Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Kurang Bahan


__ADS_3

“Pak Zio!!” gumam Lastra dengan kaget karena melihat raut wajah bosnya yang menahan amarah.


Zio mencengkram dan menarik tangan Lastra untuk ikut bersamanya. Belum ada dua langkah, Adit


pria yang berniat tidak baik tadi ikut menarik lengan Lastra agar tidak dibawa oleh Zio.


Zio yang melihat hal tersebut langsung berbalik dan memberi satu pukulan tepat di wajah Adit dan


seketika darah segar mengalir dari hidungnya.


“Astaga… Dit lo gak papa?! Pak Zio lepasin! Sakit tau gak!!” Lastra yang hanya bisa memandang


pasrah kearah Adit. Sementara tangannya masih juga tidak dilepas oleh Zio.


Sebelum melangkahkan kaki keluar Zio menyempatkan diri untuk pamit dengan ke empat sahabatnya. Lastra sudah pasrah mengikuti kemana Zio menariknya dan sempat menundukkan badan pertanda ia juga ikut pamit mengikuti Zio.


“masuk!” Zio membuka pintu mobil dan menyuruh Lastra untuk masuk


Zio tak langsung menstarter mobilnya, ia hanya duduk dibelakang kemudi menghela nafas untuk menenangkan emosinya. Lastra hanya diam memandang lurus kedepan sambil mengusap tangannya yang sakit karena cengkraman Zio.


Lastra masih bingung bertanya-tanya ada apa dengan bosnya saat ini. Datang tiba-tiba dan tanpa ba bi bu menghajar Adit mantan pacarnya.


“pak… (menghela nafas) pak Zio ini kenapa sih sebenarnya?” akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya atas situasi yang membingungkan menurutnya sangat membingungkan.


Zio menoleh menatap tajam kea rah Lastra, ia melihat setiap inchi lekuk tubuh Lastra dari atas ke bawah dan hal ini jelas membuat Lastra tidak nyaman.


“pak… sampai kapan mau lihatin saya seperti itu? Lagian pak Zio kenapa sih datang-datang langsung main tarik main hajar orang seenaknya gitu, dilaporin polisi baru tau!”


“Adit… mantan kamu?!”


Lastra mengangguk, “kok tau?”


“dia minta balikan tapi kamu tolak?”


“ehh..kok tau lagi pak!” menatap Zio dengan penuh selidik


“minuman kamu tadi dikasih obat perangsang sama dia” Lastra kaget tidak percaya dengan apa yang

__ADS_1


dikatakan bosnya itu.


“terserah mau percaya apa gak, rumahmu dimana, saya antar” Lastra masih bengong antar percaya dan tidak kalau Adit bisa berbuat seperti itu.


“Las, bengong aja, ni rumahmu arahnya kemana?” Lastra tidak menyadari bahwa sedari tadi Zio sudah mengemudikan mobil yang ia tumpangi.


“ehh…i-iya pak.. Luxury Apartemen”


Sepanjang perjalanan keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Lastra masih tidak habis pikir tentang Adit yang ternyata punya niat jahat kepadanya. Sedangkan Zio yang sedari tadi sebenarnya tidak fokus melajukan mobilnya karena kaki Lastra yang berpakaian mini sekali itu tidak pernah diam pada tempatnya. Dan dia sangat terganggu akan hal itu. Akhirnya ia menepikan mobilnya, menghela nafas dan memutar badannya menghadap Lastra lalu membuka jaket yang ia kenakan.


“Pakai ini” Zio melemparkan jaketnya ke pangkuan Lastra


“hah… “  Zio memajukan badannya dan mengangkat dagu Lastra yang tiba-tiba menunduk karena perlakuan


Zio. Saat kedua mata mereka bertemu, Lastrapun gugup karena selama tiga tahun lebih menjadi sekretaris Zio, ia tidak pernah berbicara sedekat ini dengan Zio.


“Las… aku ini laki-laki normal, berduaan dengan wanita yang memakai pakaian kurang bahan seperti kamu saat ini bisa buat naluri laki-…”


Lastra secara tiba-tiba menutup mulut Zio dengan tangannya. “jangan diterusin pak, saya ngerti… sangat sangat mengerti sekali” sambil menutupi separuh tubuhnya yang terbuka dengan jaket yang diberi Zio.


ke apartemen.


