
suara denting jarum jam terdengar begitu pelan, waktu terus berjalan maju tanpa peduli siapapun
ini sudah hari ke empat, dimana semua peserta sayembara masih berada diluar sana dan belum ada yang berhasil membawa pulang kepingan sisik naga hungarian, begitupun dengan Eric
"sedang memikirkan apa? kelihatannya begitu cemas"
tuan putri Emelly menghampiri Amber yang sedang duduk disamping jendea memandang ke arah luar,
"hormat hamba tuan putri"
Amber memberi hormat seraya membungkuk dan menyilangkan kakinya
"kau terlihat begitu cemas, memangnya sedang memikirkan apa?
tuan puti Emelly mengulang pertanyaannya
"ah.. tidak ada yang saya pikirkan tuan putri, saya hanya sedang melamun"
ucap Amber sambil memalingkan wajah ke arah jendela
"aku telah memeriksa urinmu, sekarang didalam darahmu sudah positif mengandung sihir pengundang mahluk mitologi, aku masih belum bisa memastikan sihir itu di taruh melalui media apa sebelum dijadikan minuman tapi yang pasti itu bukanlah dari bahan makanan"
__ADS_1
tuan putri Emelly memberi tahu Amber, bahwa ada sihir yang telah bersarang didalam tubuhnya, di jaman ini memang banyak sekali penguasa ilmu sihir yang berkeliaran, tidak sedikit di antara mereka yang ragu ragu mempraktikkan ilmu sihirnya
"kau tidak perlu takut, selama mahluk mahluk mitologi itu tidak berada di sini aku jamin hidupmu masih tetaplah aman"
lanjut tuan putri Emelly
"hamba tidak takut sama sekali tuan putri, jika memang itu membahayakan nyawa hamba, hamba tidak pernah khawatir"
Ambet berkata dengan mata sayu dan sendu, pandangannya terlihat tak memiliki tujuan
"kenapa kau berbicara seperti itu? apa kau sudah bosan hidup?"
tuan putri Emelly memelototi Amber, sedangkan Amber masih menatap jendela disampingnya
Amber berkata dengan suara lirih nyaris tak terdengar
"aaiiiaahh, daripada aku mendengar perkataan orang yang putus asa dengan hidupnya sendiri, lebih baik kau ikut aku untuk memeriksa permaisuri, ayahanda tidak mengijinkanku memeriksa permaisuri sebelum seseorang dapat membawakan kepingan sisik naga itu, konyol sekali bukan?"
tuan putri Emelly sedikit kesal dengan peraturan yang raja charlotte berikan, namun dengan bersi keras dia menerobos pintu kamar permaisuri
"tuan putri, pelan pelan jangan sampai membuat keributan disini"
__ADS_1
Amber berbisik mengingantkan tuannya
"aku sudah tidak sabar ingin menemukan dalang dibaik semua ini"
Emelly menggretakkan giginya, mengatupkan kedua bibirnya yang tipis itu secara serentak
"siapa yang mengijinkanmu masuk kesini?"
raja Charlotte menghentikan langkah Emelly, namun Emelly tidak menggubrisnya, dia menarik Amber untuk ikut masuk kedalam ruangan yang pengap itu
"ibuuu.. siapa yang berani berbuat seperti ini pada ibuku?"
Emelly duduk bersimpuh disamping ranjang permaisuri, di ikuti oleh Amber yang juga berlutut dibelakangnya, tangisnya pecah melihat permaisuri terbaring lemah tak berdaya,
terlihat penasihat kerajaan berdiri tertunduk disamping raja Charlotte melihat Emelly menangis tersedu sedu
"kenapa dokter di istana ini begitu bodoh? kenapa? ibuku sudah hampir mati kenapa tidak ada yang meberikannya obat?"
Emelly berteriak kepada dokter kerajaan yang berdiri berjajar di depan pintu masuk,
segera ia mengusap air matanya
__ADS_1
"Amber, siapkan pisau bedih berukuran kecil, baskom dan handuk hangat, aku akan memeriksanya sendiri, tanpa bantuan siapapun"
Emelly menyuruh Amber untuk menyiapkan peralatan untuk mencari tau apa penyebab ibunya menjadi seperti itu.