MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 25


__ADS_3

Ara menemui Dokter Arka dan juga Yandri yang sedang berada di rumah sakit.


"Jadi Ara mau mencoba menyentuh jenasah lain untuk mengetahui apakah kemampuan kamu hilang atau tidak?" tanya Dokter Arka.


"Iya Dokter, saya ingin tau apakah kemampuan saya hilang atau memang saya tidak bisa melihat kilasan jika bukan dalam bentuk jenasah yang utuh."


Dokter Arka mengangguk paham, "Tapi saat ini tidak ada jenasah di ruang otopsi. Bagaimana dengan Pak Yandri? Adakah kasus baru yang harus dipecahkan?"


"Tidak ada, untuk sementara ini masih kasus potongan tubuh dan juga kasus nasi kotak yang belum menemukan titik terang," jelas Yandri.


Ara menunduk lesu, hilang sudah harapannya untuk mengetes kemampuan supranatural yang ia miliki.


"Jika memakai jenasah biasa bisa?" tanya Dokter Arka.


"Bisa dokter, jenasah biasa pun bisa. Saya hanya akan melihat akhir hidup dari jenasah itu yang terjadi secara normal. Maksud saya, tidak seperti jenasah para korban kriminal," Ara menjelaskan dengan bersemangat.


Dokter Arka tersenyum mengerti, "Jika seperti itu, pergilah ke ruang pemulasaraan jenasah. Berikan kertas ini pada petugas di sana."


Ara membaca sejenak isi tulisan Dokter Arka pada secarik kertas kecil, setelah mengucap terima kasih, ia pergi menuju ruangan yang di maksud.

__ADS_1


***


Ara terjatuh tepat di depan Dokter Arka, Yandri dan Cyril yang sedang mengobrol ringan di ruang tunggu gedung forensik. Ketiganya terkejut, dengan cepat menghampiri Ara. Kondisi Ara terlihat shock dan juga pucat.


***


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Yandri pada Ara yang baru menghabiskan segelas teh hangat.


"Sudah Pak Yandri, terima kasih," ucap Ara pelan.


"Ada apa Ara? Apa yang terjadi?" Cyril terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Ara.


"Katakan Ara, ada apa?" bujuk Yandri.


"Jenasah di ruang itu dibunuh, Pak Yandri. Seseorang berpakaian paramedis menyuntikkan sesuatu dan tidak lama setelahnya kejang-kejang."


Ketiga pria di hadapan Ara terhenyak kaget. Secepat kilat Dokter Arka berlari ke luar ruangan. Dalam waktu beberapa menit saja, ia kembali dengan berkas di tangannya.


"Jenasah tercatat atas nama Zeta, usia 38 tahun dan penyebab kematian adalah kegagalan nafas," Dokter Arka membacakan secara singkat profil jenasah.

__ADS_1


"Jenasah dikirim dari klinik ke rumah sakit ini karena di sana mereka tidak memiliki fasilitas lengkap untuk pemulasaraan jenasah. Keluarga jenasah meminta rumah sakit untuk memandikan dan mengkafani jenasah sebelum dibawa pulang karena mereka berada di kota ini untuk liburan."


Yandri memegang kepalanya pelan. "Apakah ada dasar yang bisa dijadikan alasan untuk otopsi?"


"Bisa saja, tapi sebelumnya saya harus melihat dengan seksama. Jika ada kejanggalan atas kondisi jenasah dan tidak sesuai dengan catatan medis yang tertulis dari klinik sebelumnya, saya bisa menjelaskannya pada keluarga pasien dan mempersilakan mereka jika ingin melakukan otopsi."


Yandri mengangguk mengerti. "Kalau begitu, ayo bergerak. Waktu kita tidak banyak."


***


"Pengentalan darah?"


Dokter Arka mengangguk. "Ya, pengentalan darah. Penyebab utama kematiannya adalah serangan jantung karena pengentalan darah. Awalnya korban dirawat di sana karena mengalami sesak nafas akibat penyakit asma yang dideritanya tapi ada kandungan Methotrexate dalam darah. Zat inilah yang membuat darah mengental dan membuat jantung bekerja sangat keras hingga akhirnya korban menderita serangan jantung."


"Kesimpulannya?"


"Korban tidak dalam kondisi yang mengharuskannya menerima pemberian obat Methotrexate. Artinya penglihatan Ara benar. Korban dengan sengaja dibunuh," jelas Dokter Arka. "Pergilah ke klinik saat korban dirawat, kau bisa memulai penyelidikan dari sana."


***

__ADS_1


Hasil penglihatan Ara membuat Yandri harus bwkerja keras selama seminggu penuh karena ternyata korban yang ditemukan lebih banyak. Salah satu dokter di sana mengaku secara sadar sudah menghilangkan nyawa pasien dengan sengaja. Alasannya karena ia kasihan melihat pasien yang kesakitan. Kasus ini masih dalam penyelidikan apakah dokter tersebut menderita penyakit mental yang berujung pada kelainan pola pikir normal dan klinik tempatnya bekerja untuk sementara waktu ditutup sampai penyelidikan selesai.


__ADS_2