MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 24


__ADS_3

Ruang forensik hari ini sangat ramai. Banyak polisi dan K-9 ( anjing pelacak kepolisian ) berkeliaran. Mereka datang membawa beberapa plastik dan langsung masuk ke ruang otopsi.


Ara menatap tumpukan berkas dan nomor yang akan di taruh sebagai label pada plastik yang baru saja di antar. Tim forensik dr. Arka pun kalang kabut berlari bolak balik ke ruang laboratorium. Dokter Arka sendiri tidak terlihat di manapun. Ara merasakan atmosfer mencekam memenuhi ruangan kecil tempatnya duduk.


***


"Ara!"


Sudah hampir magrib saat Yandri datang dan memanggil Ara yang sudah bersiap akan pulang.


"Kasus baru, ayo!" Mata Yandri menatap Ara dengan pandangan memelas.


"Ayo pak." Ara kembali menaruh tas dan membuka jaket. Dengan segera ia mengikuti Yandri ke ruang tempat otopsi dilakukan.


***


Mata Ara terbelalak melihat suasana di dalam ruang otopsi. Penampilan dr. Arka dan timnya terlihat sangat acak-acakan. Di atas bak stainless terdapat beberapa potongan yang membuat Ara mual seketika saat membaca label yang menyertainya.


"Maaf pak, tunggu sebentar," ucapnya pada Yandri dan berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi lambung.


"Sudah oke?" Yandri bertanya khawatir.


Ara mengangguk dengan wajah pucat pasi. "Ayo pak, cepat kita selesaikan. Jika menunggu lebih lama, saya takut semakin tidak kuat."


"Maafkan saya," Yandri memapah Ara menuju ke bak stainless. Tim dr Arka diminta untuk keluar. Dalam ruangan itu hanya tersisa Ara, Yandri dan juga dr. Arka.


Dengan pelan Ara mulai menyentuh potongan terdekat. Hening beberapa saat sampai akhirnya gadis itu mengerutkan kening. Ia kemudian menyentuh potongan lain, namun lagi-lagi keningnya berkerut. Selama beberapa saat semua potongan di atas bak stainless disentuhnya. Raut tidak percaya teegambar jelas di wajah pucat itu.

__ADS_1


"Ada apa Ara?" tanya dr. Arka.


Ara tidak langsung menjawab. Kali ini ia menggunakan kedua tangannya untuk menyentuh semua potongan.


"Saya tidak bisa melihat apapun." Kalimat Ara tersebut membuat dr. Arka dan Yandri terkejut.


***


Sudah hampir pukul 9 malam saat Cyril dan Galih datang.


"Pak, kasih bocoran dong. Penemuan kali ini apa berhubungan dengan kasus nasi kotak?" Galih merayu Yandri.


"No komen," ucap Yandri tandas.


"Pak, jangan gitu lah, bagi-bagi berita sedikiiit aja." Galih masih belum menyerah.


Galih terkejut tidak percaya, "Bapak bohong kan? Kan ada Ara di sini?"


Yandri menggeleng. "Itulah masalahnya, Ara tidak bisa melihat apa-apa."


Cyril dan Galih serempak melihat ke arah Ara.


"Ada apa? Apa sebenarnya potongan itu bukan berasal dari manu*sia?" tanya Galih.


"DNA potongan itu adalah DNA manu*sia," ucap dr. Arka.


"Kalau begitu bagaimana bisa Ara tidak bisa melihat apa-apa? Apa Ara kehilangan kemampuan?" Galih kembali melemparkan pertanyaan.

__ADS_1


"Saya ngga tau Galih, saya juga cukup kaget waktu di dalam tadi," Ara menimpali.


Sepanjang percakapan, Cyril hanya diam. Penyelidikan menemui jalan buntu. Hampir tengah malam saat mereka membubarkan diri dan Cyril mengantar Ara pulang.


***


"Sepertinya, aku memang kehilangan kemampuanku," Ara membuka suara.


Cyril yang sedang fokus menyetir, menoleh sejenak pada gadis itu. "Agak sulit dipercaya, tapi ku pikir itu bagus."


"Maksud kamu apa?" tanya Ara penasaran.


Cyril tersenyum sejenak sebelum berkata, "kamu bisa mulai hidup seperti manusia normal."


Keduanya tenggelam dalam keheningan saat sebuah pikiran melintas di kepala Cyril. "Ara, kamu dulu pernah cerita kalau nenek kamu bilang, kamu punya mata mati yang bisa melihat ajal seorang jenasah."


"Iya," Ara mengangguk.


"Nah, itu berarti janasah yang kamu sentuh memiliki ingatan saat ajal datang. Mungkin kamu ngga bisa liat apa apa karena itu hanya potongan tubuh. Bukan sebuah tubuh yang lengkap. Ingatan manusia terletak di otak kan?" tanya Cyril.


Ara terlihat berpikir sejenak. "Bisa jadi juga, tapi untuk mengetesnya, aku harus mencoba menyentuh jenasah lain."


"Bisa di atur. Kalau kita bilang hal ini pada dokter Arka. Mungkin dia bisa membantu kamu."


"Iya Cyril. Kamu tau ngga? aku selalu terbebani dengan kemampuan ini. Sampai akhirnya aku bertemu kalian semua dan menyadari jika kemampuanku ini bermanfaat. Aku rasa inilah alasan kenapa aku memiliki kemampuan abnormal ini. Sekarang aku lebih suka membantu pihak yang membutuhkan dari pada hidup seperti manusia normal," Ara berkata lirih.


Raut muka Cyril berubah saat mendengar perkataan Ara. Dengan tersenyum ia memegang tangan gadis itu. "Dasar gadis baik hati," ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2