
Cyril mengantar Ara pulang ke kosannya setelah azan isya berkumandang. Di depan kosan Ara, banyak orang sedang berkumpul, sehingga Cyril tidak bisa memarkir mobilnya tepat di depan kosan. Karena penasaran pria muda itu ikut turun. Ara yang penasaran, bertanya pada seorang ibu yang sedang berkumpul seperti membicarakan sesuatu
"Ada apa ya bu?" tanya Ara
Si ibu yang merupakan penghuni kosan juga menengok pada Ara
"Eh neng Ara. ini, anaknya ibu Ika meninggal" jawab ibu itu dengan wajah prihatin
"Loh, Azil bu??" kata Ara kaget
"Iya neng" sahut ibu tersebut
"Meninggalnya mendadak neng, katanya tadi pagi azil berenang. Pulangnya demam, terus tiba tiba ngga sadarkan diri. Pas di bawa ke rumah sakit, dokter bilang udah meninggal" ibu itu menerangkan
Cyril di belakang Ara memperhatikan pembicaraan mereka. Ara terdiam karena prihatin. Azil, bocah itu berusia 5 tahun. Sedang lucu lucunya. terkadang Ara bertemu dengannya saat pulang kerja. Anak kecil yang menggemaskan itu tinggal bersama ibunya. Sedangkan ayahnya diketahui sedang bekerja di Bekasi sebagai buruh bangunan.
Ara masuk ke halaman kosan bersama Cyril. Ia bermaksud mendatangi kamar bu Ika untuk mengucapkan belasungkawa. Saat Ara masuk, terlihat wanita itu sedang menangis di sebelah jenasah anaknya yang ditutupi kain.
Wanita itu sangat terpukul. Anaknya satu satunya meninggalkan dirinya dengan cara yang mendadak. Tidak ada sakit atau firasat sebelumnya. Saat melihat Ara, tangisnya pecah.
Cyril mengenali wanita itu sebagai wanita yang sedang menyapu halaman saat pertama kali datang ke kosan Ara untuk bertanya
"Neng Ara... Azil neng..." sahut ibu Ika tersedu
Ara menghampiri bu Ika dan memeluknya
"Sabar bu.. Ara ikut berduka cita ya bu.. Ibu yang iklas ya.." sahut Ara ikut merasakan kesedihan bu Ika
Jenasah Azil baru saja datang dari rumah sakit saat tadi Ara baru saja tiba. Belum di mandikan dan di kafani. Pemakaman dijadwalkan akan dilakukan besok, sambil menunggu kedatangan ayah Azil. Beberapa ibu ibu berkumpul untuk memandikan Azil. Dan bu Ika meminta Ara untuk membantunya. Ara mengangguk
Cyril keluar dari kamar bu Ika dan duduk di bawah pohon. Ara berkata padanya, barangkali lelah, pemuda itu bisa pulang ke rumahnya. Namun entah kenapa, Cyril ingin menemani Ara malam ini.
"Kamu ga pulang aja" tanya Ara menghampiri Cyril
"Ngga, aku masih mau disini nemenin kamu, tapi kalo kamu mau aku pulang, aku akan pulang" jawab Cyril
Ara tersenyum
"Terserah kamu aja. Aku mau ganti baju ke kamar. Kamu tunggu di sini ya?"
Cyril mengangguk dan tersenyum.
Saat Ara kembali dari kamarnya. Gadis itu ikut duduk di sebelah Cyril sampai seorang ibu ibu memangilnya
__ADS_1
"Neng Ara, bantu ibu yuk mandiin Azil" kata ibu itu
"Iya bu" sahut Ara
Tempat memandikan jenasah sudah di siapkan. Bu Ika sendiri yang membopong anaknya untuk dimandikan. Wanita itu terlihat meneteskan air mata. Cobaan ini begitu berat menghantam dirinya. Anaknya. Anaknya satu satunya. Anaknya yang sedang lucu lucunya. Anaknya yang membuat semangatnya menjalani hidup yang keras ini telah tiada. Perasaannya hancur, Sehancur hancurnya. Seperti kata orang tua jaman dahulu, jika ingin melihat kehancuran seorang ibu, pisahkanlah ia dari anaknya.
