Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Murah


__ADS_3

Zio segera mengganti pakaian tidurnya, mengambil kunci mobil dan bergegas menuju di mana Genta berada saat ini.


“Pastiin dia gak kemana-mana sebelum gue datang!!” ujar Zio menghubungi Genta sesaat sebelum ia melajukan mobilnya.


Sesampainya klub malam, Zio melangkahkan kakinya dengan tergesa tidak peduli sudah berapa orang yang ia


tabrak dengan tubuh tegapnya itu.


“Gen! mana dia?!” Seru Zio dengan tidak sabar


Genta mengangkat bahunya dengan enggan “Buru-buru amat lo, duduk dulu bro nyante”


Zaid melempar Genta dengan bungkus rokok “noh Lastra” mengangkat telunjuknya mengarah ke satu sudut meja bar.


Entah apa yang ada dipikiran Zio saat ini, rahangnya semakin mengeras saat ia melihat Lastra bersama pria yang pernah ia hajar beberapa waktu yang lalu di tempat yang sama. Pria itu berdiri tepat disamping tubuh Lastra dengan memainkan rambut panjangnya yang bergelombang, sesekali terselip tawa diantara mereka.


“Lastra!!” Seru Zio dengan nada membentak


Lastra yang hafal dengan suara dibalik punggungnya itu hanya melirik sekilas lalu mengendikkan bahunya seakan enggan menanggapi.


“Beb, cowok lo noh” Seru Adit di telinga Lastra lalu menatap Zio dengan tatapan tidak suka, “Gue cabut, males gue cari masalah”


Adit yang hendak melangkah langsung ditahan tangannya oleh Lastra “Gak asik ahh, dia bukan cowok aku tau” membalik tubuhnya melihat Zio dengan masa bodoh


“Ikut saya!!” Zio menarik paksa tangan Lastra yang kali ini hanya pasrah menuruti seruan bosnya itu.

__ADS_1


Zio menghempas kasar tangan Lastra di depan Zaid dan Genta. Ia menatap Lastra dengan frustasi, menggeram seraya menarik surai hitamnya.


Namun kali ini tidak terlihat rasa gentar di maniknya, Lastra sudah memutuskan untuk mengakhiri semua, mengakhiri hubungan yang sama sekali belum dimulai. Dia tidak mau terlibat lebih dalam lagi dalam permainan yang entah siapa yang lebih dahulu memulainya.


“Ada pertengkaran rumah tangga nih” Genta setengah berbisik di telinga Zaid sambil terkekeh


“Bacot lo, gak tau urusan, diam!” Perintah Zaid


“Pak Zio mau apa?” Tanya Lastra datar


“Kamu…!” Zio terdiam lama


“Kalau gak ada yang di omongin saya pergi!” Baru saja hendak melangkah tangannya di tahan oleh Zio


“Kamu ngerti gak kamu tadi berdua sama siapa!?” Tanya Zio kesal


“Kamu tau kan dia pernah berniat jahat sama kamu?!”


“Saya tau, Adit juga sudah minta maaf, tapi ya pak Zio yang terhormat dengan siapapun saya saat ini, malam ini, itu gak ada hubungannya sama pak Zio. Bukannya saya sudah bilang sebaiknya kita tetep berada di jalur kita masing-masing”  Tutur Lastra datar


“Kamu mau—”


“Pecat!? Gitu maksudnya, gak usah repot-repot pecat saya pak, besok pagi saya pastikan Bapak terima surat pengunduran diri saya!” Lastra mulai meninggikan suaranya “Kalau memang tidak ada lagi yang mau pak Zio sampaikan saya pergi”


“Lo punya harga diri gak sih Last?!” Langkah Lastra terhenti mendengar kata-kata Zio tangannya bergetar. Zio sudah tidak menggunakan kata-kata formal dengannya

__ADS_1


“Zi cukup! Biarin Lastra pergi” Sela Zaid berniat menghentikan pertengkaran yang mulai tidak sehat dan melihat gestur tubuh Lastra yang shock mendengar perkataan Zio. Bagaimanapun Zaid juga pernah --masih-- menyukai Lastra walaupun dalam diam.


“Lo masih punya harga diri gak sih?!” Zio kembali mengulang kalimatnya “Lo masih mau berduaan sama laki-laki yang hampir aja nidurin lo dengan cara yang murahan! Murah banget sih lo! Ahh ya jangan-jangan dia udah berhasil nidurin lo, iya?!” Zio yang emosi sudah tidak dapat menyaring kata-katanya


“Zio!!” bentak Zaid seketika “Gue tau lo marah sama Lastra, tapi bukan berarti lo bisa ngehina dia kayak gitu!!


Lastra tergelak melepas tawanya dengan sinis “Murah?! Haha…” Zaid melihatnya khawatir


“Kamu …” tunjuk Lastra dengan jarinya “Aku bakal tunjukin ke kamu … apa itu “murah””  Zio menatap datar


Lastra berbalik melangkahkan kakinya ke Genta yang sedari tadi hanya duduk di kursi bar menonton


pertengkaran mereka sambil menghisap rokok yang ada disela jarinya. Lastra mengambil rokok yang tengah dihisap dari bibir Genta mematikannya di asbak.


“Last, lo apa—”


Belum sempat Genta protes mengenai rokoknya, Lastra langsung mengalungkan tangannya di leher Genta


lalu dalam sekejap bibir Lastra sudah *******, menyesap menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Genta.


Genta yang tersadar, jelas tidak mau melewatkan kesempatan yang ada didepannya. Genta menarik pinggang ramping Lastra agar semakin dekat dengan dirinya, mereka tidak lagi memperdulikan tatapan Zio yang sudah penuh dengan amarah. Mereka saling menjelajah, membelit dan bertukar saliva satu sama lain.


“Gila lo Last!” Ucap Genta terengah saat Lastra melepaskan ciumannya.


Lastra hanya tersenyum dan mengusap lembut salivanya yang masih tersisa dibibir Genta. Ia lalu beringsut mundur, berjalan melewati Zio dan Zaid yang mematung tanpa mau menatap Zio sama sekali, pergi menjauh, mengunci rapat hatinya. Karena hanya rasa sakitlah yang akan ia dapat bila meneruskan drama yang tanpa mereka sadari sudah melibatkan hati masing-masing. Tidak .., Lastra tidak mau mengulang kejadian yang sama, menempatkan hatinya pada seseorang hanya menyisakan rasa sakit.

__ADS_1


 


 


__ADS_2