
asap mengepul dari tungku api, hawa dingin pun mulai merasuk ke tulang
bau harum makanan mulai tercium dari meja makan, kehangatan sebuah keluarga terlihat begitu menenangkan walaupun bukan keluarga terpandang tetapi keluarga ini terlihat sangat bahagia
"Eriic kembalikan sapu tangan milikku"
Eric terlihat sedang menggoda kakaknya, dia mengambil sapu tangan makan milik kakaknya
"ibu lihat kakak ini, aku meminjam sapu tangannya saja tidak boleh, punyaku kotor aku tidak mau memakainya" begitulah Eric dia tidak mau makan jika sapu tangannya terlihat ada noda walaupun sedikit, entah bagaimana dia bisa mendapat kebiasaan seperti itu
"sudahlah Ethan, cepat makan nanti makananmu keburu dingin" begitulah pelayan itu, dia adalah ibu yg tidak terlalu suka mengomel, dia hanya akan menenangkan kedua anaknya supaya tidak bertengkar
"buu, malam ini aku boleh keluar sebentar tidak?" Eric bertanya sambil memegang rok ibunya dan memasang wajah memelas
"jangan bilang kau akan bertemu dg anak jendral?" ibunya berkata sambil membersihkan meja makan tanpa melihat ke arah Eric,
Eric terdiam, dia tahu kalau ibunya tidak akan pernah mengijinkannya untuk bertemu dg Amber, setelah kejadian itu dia sangat membenci jendral dan melarang Eric dan Ethan berteman dg Amber
__ADS_1
"buu sebentar saja, boleh yaa" sebenarnya ibunya tak akan tega jika melihat Eric memohon seperti itu, tapi dia lebih tidak tega lagi jikalau melihat anaknya di cambuki di depan umum,
"Eric, dengarkan ibu, jangan pergi menemui gadis itu lagi" ibunya memegang tangan Eric dan mengusap lembut kepalanya, dia terlihat sangat khawatir.
dia mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika semua orang berbondong bondong untuk pergi ke balai eksekusi.
"ah sudahlah Eric, jangan lagi membuat ibu sedih" dia mengusap usap punggung Eric
disingkapnya kemeja putih yg sudah lusuh itu, terlihat sangat jelas bekas goresan luka yang menghitam di punggung anaknya, matanya mulai terasa panas mengingat kejadian itu, tak terasa air matanya bercucuran dia menangis tersedu sedu sambil memeluk Eric, dalam hati dia memaki dirinya sendiri
"sudahlah bu, jangan mengingat luka itu, luka ku sudah sembuh, jangan menangis lagi"
di balik pintu juga ada yg sedang menyeka air matanya, iya itu adalah Ethan.
"ini semua salahku, andai saja waktu itu aku tidak mengikuti kepala pelayan itu, mungkin Eric tidak akan terluka" dia berguman dalam hatinya, rasa bersalah itu selalu menghantuinya, dia selalu ingin melindungi Eric, namun apa yang dia lakukan malah sebaliknya
"Eric, aku akan melakukan apapun untuk melindungimu, tidak akan kubiarkan seorangpun melukaimu lagi" dia berjanji pada dirinya sendiri, bagi Ethan Eric adalah separuh hidupnya.
__ADS_1
di sisi lain, terlihat seorang gadis tengah duduk di kesunyian malam, memainkan sebuah buku di tangannya, sesekali dia mendongakkan kepalanya untuk melihat bintang yang bertaburan di langit, melihat menara yang menjulang tinggi, suara desiran angin malam membuat dia terhanyut dalam kedinginan
desir angin malam menemaniku
*dikala aku sedang menunggumu
hawa dingin seakan menusuk kalbu
hai bintangku kemanakah kamu?
kesunyian malam memecah rinduku
membuat rasa sepi menyeruak dalam hatiku
ingin rasanya pergi jauh dan tak pernah bertemu
karena rasa ini seakan membunuku*
__ADS_1
untaian kalimatan itu menggambarkan isi hatinya saat ini, seakan penantiannya tak dihargai, "Eric kemana kamu?"