Mata Naga

Mata Naga
Episode 10


__ADS_3

hujan begitu lebat diluar istana, terlihat putra mahkota sedang duduk melihat keluar jendela sambil memegangi liontin cantik berbentuk hati. terlihat jelas di dalam matanya ada sebuah kesedihan yang tak bisa ia ugkapkan.


"Arthur, kenapa kau tak keluar kamar belajar sama ayah di luar?"


suara nan lembut itu membuyarkan lamunannya, sontak dia menyuguhkan senyuman termanis kepada perempuan yang dia panggil ibu itu.


"ah... belajar sangat membosankan bu, aku ingin menikmati rintik hujan dari sini"


matanya mulai berkaca kaca menurutnya menjadi seorang putra mahkota adalah hal yang paling membosankan, belajar setiap hari, harus menjaga sikap setiap waktu, dan ia slalu merasa tertekan dengan semua hal di dalam istana.


"bu.. aku punya permintaan, maukah ibu mengabulkannya?"

__ADS_1


raut wajahnya terlihat memelas, ibu mana yang sanggup melihat anaknya bersedih hati setiap hari?


"untuk pangeran kecilku yang sangat aku sayangi, selagi aku bisa pasti akan kukabulkan"


senyumnya sangat menengkan hati, perlakuan yang hangat, dan tutur kata yang lembut membuat Arthur tidak bisa jauh dari ibunya,


"ayo sebutkan permintaanmu"


"aku hanya ingin kebebasan bu, aku ingin punya teman, sudah 17 tahun aku kesepian"


ibunya menahan tangis mendngar ucapan Arthur, hal yang juga ia rasakan sedari dulu, tapi ini adalah takdir yang tak bisa dicegah, kehidupan layaknya burung didalam sangkar ini bukan pilihan, permaisuri menundukkan kepalanya menggeleng pelan penuh ketidak percayaan.

__ADS_1


"maafkan aku putraku, sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, kau boleh saja keluar istana hanya untuk berjalan-jalan, tapi harus ada seseorang yg memgawalmu, kau boleh saja memiliki apapun yang kau inginkan tapi tidak dengan kebebasan!"


raut muka yang begitu khawatir, karena permaisuri takut menyinggung hati putranya, dia tak ingin memperburuk suasana hati Arthur yang sedang kalut, namun jika tak diberi penjelasan seperti itu, ia takut semua harapan yang dipendam Arthur hanya akan berujung kecewa.


"baiklah bu, aku tidak menuntut lebih! jika ibuku saja tak bisa merasakan kebebasan apalagi aku yang tak mempunyai kuasa apapun"


Arthur tersenyum kecut, ia kecewa karena tak bisa menghirup segarnya udara di lapangan, bagaimana asyiknya berkuda di hamparan rumput yang luas, bersenda gurau dengan teman sebayanya, makan makanan di pinggir pinggir jalan yang menggoda sekali aromanya, bahkan diluar sana rakyatnya pun tidak pernah tau bagaimana rupa sang putra mahkota yang akan menjadi penerus raja Charlotte, mereka hanya tau kalau ada seorang putra mahkota di dalam istana yang selalu tersenyum dengan mata yang slalu basah, tanpa pernah tau bagaimana rupa dan bentuknya, hitam atau pirangkah rambutnya


rupawan atau buruk penampilannya semua itu, Arthur merasa ada tapi tak pernah di anggap.


"sudahlah bu, jangan terlalu dipikirkan! aku tak apa, mungkin pikiran ini hanya datang dikala aku bosan saja"

__ADS_1


Arthur tersenyum dan memeluk erat tubuh ibunya, sebenarnya banyak sekali sesuatu yang ia pendam sendiri, ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, namun ia masih menunggu waktu yang tepat, dia sadar banyak sekali rubah licik di dekat istana yang akan memanfaatkan keadaannya jika dia terus menerus berada dalam kesedihan, dia mencoba bangkit dari keterpurukan diamana dia harus siap menjadi korban, demi ayah ibu dan rakyat yang disayanginya dia harus rela berpura pura menjadi rubah licik di suatu hari.


__ADS_2