“bisa jantungan aku kalau lama-lama berdua sama pak Zio di dalam mobil gini” batin Lastra. Yang ia tau Zio tak pernah memperlakukannya seperti ini, berjabat tangan saja tak pernah ia lakukan dengan Zio. Tapi malam ini, Zio seperti orang lain dihadapannya, senyumanya, tatapanya, sentuhanya. Lastra harus mengontrol dirinya sendiri


kalau tidak ingat dihadapannya adalah bosnya dia tak akan segan bermain-main dengan pria yang sedak duduk disampingnya kini.


“Las…”


“i- iya pak”


“are you oke? Yaa maksudku kamu gak apa-apa kan? Gak lagi ada masalah apa-apa kan?”


“maksudnya?” Lastra yang masih tidak mengerti lalu bengong menatap Zio yang asik mengemudi.


“sejak kapan kamu jadi oon begini heh?! Itu… penampilan kamu… klub malam… gak nyangka saya.. ck.”


tersadar akan maksud bosnya Lastra pun bingung harus menjelaskan mulai dari mana. Ia hanya menoleh gugup sambil menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


“Heh… punya mulut gak sih?!”


“ehh..punya pak punya, ini juga mau jawab” tangan Lastra tak berhenti mengetuk-ngetuk lututnya


sembari masih bingung untuk mulai dari mana.


“emm…saya gak kenapa-napa pak, baik-baik saja. Bulan lalu baru medical check up juga hasilnya


baik semua…” Lastra mengalihkan pembicaraan


“Las… kamu mau saya pecat heh?!” bentak Zio memotong omongan Lastra yang dianggap tidak penting


“Maaf pak maaf, tapi saya beneran gak ngerti ada apa dengan penampilan saya” masih pura-pura **** memasang tampang polosnya


“Lastra yang saya kenal itu gak seperti yang saya lihat malam ini, dia selalu memakai pakaian yang sopan bahkan tak pernah sekalipun saya lihat dia dandan heboh gini, kamu lagi stress apa?”


Benar saja, penampilan keseharian Lastra sebagai sekretaris perusahaan memang jauh bila dilihat dari apa yang Zio lihat malam ini. Setiap hari Lastra kerja memakai kemeja lengan panjang, blazer dan rok yang panjangnya di bawah lutut tidak lupa dengan kacamata kotak yang terkadang menggantung di lehernya saat ia lelah. Lastra pun


tidak pernah sekalipun menggerai rambutnya, ia selalu menggelung rapi rambutnya saat di kantor. Bahkan untuk wajah ia hanya memakai bedak tipis dan lipstick berwarna natural. Tapi malam ini, bos nya telah melihat sisi lain dari kehidupan Lastra dan hal itu cukup membuat bosnya shok ringan.


“Pak… Lastra yang bapak lihat di kantor dan yang bapak lihat malam ini adalah Lastra yang sama, ini cuma casingnya doang pak yang ganti isinya masih sama”


Mobilpun berhenti di parkiran tepat di depan gedung apartemen yang ditinggali Lastra. Zio melepaskan sabuk pengamannya dan memutar tubuhnya memandang Lastra menunggunya melanjutkan kalimatnya.


“kok gitu pak lihatnya?” Lastra merasa canggung dengan tatapan Zio kepadanya


Tangan Zio tiba-tiba membelai rambut Lastra lalu berpindah mengelus pipi lalu turun menyentuh bibir Lastra dengan ibu jarinya. Seketika tubuh Lastra menegang dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Berulang kali Lastra menelan salivanya yang sudah mngering.


Zio tersenyum sinis memajukan wajahnya dan meletakkan bibirnya tepat di telinga Lastra. Dan


hal itu sontak membuat Lastra bergidik.


“Sekali lagi saya lihat kamu berpakaian dan berpenampilan seperti ini, kamu tidak perlu lagi datang ke perusahaan saya, pesangon kamu akan ditransfer langsung ke rekening kamu, sekarang keluarlah!” bentak Zio sambil menjauhkan wajahnya dan keluar dari mobilnya untuk mengantarkan Lastra


 


 

__ADS_1


__ADS_2