keurus, makanya tante aja yang beresin" sahut Tante Tasya cepat


"Jawaban yang terlalu dipaksakan" batin Cyril


"Kan tante sendiri yang berhentiin para tukang kebun, sekarang tante sendiri kan yang repot" sindir Cyril


Terlihat tante Tasya mulai tidak nyaman dengan arah obrolan ini. Beliau berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Hati hati kamu perginya, jangan lupa bawa kunci kalau mau pulang malam" sahutnya sambil melangkah


"Iya tante" jawab Cyril seraya memandang kepergian tante Tasya.


Ada sesuatu yang aneh dengan tante Tasya.


********


"Hampir saja ketahuan" bisik sosok itu di dalam gelap


*********


Setengah jam kemudian, Cyril dan Ara sudah duduk di warung makan lesehan pinggir jalan di daerah Taman Lalu Lintas kota Bandung. Sambil menunggu pesanan mereka membicarakan tentang kasus Seruni.


"Masih belum ada petunjuk baru" Ara memulai pembicaraan.


"Belum, pihak kepolisian menemui jalan buntu, mereka ngga tau harus mulai penyelidikan dari mana. Semua penyelidikan awal kembali mentah" pemuda itu menjawab sambil menghembuskan nafas.


"Kamu yakin, orang yang kamu lihat di penglihatan kamu itu bukan salah satu orang yang fotonya pernah aku tunjukin?" Lanjutnya kemudian.

__ADS_1


"Sangat yakin. Awalnya dia terlihat seperti sosok tante Erry. Tapi mukanya berbeda" Ara menjawab yakin.


"Sekarang dirumah hanya tinggal aku, tante Tasya dan mbok Jejen. Aku ga tau harus nyari orang didalam penglihatan kamu dimana. Nenek bukan tipe orang yang suka bersosialisasi. Jadi rasanya ngga mungkin kalau orang yang kamu lihat itu tamu" tandas Cyril. Nada putus asa terdengar dari pria itu.


"Kamu yang sabar. Yang namanya kebenaran itu hanya satu. Lama atau cepat, pasti akan ketauan juga" hibur Ara


Cyril mengangguk mengiyakan. Pesanan mereka sudah datang, saatnya mengisi perut agar bisa berpikir jernih kembali.


*******


Sudah menjelang tengah malam saat Cyril membuka pintu rumah menggunakan kunci yang ia bawa. Suasana rumah sepi. Dia memperkirakan tante Tasya dan mbok Jejen pasti sudah tidur. Memasuki kamarnya, ia melihat sebuah benda tergeletak di sofa. Sebuah ponsel. Besar kemungkinan itu milik tante Tasya yang tidak sengaja terjatuh.


Pemuda itu mengusap layar ponsel tersebut dan detik berikutnya dahinya berkerut heran. Wallpaper di ponsel tante Tasya membuatnya kaget dan berpikir keras. Hatinya menolak keras tetapi otaknya membenarkan apa yang ia lihat. Pertarungan antara otak dan hati dimulai. Dimana otaknya memaparkan fakta sedangkan hatinya tidak menerima.


Tante Tasya dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tidak banyak tingkah. 7 tahun menikah dengan om Afwan, tidak pernah sekalipun terdengar mereka bertengkar hebat. Cyril tau itu karena dari sejak mereka menikah, om dan tantenya itu tinggal bersama mereka di rumah ini. Sayangnya, 5 tahun lalu om Afwan meninggal karena sakit. Meninggalkan tante Tasya seorang diri karena mereka belum dikaruniai anak. Tante Tasya pun tetap tinggal dirumah ini atas permintaan nenek.


Ponsel digenggaman Cyril berbunyi, tanda ponsel mulai kehabisan baterai. Beberapa detik kemudian terdengar handle pintu kamarnya berbunyi, tanda seseorang berusaha masuk kesini. Buru buru pria itu mematikan ponsel tante Tasya dan menaruhnya sembarangan di sofa. Ia beranjak membuka pintu.


Wajah tante Tasya terlihat cemas dan juga terkejut. Cyril menangkap jelas ekspresi tersebut.


"Cyril, kamu udah pulang? Tante kira kamu masih diluar. Tante mau cari ponsel tante, siapa tau tadi terjatuh disini" sebelum Cyril bertanya, tante Tasya sudah menjelaskan.


"Aku baru aja masuk kamar tante, langsung ke kamar mandi. Coba aja tante cari sendiri" sahutnya menggeser badan kesamping, memberi jalan untuk tante Tasya.


Tante Tasya menuju ke sofa dan menemukan ponsel miliknya. Diusapnya ponsel itu tapi benda tersebut tetap tidak mau menyala.


"Kayanya baterainya abis ya ini" tante Tasya bersuara. Wanita itu tidak bisa menutupi kelegaan yang terdengar jelas di suaranya. Ekspresinya pun kembali santai.


"Maaf ya Cyril, tante ganggu kamu malam malam. Istirahat sana" ujarnya sembari keluar dari kamar Cyril


Begitu pintu tertutup, pemuda itu duduk di sofa. Meremas rambutnya dan mengingat kembali dengan jelas apa yang ia lihat di ponsel tante Tasya.

__ADS_1


__ADS_2