
Hari ini Ara libur. Ia berniat untuk mengunjungi makam Kaluna yang terletak sekitar satu jam perjalanan dari tempat kostnya. Cyril berkata padanya tadi malam saat mereka sedang makan nasi goreng bahwa ia akan menemani Ara.
***
Ara menikmati deretan pohon-pohon tinggi yang terletak di pinggir jalan. Di kursi depan Cyril sedang menyetir dan Galih terus berbicara lewat telepon genggam. Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah berziarah ke makam Kaluna. Gadis itu teringat percakapan sesaat setelah Cyril menjemputnya di tempat kost dan memperkenalkannya pada Galih.
"Ini yang namanya Ara?" Galih bertanya dengan nada antusias. Pemuda itu sudah mengulurkan tangannya saat akhirnya menyadari satu hal.
"Maaf, pasti tidak nyaman untuk berjabat tangan," ujarnya tersenyum memaklumi.
Ara tersenyum dan meminta maaf. Sampai saat ini ia memang masih berusaha untuk tidak menyentuh orang lain.
***
"Kayanya mobil itu mogok ya," Galih bersuara mengembalikan kesadaran Ara yang melamun.
"Kayanya sih iya. Kita berhenti dulu gimana? Barangkali mereka butuh pertolongan."
Ucapan Cyril diangguki oleh Galih. Serta merta, kendaraan yang mereka tumpangi pun menepi tepat di depan mobil yang mogok itu.
__ADS_1
"Ra, kalo bosen di mobil keluar aja ya. Enak loh udaranya," Ucap Cyril menoleh pada Ara.
Ara mengangguk dan membuka pintu. Gadis itu merenggangkan ototnya yang terasa kaku dan berjalan ke arah pepohonan. Netranya melihat jika pemuda yang mobilnya mogok tersebut sedang sibuk berkutat di depan kap mesin.
Cukup lama Ara duduk di bawah pohon sampai akhirnya Cyril menghampiri.
"Ra, mobil orang itu ngga bisa nyala. Tapi barusan dia udah nelpon ke bengkel buat di derek. Mungkin agak lama sampai mobil derek itu sampai. Dan kebetulan, adik orang itu sedang kurang sehat. Kamu keberatan ngga kalau kita anter adiknya dulu pulang? Biar dia di sini nunggu mobil derek dari bengkel."
"Ngga keberatan kok Cyril. Aku juga ngga ada kegiatan lain," Ara tersenyum.
"Tapi nanti agak lama di jalan ngga apa-apa? Kita kan harus nganter adiknya dulu."
"Oke kalo gitu. Kamu masuk duluan sana. Udah mau gelap, di sini mulai dingin." Cyril berbalik dan berjalan ke arah pemilik mobil tersebut.
***
"Maaf ya, saya jadi merepotkan," gadis itu berkata dengan suaranya yang halus.
"Kami baru saja pindah ke sini. Dan barusan kami, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit saat tiba-tiba mesin mobil mati."
__ADS_1
"Santai aja, ngga apa-apa kok. Kebetulan kami juga akan melewati daerah tempat tinggal kamu. Tolong kasih tau aja nanti jalannya ya," Cyril menimpali.
"Siapa yang sakit?" Galih bertanya ingin tau.
Gadis di samping Ara itu tertawa. "Ngga ada yang sakit. Saya dan kakak saya donatur di sana dan baru saja kembali dari membawakan beberapa makanan untuk para pasien."
Selama beberapa saat, keempatnya terlibat dalam obrolan ringan. Sesekali mereka tergelak mendengar cerita Galih.
"Itu rumah saya yang cat abu-abu," gadis itu bersuara. "Dan itu kakak saya, sepertinya dia sedang menunggu saya kembali."
Tepat saat gadis itu akan membuka pintu, Ara bertanya. "Nama kamu siapa? Kita udah ngobrol banyak tapi kita belum kenalan."
"Nama saya Ayodya. Oh iya, mampir sebentar yuk. Biar saya kenalkan ke kakak saya." Ayodya turun dan diikuti oleh Cyril, Galih dan juga Ara.
Cukup lama mereka berbincang dengan kakak Ayodya. Kedua orang kakak beradik itu cukup ramah dan menawarkan mereka untuk mempir. Namun sayangnya, mereka bertiga harus menolak karena langit sudah semakin gelap.
Setelah berpamitan, ketiganya kembali masuk ke dalam mobil, dan pergi dari depan rumah Ayodya.
Ara yang merasa penasaran menoleh ke belakang. Ia melihat jika Ayodya serta kakaknya menatap kepergian mereka dengan intens.
__ADS_1