
Pagi ini Lastra berangkat ke kantor dengan gusar, hatinya gelisah tidak berbentuk. Di pikiranya masih terngiang-ngiang kejadian sabtu malam yang dialami dengan bosnya. Zio sampai mengantarkannya tepat di depan pintu kamar apartemen yang ditempatiya, memastikan ia masuk dan mengunci pintu baru bosnya itu pergi.
Begitu mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya ia dikejutkan dengan sapaan dari seorang wanita.
“selamat pagi mbak Lastra”
Lastra yang ditegur tidak menjawab tapi ia malah memandang selidik wanita tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut. Wanita yang memakai kemeja lengan pendek berwarna navy blue dan celana bahan hitam itu terlihat cantik dan tentunya lebih muda darinya.
“kalian berdua ikut saya” Zio tiba-tiba datang memecah keheningan
“Astaga! apa wanita ini yang akan gantiin aku” perasaan Lastra mulai tidak enak mengingat
kejadian kemarin.
Sesampainya di ruangan Zio mereka berdua dipersilahkan duduk di sofa, wanita cantik tadi tidak lepas memasang senyum manis di wajahnya. Zio pun langsung duduk berhadapan dengan keduanya.
“Las, kenalkan ini…” belum sempat Zio menyelesaikan kalimatnya Lastra langsung maju tiba-tiba memegang lengan Zio dan duduk dengan lututnya sebagai tumpuan di samping bosnya.
“Pak… pak Zio beneran mau mecat saya? Saya kan sudah bilang saya gak akan pake baju kurang bahan
seperti malam itu lagi. Ternyata bapak sudah nyiapin pengganti saya pagi ini, pak Zio bohong sama saya, pak Zio tega…”
“mbak…” wanita itu hendak menyela untuk menjelaskan hal yang terjadi tapi Zio memberi kode jangan
dengan menggelengkan pelan kepalanya.
“tiga tahun lebih saya jadi sekretaris pak Zio, saya jarang buat kesalahan, saya juga jarang sekali sakit jarang izin juga. Saya juga gak pernah nolak kalau disuruh lembur. Saya…saya…” Lastra tak sanggup meneruskan kata-katanya lagi karena suaranya sudah tercekat dan terganti dengan isak tangis yang tertahan dimulutnya.
__ADS_1
“Las, duduk dulu biar…”
“Pak Zio bahkan tidak mendengarkan omongan saya, hiks..” lagi-lagi Lastra memotong ucapan bosnya
“kamu keluar dulu gih” Zio meminta wanita tadi untuk keluar terlebih dahulu
Setelah pintu tertutup, Zio mengajak Lastra yang masih sesegukan untuk pindah duduk di sofa
panjang dan merekapun duduk berdampingan.
“air mata buayanya di lap dulu nih” sambil meletakkan tisu dipangkuan Lastra
Lastra mengangkat wajahnya yang dari tadi hanya tertunduk, ia menatap tajam kesal, tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan Zio.
“air mata saya bukan buaya, lagian yang buaya itu pak Zio. Bapak seharusnya ingat kalau selama ini saya juga yang sudah nolongin bapak untuk menghindari wanita-wanita yang lalu lalang nyariin bapak. Kenyang saya dicaci dihina dikata-katain sama pacar-pacar pak Zio, ikhlas saya pak ikhlas! Hiks”
Lastra sontak menjauhkan dirinya karena tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dan wajahnya langsung bersemu merah dengan perlakuan bosnya tersebut.
Zio yang melihat perubahan wajah Lastra tersenyum dan merasa ada sesuatu yang aneh tiba-tiba muncul di hatinya.
“sudah nangisnya? Kamu gak ingat jumat sore saya ngomong apa sama kamu?”
Lastra menggeleng
“Las… Las… waktu itu saya bilang senin pagi akan ada anak magang namanya Levi yang sementara bantuin kamu karena Diki lagi cuti nikah, makanya kalau bosmu lagi ngomong itu didengar, telingamu ini dipake” sambil menjewer telinga Lastra
“aauuww… sakiiit pak!” sambil mengusap telinganya yang memerah karena di tarik Zio.
__ADS_1
“astagaaa!! Bodoh bodoh” Lastra membelalakan matanya, sekali lagi ia merutuki dirinya, dia baru mengingat apa yang di katakan bosnya sesaat sebelum Zio meninggalkan kantor jumat lalu. Yaa Lastra lupa karena saat itu ia sedang menerima panggilan dari sebuah perusahaan untuk membuat janji meeting.
“sudah ingat?”
Lastra menunduk malu menyembunyikan wajahnya agar tidak dilihat bosnya itu.
“bersihkan ingusmu sebelum keluar dari sini” Zio pun berdiri dan berlalu menuju meja kerjanya. Lastra dengan polosnya membersihkan hidungnya yang masih meler karena menangis.
Srott srott,,. Entah sudah habis berapa tisu yang ia pakai dan ia hanya menaruhnya di meja tanpa merasa bersalah.
“Ya ampun Lastraa, kamu itu jorok banget tau gak, pergi sana cuci muka mu di kamar mandi!!”
Tanpa berkata-kata Lastra pun berdiri hendak berjalan keluar ruangan.
“Las! Mau kemana kamu?!”
“katanya disuruh cuci muka di kamar mandi” menjawab kesal sambil cemberut
“itu pakai kamar mandi saya, nanti kalau ada yang lihat kamu habis nangis dikira kamu habis saya
apa-apain lagi!”
“kan nyatanya emang gitu, pak Zio habis ngapa-ngapain saya sampai saya nangis!” langsung berlalu masuk kamar mandi di ruangan Zio dan menguncinya dari dalam.
Zio yang mendengar jawaban Lastra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1