
Ke esokan harinya
“Zio…” tuan Andreas sedikit menunduk berbisik dengan anaknya yang saat ini duduk disebelahnya dalam rapat umum pemegang saham pagi ini “kenapa Levi yang membantu Diki untuk notulennya, kemana Lastra? Papi tidak melihatnya sejak tadi”
Zio terdiam sejenak ia melihat sekeliling dan benar saja tidak ada sosok Lastra di ruangan rapat. Zio sedari pagi memang tidak menginjakkan kaki ke ruangannya, pagi ini ia berangkat bersama ayahnya, karena ada beberapa hal yang harus dibahas mengenai rapat hari ini. Sesampai kantor pun ia langsung menuju ke ruang meeting dengan ayahnya jadi ia tidak tau menahu dan baru menyadari kalau Lastra saat ini tidak ada dijangkauan matanya.
Zio mengambil ponsel di saku jasnya, ia mengirimkan pesan singkat kepada Diki yang berjarak sekitar satu meter dengannya.
ZIO
Dik, mana Lastra!
DIKI
Saya kurang tau Pak, dari pagi memang gak kelihatan. Apa Lastra tidak mengabari Bapak?
ZIO
Kalau dia kabari Saya, ngapain saya tanya kamu!!
cari tau cepat!!
__ADS_1
Zio kembali berkonsentrasi dengan rapat yang saat ini sedang diikutinya. Sedangkan Diki, setelah bertanya kepada Levi yang juga tidak tau menau tentang keberadaan Lastra lalu pamit keluar dan menyerahkan tugasnya kepada Levi sebentar.
Diki berkali-kali menghubungi ponsel Lastra tapi tidak ada yang mengangkat. Ia juga mengirimkan pesan singkat, chat whatsapp, dm Instagram serta mengirim pesan keseluruh sosial media yang Lastra punya, tapi hasilnya nihil, tidak ada satupun yang dibaca bahkan dibuka.
Diki yang merasa usahanya telah maksimal lalu masuk kembali ke ruang rapat dan segera mengirimkan pesan singkat kepada bosnya
DIKI
Ditelpon gak diangkat Pak, sms, chat, dm, inbox semuanya gak ada kabarnya
Zio yang membaca pesan singkat tersebut langsung memberikan tatapan tajam dan menusuk kepada Diki.
ZIO
Diki hanya bisa menganguk pasrah.
Setelah itu Zio tidak bisa menaruh konsentrasi penuhnya pada rapat kali ini, pikirannya menerawang. Ia sudah melonggarkan dasi yang dikenakannya serta melepas jasnya dan membuat peserta rapat heran melihatnya. Padahal dalam rapat kali ini tidak ada hal buruk yang terjadi, semua laporan yang disampaikan dan diskusi yang diutarakan berjalan lancar, karena memang perusahaan sedang berada dalam kemajuan yang pesat dalam kepemimpinan Zio. Tetapi hal itu berbanding terbalik dengan raut wajah serta gestur tubuh Zio yang gelisah.
Meskipun rapat pemegang saham telah selesai, Zio tidak serta merta bisa langsung meninggalkan kantornya begitu saja. Ayahnya masih mengajaknya untuk beramah temeh dengan pemegang saham yang lain. Sampai Diki datang guna menyela perbincangan antar pemegang saham tersebut.
“Permisi, maaf kalau saya menyela.” ucap Diki lalu sedikit merunduk membisikkan sesuatu di telinga Zio.
__ADS_1
Zio lalu berdiri mengancingkan jas yang dikenakannya “Maaf semua, ada urusan yang harus saya handle, saya permisi” lalu menundukkan diri dengan sopan.
“Sudah ada kabar dari Lastra?!” Zio langsung bertanya kepada Diki sesaat setelah keluar dari ruangan Tuan Andreas
“Oh itu belum pak.”
Zio mendengus kesal
Diki berjalan cepat mengikuti langkah kaki bosnya yang terburu-buru, tapi bukannya berjalan menuju ruangannya Zio malah menuju lift.
“Lho Bos, Pak Setiawan sama tim nya sekarang ada di ruangan bapak” ujar Diki
Zio memutar tubuhnya, memegang bahu Diki dengan penuh tekanan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan “Urusan Pak Setiawan saya serahin sama kamu!” Zio memasuki lift yang sudah terbuka di depannya “Dik, jangan hubungi saya, apapun yang terjadi kamu yang handle!” ucapnya sesaat sebelum pintu lift menutup sempurna.
Lagi-lagi Diki hanya bisa menggeram pasrah dengan bosnya tersebut.
---
Me and My Broken Heart update di ****** ... sudah hampir tamat...
Silakan yang mau melipir ke sanaaa...
__ADS_1
Jangan lupa Tap LOVE nya yakk