Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Menunggu


__ADS_3

Sudah 15 menit Lastra duduk di kursi teras rumah bosnya tersebut. Tapi Zio belum juga keluar menunjukkan batang hidungnya.


“Arrgghh…” Lastra menggeram frustasi.


Untunglah tak lama ada pelayan yang  Lastra kenal tiba-tiba keluar dari garasi rumah.


“Bik Aniiiiik…” bik Anik yang mendengar panggilan Lastra seketika langsung berlari menghampirinya.


“Lho ada mbak Lastra, udah lama mbak?” tanya bik Anik


“hampir setengah jam bik!,, bisa tolong panggilkan bos Zio?” Lastra menjawab dengan lelah bercampur kesal. Bik Anik pun menganggukdan bergegas ke dalam untuk memanggil Zio.


Belum sempat bik Anik naik tangga menuju ke kamar Zio, nyonya Andreas memanggilnya.

__ADS_1


“bik, kalau ke atas tolong panggilkan Zio ya, bilang saya mau bicara”


“ini juga mau panggil mas Zio bu, ada mbak Lastra di depan, katanya sudah hampir setengah jam nunggu mas Zio.


Nyonya Andreas yang kaget langsung bergegas keluar menghampiri Lastra dan bik Anik segera naik untuk memanggil Zio.


“lho Last, ada urusan kantor habis ini bareng Zio? Mau pergi?” tanya nonya Anreas penasaran karena tidak biasa Zio membawa pegawai ke rumah kecuali memang ada perhelatan acara, itupun yang diundang tidak jajaran yang berkepentingan di kantor.


“maaf nyonya, saya gak tau, tadi pas pulang kantor dipanggil disuruh masuk mobil, terus tadi sudah sampai sini saya ditinggal gitu aja, bos Zio saya tunggu gak keluar-keluar. Saya kan bingung jadinya”


“anak ini maunya apa sih” gumam nyonya Andreas mulai terlihat kesal. “emm Last, kamu masuk dulu ya, tunggu duduk di dalam biar saya panggilkan Zio” nyonya Andreas berlalu menuju kamar Zio dengan mulut yang tidak berhenti mengomel, ia heran dengan tingkah anaknya belakangan ini terhadap Lastra. Yaa, nyonya Andreas tau semua apa yang terjadi belakangan ini di kantor, Levi memang sengaja magang dan ditempatkan di dekat Zio agar nyonya Andreas bisa lebih memantau anak satu-satunya itu. Ia bukannya tidak tau semua yang dilakukan Zio di kantor hanya saja ia selalu merasa kurang atas informasi yang didapatkan tentang Zio. Ia perlu orang lain yang netral tidak memihak Zio dan orang itu adalah Levi yang kebetulan mencari perusahaan untuk magang di akhir semester kuliahnya.


“Zio.., Zio bangun!!!” nyonya Andreas berteriak dan mengguncang tubuh Zio dengan kasar.

__ADS_1


“apa sih mi? baru juga tidur, aku capek ngantuk” jawab Zio tanpa menoleh dan masih dengan mata


terpejam.


“hei, kamu kira Lastra gak capek nunggu kamu dibawah dari tadi!”


Zio berpikir sejenak mencerna apa yang dikatakan maminya tentang Lastra yang sedang menunggunya di bawah. Dan ya, Zio lupa benar-benar lupa kalau ia tadi membawa serta Lastra pulang ke rumah. Ia lupa karena kekesalan yang ia pun tidak mengerti apa pemicunya. Ia pun langsung terduduk dan berpikir sejenak melihat maminya yang masih menaruh kedua tangannya di pinggangnya.


“Ck!!” Zio pun mengambil ponsel yang ia letakkan di nakas samping tempat tidur, dicarinya sebuah nama


lalu ia segera berbicara dengan seseorang dengan nada yang masih saja terlihat kesal.


“Pak, tolong Lastra diantar pulang ya, pastiin dia masuk pintu baru pak Edi boleh balik!” tanpa menunggu jawaban dari pak Edi, Zio langsung menutup teleponya dan menghempaskannya begitu saja di atas kasur yang ia tiduri. Lalu ia pun melanjutkan lagi mimpi indahnya dengan kembali berbaring dan memeluk guling disampingnya tanpa memperdulikan maminya yang sedari tadi hanya geleng-geleng melihat tingkah anaknya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2