MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 3


__ADS_3

Hasil otopsi Seruni sudah keluar. Seruni memang meninggal karena racun sianida. Racun itu melumpuhkan sistem pernapasan dan juga pencernaannya.


Untuk serpihan kulit di bawah kuku Seruni pun hasilnya sudah ada. Polisi melakukan penyelidikan atas permintaan keluarga korban. Oleh karena itu, polisi memerintahkan setiap orang di rumah Seruni untuk melakukan tes dna. Dengan begitu akan ketahuan, serpihan kulit siapakah itu.


Seruni tinggal bersama dengan orang tua Cyril. Ibu Cyril adalah anak kedua Seruni. Anak pertama Seruni tewas dalam kecelakaan dan istrinya tetap tinggal di rumah. Anak bungsu seruni adalah seorang wanita berumur 40 tahun yang masih lajang.


Wanita itu jarang pulang kerumah karena pekerjaannya. Selain itu ada 3 Orang pembantu, 2 orang supir dan 2 orang tukang kebun yang tidak datang setiap hari. Mereka semua tidak luput dari tes dna


*****


Ara bekerja seperti biasa. Hingga suatu hari, ia diminta untuk menghadap prof Helmi


tok tok tok


"Masuk" terdengar seruan dari dalam ruangan


Ara memasuki kantor prof Helmi dan melihat pria tua itu tenggelam dalam berkas kertas di mejanya. Kacamatanya melorot di hidungnya. Mata tuanya melihat Ara dan menyuruh gadis itu duduk


"Namamu Ara kan?" kata prof itu sambil melepas kacamatanya.


"Iya prof, saya Ara" sahut gadis itu


"Ara, kamu membuat saya sibuk akhir akhir ini karena kasus Seruni" pria itu melanjutkan


Ara tertunduk


"Maaf prof" jawabnya


"Tidak, tidak perlu meminta maaf. Bahkan sejujurnya, saya harus berterima kasih" kata prof Helmi


"Kamu punya kemampuan yang orang biasa tidak punya. Kamu bisa menggunakannya untuk membantu pihak pihak yang membutuhkan" lanjut pria itu


"Maksudnya prof?" Ara memandang tidak mengerti


prof Helmi menyandarkan tubuhnya.


"Kamu hebat, bisa mengetahui bahwa Seruni meninggal karena di bunuh" ucapnya


"Dibunuh?" ara bertanya

__ADS_1


"Ya, dan kemungkinan pembunuhnya meninggalkan jejak" kata prof itu tersenyum


"Kalau tidak keberatan, saya ingin menguji kamu?"


Ara masih bingung dengan ucapan prof itu


"Bagaimana caranya prof?" tanya gadis itu


Pria tua itu menegakkan punggungnya


"Dalam beberapa jam akan ada mayat baru, polisi bilang wanita muda itu korban bunuh diri karena ditemukan tenggelam di danau sebuah kampus" jelas prof Helmi


"Kita akan liat, seberapa besar kemampuan kamu melihat masa lalu gadis ini"


Ara terbelalak. Kejadian Seruni masih teringat jelas di pikirannya. Dan sekarang profesor tua ini ingin mengujinya dengan mayat baru


"Tapi saya takut prof" ucap Ara


Prof tersenyum


"Tidak perlu takut, kami semua akan menemanimu. Saya akan memanggilmu apabila saatnya tiba"


Ara mengangguk pelan, merasa tidak dapat menolak keinginan pria tua itu


****


Pihak kepolisian pun sudah mengajukan pertanyaan pada masing masing orang di rumah itu. Hampir semua orang memiliki alibi yang kuat.


Orang tua Cyril sedang di luar kota saat Seruni meninggal, begitupun dengan Erry, anak bungsu. sedangkan istri dari putra pertama mengaku sedang ada di dapur dengan para pembantu. Supir yang berjumlah 2 orang sedang mengantar orang tua Cyril dan Erry keluar kota. Sedangkan para tukang kebun, terus berada di taman. Alibi mereka saling menguatkan


Selama beberapa hari polisi kebingungan menemukan motif dari kasus ini. Ditambah orang orang di sekitar Seruni mempunyai alibi yang kuat saat pembunuhan itu terjadi. Salah seorang polisi yang menyaksikan Ara histeris di ruang otopsi mulai menyangsikan kata kata gadis itu. Ya, polisi harus mendapatkan bukti yang kuat, tidak bisa mengandalkan sesuatu yang sifatnya supranatural.


*****


Sesudah jam makan siang, prof Helmi memanggil Ara ke ruang otopsi. Saat ia masuk, Daffa, Yoga dan Abidzar menyeringai kepadanya. Di hadapan mereka terbujur seorang gadis yang berusia sepantar Ara. Seluruh tubuhnya kebiruan. Tubuh mayat itu membengkak dan berair. Korban tenggelam. Ada luka di kepala samping kiri. Mungkin terantuk batu saat ia melompat masuk ke dalam air.


"Ara kesini" panggil prof Helmi


Ara menghampiri sambil berusaha keras mengalihkan matanya dari mayat yang membujur kaku.

__ADS_1


Abidzar terlihat sedang memotret keadaan mayat sebelum dilaksanakannya otopsi


Ara kini berdiri di sebelah prof. Pria itu menyuruh Ara menyentuh mayat itu. Ara ragu ragu, kakinya ingin berlari pergi jauh dari ruangan ini. Pemandangan di hadapannya tidak bisa di bilang bagus


"Se... se.. karang p.. prof..?" tanya Ara terbata bata


Prof itu menganggukan kepalanya. Ara perlahan mendekatkan tangannya ke tangan mayat itu. Ia pun memejamkan matanya


PLAASSHH!!


Wanita muda itu bernama Zia, ia baru saja selesai kuliah dan duduk di sisi danau. Wajahnya merona, sesekali ia mengetikkan pesan di ponselnya. Wajah cantiknya di sinari sinar matahari yang tenggelam. Angin semilir menerbangkan helaian rambut di wajah cantiknya. Dari belakang seorang pria menghampiri


"Udah lama?" tanya pria itu tersenyum


Wanita itu merengut, pura pura marah


"Lama banget sih?!" ucapnya ketus


Pria di sebelahnya duduk dan berkata


"Maaf Zia, tadi ketemu sama dosen dulu sebentar" kata pria itu yang bernama Dimas


Zia masih saja terdiam


Dimas tertawa dan mencubit pipinya pelan


"Kamu kalo lagi ngambek, gemesin" ucap pria itu


Zia menoleh dan ikut tersenyum. pipinya merah tersipu


"Kita pergi sekarang?" tanya Dimas lagi.


Gadis itu mengangguk dan berdiri. Berdua mereka berjalan menuju tempat parkir dimana Dimas menaruh mobilnya. Selama berjalan, keduanya bergandengan tangan


PLASSHH!


Tubuh telanjang gadis itu ditutupi selimut. Dimas di sebelahnya duduk dan menyalakan rokok. Perlahan gadis itu membuka matanya dan tersenyum


"Udah bangun Zia?" kata Dimas.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum dan duduk. Ia ikut menyalakan sebatang rokok. Keduanya berbincang sambil merokok. Terkadang keduanya tertawa. Sesaat kemudian, nafsu mereka berdua kembali meninggi, Dimas mengangkat gadis itu, membuatnya menduduki tubuhnya


Dengan gerakan yang stagnan, mereka berdua menikmati rasa yang membuat mereka ketagihan. Gerakan Zia makin kencang seiring dengan desahannya yang semakin keras, dengan tubuh yang berpeluh keringat, mereka meraih kenikmatan mereka bersama sama


__ADS_2