Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Mengantarmu


__ADS_3

Lastra sarapan dengan terburu-buru karena dia ingin meninggalkan kediaman keluarga Andreas sesegera mungkin.


“Duduk! Saya belum selesai sarapan”


Lastra yang hendak berdiri akhirnya beringsut mendudukkan tubuhnya kembali di kursi meja makan dengan mengerucutkan bibirnya.


Tak lama Zio yang sudah menghabiskan makananya langsung berdiri dan meninggalkan Lastra begitu saja di meja makan.


Umpatan demi umpatan dilontarkan Lastra, namun hanya sebatas di dalam hatinya saja.


“Mbak … Sudah taruh aja biar saya yang cuci piringnya.” Ujar Bik Anik yang tiba-tiba muncul entah dari mana


“Ehh … Gak apa Bik, ni juga sudah mau selesai.” Ucap Lastra sambil membilas piring lalu meletakkanya pada tempatnya. “Saya ke depan dulu ya.” Berlalu meninggalkan Bik Anik di dapur seorang diri.


Sesampainya di ruang tengah, Lastra hanya mendapati nyonya Andreas yang sedang membaca majalah


seorang diri.

__ADS_1


“Nyonya … Kalau gak ada lagi yang diperlukan, saya pamit pulang dulu, makasih sarapannya.” Ucap Lastra


“Ayo Last,  saya antar pulang”  Ujar Zio yang tiba-tiba muncul sembari menuruni tangga.


Nyonya Andreas serta Lastra langsung menoleh bersamaan melihat Zio yang saat ini sedang berjalan santai lalu berhenti tepat di sebelah Lastra.


“Mi, aku antar Lastra dulu.” Tanpa menunggu persetujuan dari keduanya Zio melenggang keluar dengan santai sembari menarik pergelangan tangan Lastra.


“Eh … Kok … Pak Zio … Nyonya maaf saya pamit pulang dulu.” Ucap Lastra seraya merunduk sopan dengan tangannya yang masih ditarik oleh Zio.


Nyonya Andreas semakin curiga dibuatnya. Ia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang terjalin di antara mereka berdua melebihi hubungan bos dan sekretarisnya.


Kesal, sebal, sesal, argghh Lastra berteriak dalam hatinya, kenapa harus satu mobil dengan bosnya, menolaknya pun tak bisa. Tak ada satupun kata terlontar dalam perjalanan pulang ke apartemen Lastra, mereka berdua hanya sibuk dengan nalarnya masing-masing, bagaimana bisa hingga sampai di titik sekarang.


Bagaimana hubungan antara bos dan sekretaris bisa jadi sepelik ini hanya kerena sebuah pakaian dalam, maaf apa…? bukan… bukan… ini semua bukan terjadi karena itu. Hal ini sesungguhnya terjadi akibat Zio telah melihat alter ego dari diri Lastra, Ahh yaa satu sisi dari kepribadian Lastra yang berbeda dengan Lastra yang selama ini dikenalnya. Selama ini -sebelum pertemuan di klub malam- hubungan keduanya tidak lebih dari sekedar hubungan professional kerja tidak melebihi dari garis batas yang telah ditentukan.


“Last, sudah sampai, Lastra!”

__ADS_1


Lamunan Lastra menguap seketika saat Zio meletakkan tangannya di bahu Lastra untuk menyadarkannya.


“Eh iya itu sudah sampai ya?” Lastra menjawab dengan kikuk, membuka sabuk pengamannya.


“Ayo.” Ajak Zio sudah membukakan pintu mobil untuknya


Ayo? Ayo kemana maksudnya?


Lastra bergegas keluar “Ayo kemana Pak?” Tanyanya bingung sementara mereka sudah ada di depan gedung apartemen Lastra.


“Ngantar kamu ke atas.” Ujar Zio santai


Lastra hanya bisa melipat dahinya seraya mandang Zio. “Gak usah diantar Pak, biar saya ke atas sendiri.” Tolaknya berlari kecil menyusul Zio yang sudah lebih dahulu masuk dan sudah ada di depan lift.


“Pak Zio!”


“Hmmm”

__ADS_1


“Pak Zio gak perlu antar saya, cukup sampai sini aja.” Emosi yang sedari tadi di tahan kini mulai Lastra lampiaskan. “Pak Zio bisa langsung pulang deh, gak usah pake sok nganter sampek atas segala.


--


__ADS_2