
Zio yang hendak masuk ke dalam mobil, diam terpaku karena melihat sesosok pria yang ia kenal sedang
mondar mandir sambil menelepon di samping pos security di luar gedung perusahaanya. Pria itu terkesan sedang berdebat dengan seseorang yang sedang diteleponya. Pria tersebut mematikan teleponnya dan tak lama kemudian Lastra keluar menghampiri pria tersebut.
Zio akhirnya masuk kedalam mobilnya duduk di bangku penumpang.
“jalan pak” pak Edi selaku supir pribadi Zio pun bergegas melajukan mobil berjalan dan melewati pos security, tapi tiba-tiba Zio menyuruh supirnya untuk berhenti.
“tolong panggil Lastra pak” pak Edi pun mengangguk dan segera keluar menghampiri Lastra yang memang
sudah ia lihat saat melewati pos security.
Lastra yang melihat pak Edi jalan dengan terburu-buru menghampirinya pun segera bertanya karena ia merasa pasti ada hubungannya dengan bosnya itu. Ia pun menghentikan perdebatanya dengan Adit sebentar
“ada apa pak Ed?”
“itu mbak… dipanggil pak Zio”
“lah pak Zionya mana?” Lastra yang mengernyitkan keningnya menoleh ke sembarang arah dan tetap
__ADS_1
tidak melihan dimana keberadaan Zio.
“ikut saya mbak” pak Edi pun langsung pergi dan Lastra buru-buru mengikuti dibelakangnya.
“dah ya Dit, aku mau pergi, bye” Adit hanya menatap kesal dengan kepergian Lastra dan berbalik menuju mobilnya masih berharap agar Lastra mau kembali kepadanya apapun caranya.
Pak Edi segera membuka pintu belakang dan mempersilahkan Lastra untuk masuk lalu segera berjalan masuk duduk dikursi kemudi . Lastra yang ragu lalu menunduk menengok kedalam mobil.
“Bos manggil saya” tanya Lastra
“masuk!” berbicara tanpa menengok Lastra sedikitpun. Setelah Lastra masuk dan menutup pintu mobil, Zio memerintahkan pak Edi untuk segera melajukan mobilnya.
“ni orang maunya apa sih, ditanya gak dijawab, ditoleh juga gak, terus ini mobil juga mau kemana sih?” batin Latra bertanya-tanya
“pak Ed, kita mau kemana?” karena putus asa dengan Zio yang sedari tadi tak bersuara Lastra bertanya ke supir pribadinya. Bukannya jawaban dari pak Edi yang Lastra dapatkan tapi malah justru ia yang diberi pertanyaan oleh Zio.
“ngapain pengecut itu datangin kamu?” Zio bertanya sambil memejamkan matanya dan menegadahkan kepalanya bersender pada kursi mobil.
“pengecut? Ehh…nama dia Adit pak? Lastra menjelaskan.
__ADS_1
“ngapain?!” Zio agak meninggikan nada suaranya
Seketika nyali Lastra menciut, “mau jemput saya pak”
Jawaban Lastra tidak ditanggapi sama sekali oleh bosnya itu, ia hanya mendengar Zio menghela nafas dengan kasar dan tetap pada posisi menutup matanya setelah mendengar jawabannya. Sepanjang perjalanan benak Lastra dipenuhi banyak pertanyaan yang ia sendiri belum mampu menjawabnya. Daripada menunggu Zio yang sedari tadi
hanya memejamkan matanya lebih baik Lastra menikmati pemandangan disepanjang perjalananya dari jendela. Semakin lama perjalanan sepertinya ia semakin tau mobil yang ia kendarai ini sedang menuju kemana. Benar dugaannya kalau dia saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah bosnya, rumah Tuan dan Nyonya Andreas.
“Sudah sampai pak” pak Edi berbicara dengan Zio setelah mobil yang ia kemudikan berhenti di depan pintu rumah.
Zio yang mendengarnya langsung mengucapkan terima kasih dan seketika langsung keluar membanting pintu mobil dengan kerasnya. Berjalan cepat menuju rumah dan menghilang dibalik pintu. Lastra tersentak kaget dan hanya memandangi bosnya itu dari dalam mobil.
“Gak mau keluar mbak” pak Edi tiba-tiba mengagetkan Lastra karena ia ternyata sudah membukakan pintu mobil sedari tadi menunggu Lastra keluar.
“ehh iya pak, maaf, terima kasih” pak Edi pun berlalu meninggalkan Lastra setelah ia menutup pintu
mobil.
__ADS_1