Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Kamu Cantik


__ADS_3

Setelah akad diikrarkan pertanda sahnya pernikahan, Levi pun keluar kamar menuruni tangga di apit oleh bunda Rosa (ibu Levi) dan nyonya Andreas. Levi sempat membisikkan sesuatu ditelinga nyonya Andreas yang sontak membuatnya langsung menatap kearah di mana mata anaknya Zio memandang. Lastra, sepanjang prosesi pernikahan yang digelar sederhana itu mata Zio tidak lepas hanya memandangi Lastra. Akhirnya nyonya Andreas pun menyimpulkan sesuatu bahwa anaknya Zio sedang menaruh perasaan terhadap sekretaris yang sudah menemaninya selama ini.


Setelah serangkai prosesi digelar nyonya Andreas langsung menghampiri Lastra yang saat ini sedang bingung memilih makanan yang akan disantapnya.


“emang kenyang ya kalau cuma diliatin begitu?”


“ehh nyonya besar, silakan nyonya duluan aja, saya masih bingung mau makan yang mana. Mau makan


semuanya sih tapi saya malu dilihat orang” ujar Lastra sambil cekikikan tanpa malu-malu.


“ya ampun Last, beneran kamu mau semua, kalau mau nanti saya minta bungkusin sama pelayan, kamu


bawa pulang aja”


“eh beneran nyonya, saya jadi enak banget kalau begini, maklum nyonya anak kos, gak bisa lihat makanan enak dikit”


“iya ya udah ayo kamu ambil yang mana aja, temanin saya makan di sana” sambil menunjuk sebuah meja yang sudah tertata rapi dengan kursi disekelilingnya.


“Siap nyonya!”


**


“kamu kapan rencana nikah Last?” sontak pertanyaan nyonya Andreas membuat Lastra yang sedang mengunyah makananya tersedak seketika,


“ayo ini diminum dulu Last” bunda Rosa langsung menyodorkan minuman dan mengusap punggung Lastra. “gimana udah enakan?” tanya bunda Rosa

__ADS_1


“iya bun,terima kasih” Lastra berusaha tenang, tidak biasanya ia merasa tertohok saat ditanya kapan nikah. Mungkin ini hanya terbawa perasaan saja karena saat ini ia sedang berada di pernikaha Levi, entah mengapa pernikahan yang ia hadiri saat ini begitu mengusik relung hatinya. Tidak ada pesta meriah memang malah terkesan


sederhana akan tetapi justru itu yang membuat Lastra merasakan keintiman dalam suasananya.


“saya gak pernah berpikir untuk menikah, membayangkannya saja saya tidak pernah” Lastra menghela nafas berat tatapanya sayu lurus memandang ke depan.


“Lho kok gitu Last, memang kamu gak mau ngerasain nikah?” tanya bunda Rosa


“iya ih, Levi aja udah nikah, pacar kamu kan banyak Last? Goda nyonya Andreas menimpali.


“saya lagi jomblo nyonya” sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “lagian ya nyonya, bunda… bahagia itu bisa kapan aja, gak nunggu harus nikah baru bahagia kan. Buktinya saya gak nikah tapi saya bahagia lho” Lastra mencoba menjawab secara diplomatis.


“Lastra lagi patah hati sepertinya mbak, coba aja nanti kalau jatuh cinta punya pacar lagi pasti deh pengen buru-buru di lamar” nyonya Andreas pun tertawa mendengar ocehan bunda Rosa dan mereka pun melewati waktu dengan bergosip mengenai hal-hal unfaedah lainya.


**


“kenapa buru-buru sih mbak?” Levi melepas pelukan dengan tidak ikhlas


“maaf ya cantik, aku ngantuk banget, selamat ya atas pernikahannya, moga langgeng cepet-cepet kasih ponakan yang lucu ya” ucap Lastra jujur sambil mencubit pipi Levi dengan gemas


“eh bikin sendiri aja kenapa Last, kita mau pacarana dulu, iya gak yank” Hans menimpali sambil merangkul istrinya dan disambut gelak tawa keluarga. Lastrapun hanya mencebik mendengar ucapan Hans.


“pulang sama siapa Last?”


“sama abang ojol bund, Lastra pamit ya, makasih bungkusanya” Lastra tersenyum manis

__ADS_1


Nyonya Andreas yang mendengarnya langsung menyela


“Last, diantar Zio aja ya, Zio tolong antar Lastra pulang ya” raut wajah Lastra berubah datar seketika mendengar kalimat nyonya Andreas meminta Zio untuk mengantarkan pulang


“Eh gak usah nyonya, saya sudah pesen ojol, ni abangnya sudah di depan” sambil memperlihatkan ponsel


yang digenggamnya sekilas kepada nyonya Andreas.


Zio dengan wajah datarnya tersenyum tipis melihat Lastra dan langsung berdiri tanpa kata meninggalkan ruang keluarga dimana Lastra masih berpamitan dengan keluarga Hans.


Tak lama kemudian Zio kembali ke dalam ruangan. “Ayo Last saya antar, ojolmu sudah saya cancel barusan” Lastra hanya bengong mendengarnya dan nyonya Andreas menepuk bahunya pelan dan menyadarkannya. “ayo Last buruan”.


Zio tidak langsung mengemudikan mobilnya saat Lastra sudah duduk dan memasang sabuk pengamannya.


Ia hanya memandang Lastra lekat-lekat dan hal itu membuat Lastra salah tingkah.


“pak Zio kenapa liatin saya gitu?”


“kamu cantik” seketika wajah Lastra merona dan Zio dengan cueknya langsung menginjak pedal


gas dan melajukan mobilnya untuk mengantar Lastra ke apartemennya tanpa mau tau


bahwa ucapannya barusan membuat jantung Lastra berdetak begitu cepatnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2