
Lastra berangkat pagi-pagi sekali menuju kantor, ia menepati omongannya untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya hari ini di meja kerja Zio serta manajer HRD. Katakanlah ia gila, semalam ia telah mencium seseorang demi memuaskan rasa sakit hatinya, tapi saat itu ia memang tidak mempedulikan lagi apapun yang terjadi padanya. Ia
hanya berniat membalas Zio, dan entah hal tersebut berhasil atau tidak, dia sudah tidak mempedulikannya.
“Last, bos kamu itu kemana sih? Sampe jam segini belum datang juga, dihubungi juga gak bisa” Ucap Diki yang sedari tadi mondar mandir di hadapan Lastra dan Levi “tumbenan kayak gini, kacau jadwal kalau gini harus di atur ulang” Lanjutnya kesal.
“Bos kamu juga kali mas.” Jawab Lastra cuek. “Nyonya besar gak ada ngomong apa-apa Lev?”
“Gak ada mbak, misal sakit juga pasti aku tau lah, mami pasti dah rempong aja telpon bunda.” Ucap Levi sedikit khawatir.“ Apa aku telpon mami aja ya mas Diki?” Lanjutnya meminta persetujuan.
“Gak usah Lev, nanti yang ada tambah ribet.” Terang Diki, lalu ketiganya melanjutkan pekerjaanya masing-masing.
Zio datang ke kantor menjelang makan siang, ia pun datang tidak sendirian. Ada Irene bersamanya lagi-lagi wanita itu menggandeng tanggan Zio layaknya sepasang kekasih. Ia melewati ketiga karyawan yang sedang berkonsentrasi dengan pekerjaan masing-masing.
Diki yang melihatnya buru-buru mengikuti Zio masuk ke dalam ruangannya. Agak lama ia di dalam karena harus mengatur ulang jadwal kerja yang sudah disusunnya.
__ADS_1
“Kak Irene…?” Gumam Levi pelan tapi masih bisa terdengar oleh Lastra.
“Kamu kenal Lev?” Tanya Lastra tiba-tiba terpancing.
Levi mengangguk. “Kak Irene, dia mantan Bang Zio waktu SMA, dulu putus karena kak Irene lanjutin kuliah di luar negeri, ya gitu lah Mbak”
Sudah cukup sampa disitu saja, Lastra tidak berminat untuk mengetahui lebih lanjut. Ia sudah memutuskan
tidak melanjutkan drama absurd antara Zio dengannya.
keluar disusul oleh Diki serta Irene dibelakangnya. Ia lalu berhenti tepat di depan meja Lastra.
Zio meletakkan sebuah amplop -surat pengunduran diri- di meja Lastra tepat dihadapannya.”Sudah saya setujui, kamu bisa mulai mengajari Levi mengenai kerjaan disini dan kamu baru boleh pergi setelah kamu dapatkan penggantimu” Zio berujar datar dan professional.
Lastra berdiri dan menunduk dengan sopan. “Baik Pak, terima kasih atas perhatiannya selama ini.” Ucapnya dengan sopan tanpa melihat wajah Zio yang ada di depannya.
__ADS_1
Zio lalu meninggalkan ruangan dengan hati yang kacau melihat Lastra yang sama sekali tidak mau menatapnya, terlebih Lastra benar-benar membuktikan ucapannya untuk resign dari perusahaanya.
Levi dan Diki saling berpandangan terkejut mendengar bahwa Lastra telah mengajukan surat pengunduran diri terlebih hal tersebut disetujui oleh Zio begitu saja. Mereka berdua pun langsung sibuk mengintrogasi Lastra mengenai sebab musabab ia memutuskan resign dari Andreas Corp.
“Aku mau fokus buat S2 mas Dik, Lev.” Kilah Lastra menjelaskan alasannya.“Aku gak mau keteteran
kayak kemarin, kuliah dibarengi kerja, hampir jadi mahasiswa abadi kan akunya.” Kekehnya menyembunyikan rasa sakit dihatinya.
“Ahh sayang banget lho Last padahal, aku udah nyaman sama kamu—”
Lastra melempar penggaris kearah Diki.“Didenger bininya mas Diki bisa kelar hidup aku.” Candanya
“Kalau gitu alasannya, Levi sih dukung aja mbak, yang penting mbak Lastra happy, iya kan mas Dik.” Dibalas anggukan oleh Diki.
__ADS_1