
Ara berlari di sepanjang jalan setapak yang di sebelah kiri dan kanannya ditumbuhi pohon bambu. Jalan itu tampak seperti lorong panjang yang berdinding tumbuhan. Ia terus berlari dan sesekali menolehkan kepala ke belakang. Tidak nampak siapapun yang mengejarnya. Gadis itu menuruti instingnya yang memerintahkan seluruh anggota geraknya untuk berlari. Ada sesuatu di belakang sana dan menurut perasaannya, itu adalah sesuatu yang berbahaya.
"Ara....." Sesekali bisikan lirih terdengar di telinga gadis itu. Itulah yang membuatnya enggan berhenti. Sesuatu yang tidak terlihat selalu memancarkan ancaman tersendiri. Insting manusia selalu waspada oleh sesuatu yang kasat mata.
Lorong semakin memanjang, Ara tidak dapat menghitung waktu, berapa lama ia telah berlari. Matanya memindai sekeliling dengan nanar, mencoba mencari gerakan makhluk hidup lain, sekecil apapun itu. Nihil. Ia hanya sendiri, terjebak di jalan panjang ini tanpa bisa berhenti, dengan "sesuatu" yang terus mengikutinya.
****************************
Hampir pukul 2 dini hari, saat Cyril beranjak ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Ia tidak dapat tertidur walaupun untuk sekejap. Pikirannya buntu, rasa penasarannya memuncak. Penyelidikan amatir yang ia dan Galih lakukan belum menemukan titik terang. Bahkan sejujurnya, ia tidak tahu harus mengulang dari mana. Perlahan pemuda itu mengambil gawainya, dan mulai mencari sebuah nama. Ara.
Di sebuah kamar kost, Ara yang sedang terdiam diatas tempat tidurnya tersadar saat gawainya bergetar. Gadis itu lagi-lagi terbangun karena mimpi yang terus berulang. Dan itu membuatnya tidak bisa kembali tidur sebelum pagi menjelang. Dengan menggunakan kakinya, Ara menyeret gawainya yang hampir jatuh tertendang. Pertanyaan muncul di kepalanya saat melihat pesan yang baru saja masuk. Sebuah pesan dari Cyril.
[ Udh tidur Ra? ]
Gadis itu mulai mengetik balasan.
[ Udah, tapi kebangun ]
Terlihat di layar, Cyril sedang mengetik.
[ Duh, maaf ya jadi bikin kamu bangun.. ]
__ADS_1
[ Ngga kok, aku udah bangun sebelum kamu chat aku ]
[ Hari ini ada rencana kemana? ]
[ Ngga kemana-mana. Kayanya di kosan aja ]
Jeda beberapa detik sebelum Cyril kembali mengetik
[ Ketemuan yuk besok, makan nasi goreng lagi ]
Ara tanpa sadar tersenyum
[ Ayo aja 😁 ]
[ Oke Cyril ]
Cyril tersenyum tipis membaca balasan terakhir dari Ara. Setelahnya ia kembali menaruh gawainya di atas meja. Bukan hanya sekali terbersit keinginan untuk meminta bantuan Ara pada kasus yang sedang diselidikinya. Tapi, pemuda itu juga memikirkan bahwa hal itu akan menjadi bumerang bagi dia dan Galih. Apa yang Ara lakukan itu berhubungan dengan dunia supranatural. Sedangkan di surat kabar, fakta di lapangan adalah hal yang utama. Dia tidak bisa menuliskan berita berdasarkan hal yang belum diyakini semua masyarakat.
****************************
Cyril menatap Ara yang berjalan perlahan menghampiri. Sesuatu di dalam hatinya memerintahkan pemuda itu untuk selalu melindungi Ara. Sejak kasus kematian neneknya, Cyril menaruh perhatian khusus pada gadis itu. Setelah mengenal Ara, banyak hal yang baru pertama kali ia lihat dan alami. Bahwa kekuatan manusia bisa menembus batas. Mungkin banyak orang-orang yang senasib dengan Ara. Istimewa tapi tersisih. Padahal bukan kemauan mereka untuk memiliki kemampuan yang orang normal tidak memilikinya.
