
“Pak Zio gak perlu antar saya, cukup sampai sini aja.” Emosi yang sedari tadi di tahan kini mulai Lastra lampiaskan. “Pak Zio bisa langsung pulang deh, gak usah pake sok nganter sampek atas segala.” Ia menghentakkan kakinya dengan keras karena tidak diacuhkan oleh Zio yang malah masuk ke dalam lift saat pintunya terbuka dengan sempurna, Lastra pun beringsut masuk.
“Pak Zio!”
“Hmmm”
“Pak Zio denger gak sih saya ngomong apa dari tadi?” Tangan Lastra mulai bersedekap memutar badannya menghadap Zio. “Maaf ya pak, sepertinya ada yang harus kita akhiri dari semua ini?” Menghela nafas kasar dari mulutnya. “Hubungan kita seharusnya gak seperti ini! Saya mau kita kembali seperti kita pertama kali memulainya”
Ting
Pintu lift terbuka, Zio melangkahkan kakinya keluar lift meninggalkan Lastra yang masih belum berhenti dengan ocehannya.
Pengen rasanya mulut ini mengumpat di depannya, tapi kalau dipecat bagaimana
“Buka!” Zio yang sudah berada di depan pintu apartemen bernomor 390 meminta Lastra untuk memasukkan passcode pintu apartemenya
Lastra yang mendengarnya hanya berdecak kesal dan memasukkan passcode pintunya, ia sudah tidak
memperdulikan apakah Zio melihat angkanya atau tidak. Ia hanya ingin masuk ke dalam lalu memasukkan kepalanya ke ember yang berisi air es guna mendinginkan otaknya.
Lastra langsung menghempaskan tubuhnya di sofabed di apartemenya, melipat tangannya di depan dadanya dengan kesal. Zio yang sedari tadi mengikutinya juga langsung mendudukkan dirinya di samping Lastra lagi-lagi dengan wajah tanpa dosa.
“Last .…”
Oh Tuhan, terima kasih akhirnya orang ini bersuara juga
Lastra memutar tubuhnya menghadap Zio menaikkan kedua kakinya untuk bersila lalu mengerang
__ADS_1
dengan frustasi.
“Kamu sudah ngomelnya?” Tanyanya santai dengan memberikan senyum yang mampu menggetarkan iman Lastra, kalau saja ia tidak ingat kalau yang dihadapannya sekarang ini adalah bosnya … maka … ahh lupakan … bisa-bisa jadi pengangguran nanti.
“Kenapa Pak Zio tadi gak ngebela saya di depan Nyonya besar?” Sungutnya kesal
“Biar impas”
“Maksudnya?”
“Mami sudah introgasi saya duluan dengan hal yang sama, dan tanpa kamu bela saya bisa lewati itu semua.” Tutur Zio
“Hah?!” Lastra membuka mulutnya sejenak lalu menutupnya kembali. Baru saja Lastra ingin melanjutnya protesnya Zio membuka mulutnya.
“Dan, apa yang mau kamu akhiri? Hubungan apa yang harus di akhiri? Kita bahkan belum memulai hubungan apapun … Ahhh apa maksudnya kamu mau berhenti jadi sekretaris saya?” Seru Zio berniat menjahili Lastra.
Zio saja!” Lastra berdiri melangkahkan kakinya menuju balkon, ia memutar kunci dan membuka pintu meninggalkan Zio di ruang tamu seorang diri.
Lastra membuka sweater yang sudah di pakainya sedari tadi dan hanya menyisakan kaos crop top tanpa lengan berwarna abu tua memperlihatkan perutnya yang rata. Ia membuka ikatan rambutnya dan membiarkannya rambut hitam bergelombang dengan panjang sepunggung itu tergerai begitu saja. Ia memegang pagar balkon dihadapannya
dengan kedua tangannya memejamkan mata menghirup dalam-dalam oksigen yang ada di sekelilingnya lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan melewati mulutnya.
Mencoba menjernihkan pikiran menangkan hatinya.
Tanpa Lastra sadari Zio sedari sudah berada di sampingnya bersandar pada pagar balkon memandang Lastra penuh arti.
“Last .…” Tegur Zio yang membuyarkan konsentrasi Lastra “Aku bisa lihat kalau tubuhmu sangat indah
__ADS_1
untuk dipandang, tapi apa harus kamu pamerkan seperti ini?” Mengarahkan telunjuknya antara leher dan pinggang Lastra.
Tak berniat untuk menjawab, Lastra hanya mengendikkan bahunya dan kembali menutup matanya mengulang apa yang telah dilakukannya tadi.
Menyadari hal tersebut, Zio mengambil sweater yang berada dikursi, membuka lubang lehernya lebar-lebar lalu memasukkannya ke kepala Lastra.
Seketika Lastra langsung berbalik ingin mengumpat namun wajahnya yang kini berada tepat di depan leher Zio tiba-tiba membeku.
Zio menundukkan sedikit kepalanya “Pakai sweater kamu, atau masuk ke dalam” Bisik Zio tepat di telinga Lastra.
Lastra mendorong kasar tubuh Zio, ia masuk ke dalam meloloskan sweater dari kepalanya dan melemparnya dengan kasar ke sofabed lalu mendudukinya.
Terdengar suara Zio yang berbicara dengan seseorang di balik ponselnya seraya berjalan menghampiri Lastra.
“Iya, sebentar lagi pulang.” Ujarnya lalu memutus percakapanya pada ponselnya, menempatkan dirinya di sebelah Lastra.
“Sebaiknya Pak Zio jangan mencampuri urusan yang bukan ranah Bapak.” Lastra berbicara tanpa mau menatap wajah Zio sama sekali. “Saya harap (menghela nafas) hubungan kita kembali layaknya bos dan sekretarisnya, professional, hanya ada urusan kantor tidak lebih!” Lanjutnya
“Ada lagi yang mau kamu sampaikan?” Ucap Zio dengan ekspresi tidak terbaca dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Lastra tanpa mau menoleh ke arahnya.
“Oke, saya balik dulu ada tamu di rumah.” Zio mencondongkan tubuhnya ke Lastra
Cup
Satu kecupan sukses mendarat singkat di pipi Lastra, Zio berdiri dan pergi meninggalkan Lastra yang masih mematung dengan rasa hampa dan sesak yang tiba-tiba menghinggapinya. Ia tak menginginkan hal ini, ia tak menginginkan rasa ini bahkan ia sudah mengunci hatinya dalam-dalam akan perasaan seperti ini. Percayalah rasa ini hanya akan membuatmu sakit teramat sangat –Lastra--.
__ADS_1