
Yandri tersenyum lega. Penyelidikannya membuahkan hasil dengan diringkusnya Rina —istri Jamal— dan Dodi sebagai pelaku utama dalam pembunuhan yang disamarkan sebagai kejadian bunuh diri. Dodi adalah pemilik usaha pembuatan krupuk tempat dimana Rina bekerja. Keduanya terlibat dalam hubungan asmara. Semua berkas yang berhubungan dengan kasus ini sudah dilimpahkan ke kejaksaan untuk kemudian diproses lebih lanjut.
***
Setelah berpikir selama beberapa waktu, akhirnya Ara memutuskan untuk menerima pekerjaan yang diberikan oleh dr. Arka. Ia berencana untuk menemui pria itu besok. Sebagian hatinya masih merasa berat, namun kebutuhan hidupnya terus mendesak. Suka tidak suka, gadis itu harus kembali bekerja.
***
Cyril sedang berusaha menulis berita tentang kasus pembunuhan Jamal saat tiba-tiba Galih menghampirinya. "Makan siang yuk, laper nih."
Cyril yang fokus pada layar monitor dihadapannya pun mengangkat kepala. "Bentar, ini belum beres."
Galih tertawa mengejek. "Udah, lanjutin nanti lagi aja. nanti aku bantuin deh," bujuknya.
Cyril yang memang sudah merasa lapar terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Mau makan dimana? Jangan nasi padang lagi ya, bosen."
"Tenang, kita makan nasi goreng sea food. Ada restoran cina yang enak, halal pula. Yuk!"
Bergegas Cyril membereskan peralatannya bekerja, dan berjalan keluar ruangan berdampingan dengan Galih.
***
Keduanya memilih meja tepat di dekat jendela. Restoran ini cukup sepi padahal Galih berkata jika sajiannya cukup enak dengan harga terjangkau. Dari pintu yang menyambungkan restoran dengan tempat tinggal, muncul seorang Popo ( Nenek ) yang berjalan dengan tongkat. Di sebelahnya ada seorang Care Worker —lebih dikenal sebagai perawat lansia— yang memegang tangannya. Popo berjalan menuju meja tempat Galih dan Cyril.
"Galih, kok baru kelihatan lagi?" sapanya.
Galih yang disapa tersenyum sumringah. "Iya Po. Baru sempat. Popo sehat?"
Popo duduk tepat disebelah meja mereka. Setelah memastikan Popo duduk dengan nyaman, perawat yang tadi mendampinginya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Popo sehat Galih. Sejak pergi ke pengobatan alternatif yang baru, Po merasa jauh lebih baik" jawabnya.
Mereka berbicara hal yang ringan sampai akhirnya pesanan Galih dan Cyril datang. Keduanya mulai menyantap makanan, saat perawat Popo datang dengan membawa nampan dengan banyak buah apel di tangannya. Wanita itu membelah apel dan mengambil bijinya, menempatkan dalam wadah khusus untuk menghaluskan obat atau jamu. Cyril yang penasaran, sesekali melempar pandangan pada Popo dan perawatnya.
"Biji apel bagus buat kesembuhan Popo. Ada kandungan vitamin B17 atau Laetrile yang membantu penyembuhan kanker," ucap Popo tersenyum pada Cyril. Cyril yang ketauan memperhatikan, merasa tidak enak. "Po sudah sering minum ramuan biji apel. Hasilnya, badan Po jauh lebih bugar"
Cyril tersenyum dan kembali meneruskan makan. Sampai akhirnya, terdengar suara berdebum disusul dengan pekikan wanita.
***
dr. Arka menyerahkan laporan otopsi atas jenasah bernama Lina kepada Yandri. Seorang wanita berumur 75 tahun yang meninggal mendadak di restoran miliknya. Polisi sudah bergerak ke TKP ( Tempat Kejadian Perkara ) dan menanyai semua orang yang berada di sekitar Lina pada saat kematiannya. Tidak ada kejanggalan yang terlihat. Galih dan Cyril memberi kesaksian bahwa korban hanya mengkonsumsi biji apel untuk alasan kesehatan. Hal tersebut diperkuat dengan resep yang diberikan pihak pengobatan alternatif. Hal ini menjadi rumit karena dalam laporan dr. Arka disebutkan jika ada kandungan Sianida dalam tubuh korban dan berefek mematikan.
Sianida akan bereaksi sangat cepat sesaat setelah tertelan. Sedangkan korban, tidak memakan makanan lain selain biji apel yang tidak terlalu banyak. Itu dibuktikan dengan jumlah apel yang tertinggal di meja tempat korban meregang nyawa. Apel-apel itu sudah diperiksa di laboratorium dan hasilnya tidak ada sianida sedikitpun. Yandri merasakan kepalanya mulai berdenyut. Bagaimana bisa sianida bisa ada didalam tubuh korban, padahal korban tidak memakan makanan yang mengandung sianida.