__ADS_1
Ingatan pemuda itu mundur ke beberapa bulan lalu saat sahabat baiknya memutuskan untuk menjadi malaikat pencabut nyawa untuk dirinya sendiri. Damian. Pria itu adalah sahabat Cyril saat menempuh pendidikan di luar negeri. Keduanya berbagi banyak pengalaman. Berbagi kesusahan bahkan berbagi cerita tentang keluarga masing-masing. Damian berasal dari Semarang. Keluarganya mengirim dia ke luar negeri untuk menyingkirkannya. Karena dia berbeda. Ya. Jika bisa di klasifikasikan, Damian adalah manusia yang berada dalam satu kelompok dengan Ara. Pemuda itu bisa melihat hal yang manusia normal tidak bisa melihatnya. Sampai akhirnya, dia mengakhiri hidupnya sendiri karena dibawah tekanan mental yang berat, hanya 2 minggu sebelum wisuda.
"Hei.." Ara telah berdiri di hadapan Cyril. Penampilan gadis itu terlihat sederhana, namun tidak membosankan. Celana jeans sobek, kemeja ukuran big size dan sepatu kanvas.
Cyril tanpa sadar tersenyum saat melihatnya
" Hai Ara... Langsung pergi aja yuk, nanti keburu penuh tempatnya"
Gadis di depannya mengangguk dan mengikuti Cyril memasuki mobil. Kurang dari satu jam berikutnya, keduanya sudah duduk berdampingan menunggu pesanan nasi goreng kambing.
" Ini kedua kalinya kita makan disini ya..." Ara berkata lirih. Cyril menengok dan tersenyum menatapnya.
" Iya kedua kalinya. Mudah-mudahan selanjutnya kita bakal lebih sering ke sini ya"
Ara tersenyum simpul. " Ya jangan keseringan juga, nanti tinggi kolesterol. Jadi nimbun penyakit, aku ga mau mati muda"
Keduanya terbahak-bahak. Entah mengapa ada perasaan lega yang mereka berdua rasakan. Seperti ada sesuatu yang awalnya ditahan, tapi pada akhirnya terlepas juga. Sesuatu yang membuat keduanya mulai merasa dekat tak berjarak.
Keduanya makan diselingi cerita tentang keseharian masing-masing. Ara menceritakan bahwa ia telah memutuskan menolak tawaran dr Arka untuk bekerja di rumah sakit. Sebenarnya, tidak masalah untuk Ara apabila tetap menggunakan bakat istimewanya. Hanya saja, ia masih merasa trauma sejak kematian Kaluna. Pekerjaannya membantu pihak berwajib membuatnya mau tidak mau hampir bersenggolan dengan pihak yang bersalah. Bahkan nyawanya terancam di tangan seorang psikopat. Walaupun pada akhirnya, teman baiknyalah yang menggantikan gadis itu menjadi korban.
Cyril pun menceritakan tentang pekerjaan barunya. Serta kasus pertama yang harus diliput. Sambil lalu, pemuda itu memberitahu Ara tentang target penyelidikan dan juga motif yang mungkin dimiliki orang sekitar korban. Ara mendengarkan semua cerita Cyril dengan seksama. Rasa penasaran gadis itu terbit perlahan. Setelah sekian waktu bekerja membatu Prof Helmi dulu, membuat Ara mampu mengalahkan ketakutannya akan jenasah.
__ADS_1
" Dimana jenasah korban di otopsi? " Tanyanya tiba-tiba
Pertanyaannya membuat Cyril berpaling cepat. Matanya lekat menatap mara Ara. Tanpa kata lebih lanjut, keduanya saling mengerti kemana arah pertanyaan itu, dan apa yang akan Ara lakukan setelah bertanya. Perlahan terlihat Ara mengangguk samar, seolah tau isi hati Cyril dengan keputusan yang diambil gadis itu tanpa kata. Sesaat, adrenalin dan rasa penasarannya naik berlipat-lipat. Setelah sekian lama, akhirnya ia akan melihat Ara "membaca" seorang jenasah yang tergantung bunuh diri.