MATA MATI ARA

MATA MATI ARA
Episode 16


__ADS_3

POV Cyril


Aku pertama kali melihat gadis itu saat ia sedang berteriak histeris di ruang otopsi tepat didepan jenasah nenekku, Seruni. Dari teriakannya aku tau, ada sesuatu yang tidak beres dari kematian nenek. Rupanya dokter senior yang memimpin otopsi itupun berpikiran sama denganku. Dia meminta ijinku dan pihak kepolisian untuk melakukan otopsi ulang. Entahlah, ada sesuatu didalam diri gadis yang pada akhirnya ku ketahui bernama Ara, yang membuatku penasaran. Bukan, bukan penasaran selayaknya seorang pria kepada wanita. Tapi penasaran, mengapa gadis itu dapat memiliki kemampuan di luar nalar manusia. Awalnya akupun tidak percaya, tapi setelah berteman dengannya beberapa saat, aku mulai menaruh kepercayaan.


Kabar terakhir yang aku dengar, Ara hampir menjadi target pembunuhan seorang psikopat. Waktu itu ia menjadi umpan dari pihak kepolisian untuk menjerat pelaku. Sayangnya, teman terdekat Ara lah yang menjadi korban. Setelah kejadian itu, Ara berhenti bekerja di rumah sakit. Semoga saja ia belum pindah dari tempat tinggalnya. Aku ingin mengunjungi gadis itu.


*****************


Suasana kota Bandung masih sama seperti saat terakhir kali aku tinggalkan. Mendung diselingi hujan gerimis, yang turun hampir setiap hari. Entah kenapa, aku sangat menyukai jenis cuaca seperti ini. Dominasi warna kelabu yang menyejukan mata, titik-titik air hujan yang terbawa angin, awan mendung yang berarak, itu semua favoritku. Dengan berjalan kaki aku menuju ke tempat tinggal Ara. Aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi ada keraguan juga yang sedikit timbul dihati. Tidak ada ketertarikan khusus pada gadis itu. Hanya sebatas rasa terima kasih karena berkatnya, kematian nenek bisa terpecahkan. Dari tempatku berdiri, aku sudah bisa melihat bangunan kost-kostan berlantai 2 itu. Mungkin seharusnya aku menghubunginya dulu daripada datang secara tiba-tiba. Saat aku berbalik, tanpa sengaja bahuku menyenggol seseorang sehingga orang itu terpental mundur beberapa langkah.

__ADS_1


******************


"Maaf...." Lirih sosok dihadapanku.


Seorang gadis muda bertudung dengan rambut yang menjuntai dari balik tudungnya. Wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi aku mengenali suaranya.


"Ara" panggilku


"Cyril.. kok kamu ada disini?" Bibirnya mengeluarkan pertanyaan.

__ADS_1


Aku tersenyum sebelum menjawab.


"Iya, tadinya aku pengen mampir ke tempat kamu. Tapi takutnya kamu udah pindah, jadi aku cuma liat-liat aja"


Ara yang kulihat sekarang berbeda jauh dari sosok Ara yang terakhir kali mengantarku ke bandara. Rambutnya lebih panjang, dan gayanya sedikit terkesan "gelap". Apakah ini karena kejadian yang membuat temannya tewas? Entahlah, aku tidak ingin bertanya juga.


Ara mempersilahkan aku jika ingin mampir, tapi aku menolak. Hari ini aku hanya akan menikmati melihat-lihat tempat yang dulu pernah aku kunjungi. Semacam ritual untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Ya, hari ini aku hanya ingin mengamati kota kelahiranku. Aku sedang ingin sendiri, itulah sebabnya, aku menolak tawaran Ara.


************

__ADS_1


Memutuskan untuk tinggal sendiri dan keluar dari rumah nenek bukanlah perkara mudah. Papa, Mama dan Tante Erry sempat menentang keinginanku. Mereka jarang pulang kerumah karena kesibukannya bekerja. Omong kosong. Tidak ada orang yang benar-benar sibuk. Itu hanyalah masalah prioritas. Dan dimata kedua orang tuaku, pekerjaan merekalah prioritas utama. Atas dasar itulah, aku memutuskan untuk mencari rumah kontrakan yang tidak terlalu besar. Masih ada cukup waktu untuk mulai mencari. Awal bulan depan, aku akan mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup bonafid di Bandung. Yah, masih ada waktu untuk bernostalgia kembali setelah hampir dua tahun aku meninggalkan kota ini untuk melanjutkan studiku di luar negeri.


__ADS_2