***
dr. Arka pun tidak kalah pusing. Sebagai dokter forensik, kemampuannya mengotopsi jenasah diragukan oleh kepala tim penyidik. Berulang kali ia menekankan bahwa memang ditemukan kandungan sianida dalam dosis yang mematikan dalam tubuh korban. Sedangkan fakta yang diterima Yandri di lapangan, tidak ada makanan lain yang mengandung sianida yang dimakan korban selain biji apel. Biji apel memang beracun, tapi dibutuhkan jumlah yang sangat banyak untuk bisa membuat manusia kehilangan nyawa. Keduanya hampir berdebat hingga akhirnya seseorang mengetuk pintu ruangan dr. Arka.
Seorang gadis masuk dan mengangguk pada keduanya. Sontak, keduanya memikirkan hal yang sama dalam pikiran mereka.
"Ara!" seru mereka kompak.
***
PLAAASSSHHHH
"Maafin Kiki ya po... Kiki terpaksa," ucap seorang wanita.
Ara melihat wanita itu memunggunginya. Dari gerakan tangannya terlihat jika ia sedang mengerjakan sesuatu. Wanita itu kembali mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik di kakinya. Buah apel. Apel yang sangat banyak. Satu persatu buah apel dibelah dan dikeluarkan bijinya sampai akhirnya terkumpul sangat banyak. Dengan pelan, wanita mulai menghaluskan biji-biji apel dan memeras airnya. Ia menampungnya dalam sebuah botol kecil.
__ADS_1
PLAAASSSHHHH
"Ki, terima kasih ya sudah merawat saya selama ini. Saya berobat ke berbagai tempat hanya untuk menyenangkan hati anak-anak saja. Saya tau umur saya tidak lama lagi," ucap seorang nenek pada wanita yang tadi Ara lihat sedang menumbuk biji apel.
"Nanti kalo Popo mati, kamu Popo beri uang 200 juta ya Ki. Pulang kampung, istirahat saja disana. Buka usaha sambil menemani anak kamu. Ngga usah kerja jauh lagi dari anak."
Wanita yang menjadi lawan bicara nenek itu meneteskan air mata. Ia terharu mendengar perkataan nenek. Tidak sia-sia pengabdiannya selama bertahun-tahun di rumah ini. Dengan penuh rasa terima kasih ia memeluk nenek itu erat.
PLAAAASSSHHH
Wanita itu menempatkan beberapa buah apel dalam nampan. Tidak lupa mangkok beling tempat untuk menghaluskan biji apel sudah ia tuangi perasan biji apel yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Agar tidak terlihat, ia menutupnya dengan sebuah serbet.
"Maafin Kiki ya Po. Kiki butuh uang. Dan hanya dengan kematian Popo-lah, Kiki bisa mendapat uang banyak sesuai surat wasiat. Pergi dalam damai ya Po," ucapnya sambil menyeka air mata.
***
AAARRRGGGGHHHHHH!
Ara merasa tercekik. Paru-parunya spontan mengambil nafas panjang. Rasa sakit ia rasakan di tenggorokan hingga perutnya. Sakit itu terasa begitu nyata hingga ia menjadi mual dan muntah di tempat otopsi. dr. Arka serta Yandri bergegas membantunya berdiri dan memapah ke luar ruangan. dr. Arka dengan sigap memeriksa denyut nadi. Kelegaan tampak di wajah mereka saat melihat wajah Ara mulai kemerahan dan bisa bernapas dengan normal.
***
"Wanita ini memberikan perasan biji apel yang sangat banyak," ucap Ara sambil menunjuk foto.
Yandri dengan segera mencatat jawaban Ara.
"Sangat pintar...," lirih dr. Arka
Ara dan Yandri serempak menoleh menatap pria itu. Merasa semua pandangan tertuju padanya, dr. Arka menjelaskan. "Dia sudah menyiapkan biji apel yang sangat banyak sebelum kejadian. Sedangkan pada saat kejadian, dia hanya menggunakan sedikit. Saya rasa untuk berjaga-jaga. Wanita itu tidak tau berapa persis banyaknya biji apel yang diperlukan untuk menghilangkan nyawa. Jadi, dia mengira-ira. Kalau dosisnya cukup, sasarannya bisa kehilangan nyawa. Sedangkan kalau dosisnya kurang, hanya akan terdeteksi kandungan Amygdalin yang memang wajar terkandung dalam sebuah apel sehingga ia bisa lolos dari kecurigaan."
__ADS_1
Yandri mengangguk sedangkan Ara hanya melongo menatapnya. dr. Arka terkekeh melihat ekspresi Ara. "Dengan kedatanganmu hari ini, saya bisa menangkap dua hal Ara. Pertama, kamu memang ditakdirkan untuk membantu kami, dan kedua kamu menerima tawaran saya untuk bekerja disini."
Ara hanya tersenyum mengangguk. Gadis itu mengambil tehnya yang sudah mulai menghangat, menyandarkan punggung dan menyesap perlahan.