Sesaat tidak ada keinginan dalam diri bu Ika untuk bertahan hidup. Alasannya satu satunya ia hidup sudah tidak ada. Tapi berulang kali juga ia menguatkan hati. Ini sudah meruoakan takdirnya. Sang Pencipta, Sang Maha Pengasih dan Penyayang lebih cinta pada anaknya. Dan wanita itu mempercayainya
Bu Ika, Ara dan ibu yang memanggil Ara tadi mulai memandikan jenasah Azil. Mereka bergantian membasuh tangan jenasah bocah kecil itu dari bagian kanan ke kiri. Saat Ara mengusap sabun ke tubuh anak itu, tiba tiba penglihatannya buram
PLAAASHH!!!!
Terlihat dua orang, seorang pria dan seorang wanita yang memasuki halaman sebuah rumah yang entah dimana. Rumah itu dikelilingi kebun, membuat suasana sangat sepi dan juga gelap. Tidak terlihat rumah lain di dekat rumah tersebut. Kedua orang yang baru saja datang itu terlihat kelelahan.
Mereka berjalan kaki entah berapa lama untuk menemukan rumah itu. Rumah itu dikenal sebagai rumah pak Jajang. Dukun terkenal di kampung itu. Para penduduk pun tidak ada yang berani mendekati rumah tersebut. Rumah itu terletak di ujung desa.
"Pap, bener ini rumahnya?" tanya wanita itu
"Kayanya iya mam" cuma ada satu rumah ini kan di ujung desa
Mereka mengetuk pintu berkali kali
"Permisi" sahut pria itu mengetuk pintu
"Cari siapa?" tanya seorang pria setengah tua yang tiba tiba sudah berada di belakang mereka. Kedua pasang suami istri itu sangat terkejut, karena dari tadi tidak terdengar langkah kaki orang datang.
"Permisi pak, apa betul ini rumah pak Jajang?" tanya pria itu.
Pria dihadapannya meneliti suami istri itu dengan seksama kemudian mengangguk
"Saya pak Jajang" jawabnya sambil menghampiri mereka berdua dan membuka pintu rumah
"Silakan masuk" tawarnya kepada kedua orang itu
Suami istri itu memasuki rumah. Mereka mencium bau dupa dan juga wangi wangian bunga. Bulu kuduk keduanya merinding
"Ada perlu apa?" tanya pak Jajang setelah mereka semua duduk di ruang tamu
Pria itu membuka suara
"Ehhmm.. begini pak.. saya dapat cerita teman saya.. katanya apabila saya ada keinginan, saya bisa datang ke bapak"
Pak Jajang menampakan ekspresi yang datar
__ADS_1
"Kamu mau apa?" tanyanya lagi
Pria yang ditanya terdiam sejenak sebelum melanjutkan
"Saya ingin kaya pak..." jawabnya perlahan
"Maaf saya tidak bisa membantu" kata pak Jajang tegas
Wanita yang dari tadi hanya diam saja menyimak ikut berbicara
"Tolonglah pak.. Kami tidak tau harus mencari pertolongan kemana lagi.. Anak kami sakit keras.. Suami saya baru saja ditipu. Kami benar benar bangkrut. Semua harta kami habis karena tertipu. Selain itu biaya pengobatan anak kami tidaklah sedikit" wanita itu memohon
Pak Jajang terlihat berpikir sejenak. Cukup lama pria itu terdiam
"Syaratnya tidak mudah" sahut pria itu menghela napas
Wanita itu menjawab tegas
"Apapun syaratnya akan kami penuhi"
Sepasang suami istri tersebut sudah diambang putus asa. Mereka membutuhkan biaya untuk anak mereka, ditambah juga dengan kebutuhan sehari hari.
"Pais impun" jawab pak Jajang
Kedua orang di hadapannya memandang tidak mengerti
"Kalian tau anak ikan yang masih kecil? itu namanya impun" jelas pak Jajang
"Dan pais adalah bahasa sunda, yang artinya pepes. Pais impun di artikan pepes ikan yang masih kecil kecil. Itu perumpamaan. Itu sama dengan anak anak kecil yang sangat banyak"
Kedua tamunya terhenyak
"Maksud bapak tumbalnya?" tanya si suami
Pak Jajang mengangguk
"Bagaimana kami bisa mendapatkan tumbal anak kecil yang sangat banyak?" tanya si istri
"Kalian harus memikirkan caranya" jawab pak Jajang
"Setelah kalian menemukan caranya, baru kalian bisa datang kemari lagi"
Kedua tamunya mengangguk, tidak berapa lama mereka berdua pamit pulang. Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua memikirkan bagaimana cara menumbalkan anak anak kecil yang sangat banyak
__ADS_1