Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Pusing


__ADS_3

Semua laporan dan dokumen penting saat ini sudah selesai dipersiapkan, tinggal menunggu hasil rapat besok.


“Baik, terima kasih atas kerja samanya semua, saya berharap rapat besok akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun, selamat malam, selamat istirahat” tutur Zio mengakhiri malam yang melelahkan.


Diki, Lastra serta Levi bergegas keluar ruangan tidak sabar untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


“Mau ke mana Last?” tanya Diki


“Toilet bentar Mas, kebelet, kalian duluan aja gak apa.”  Lastra pun bergegas lari menuju toilet.


Tak lama kemudian Zio keluar dengan membawa beberapa berkas. Melirik sebentar ke meja kerja Lastra.


Dia sudah pulang Zio membatin


“Saya duluan ya, hati-hati semua.” pamit Zio


“Iya Bos.”


“Iya Bang.”


Jawab Diki dan Levi bersamaan.


Sesampainya di bawah, Zio segera menuju mobilnya tapi tiba-tiba ia teringat bahwa ponselnya tertinggal di ruangannya.


“Pak Edi, tunggu sebentar ya,” pak Edi pun hanya bisa mengangguk


“Lho pak Zio mau kemana?” Tanya Diki yang melihat bosnya hendak masuk ke lift

__ADS_1


“Hape saya ketinggalan.” Diki hanya mengangguk tak lama pintu lift pun tertutup dan Zio kembali ke lantai atas menuju ruangannya


Zio keluar lift terburu dengan melangkahkan kaki panjangnya. Ia memperlambat langkahnya saat ia melihat masih ada cahaya redup di luar ruang kerjanya. Ia berjalan mengendap agar suara dari langkah sepatu pantofelnya tidak terdengar oleh siapapun. Sejenak ia curiga, apakah ada seseorang yang menyelinap untuk mengambil data perusahaan dan mengacaukan rapat pemegang saham besok.


Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat Lastra yang baru saja duduk di meja kerjanya dengan surai yang sudah terurai. Pandangannya kosong, ia berkali-kali menghela nafas berat lalu menundukkan wajahnya.


Zio baru saja hendak melangkahkan kakinya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal dengan niat mengabaikan semua yang baru saja ia lihat. Namun lagi-lagi ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat punggung Lastra yang bergetar, sedetik kemudian ia mendengar suara isakan, Lastra menangis.


Zio terpaku, otaknya membeku tidak tau harus berbuat apa. Ia hanya terpekur dalam diam melihat Lastra dari jauh -meski masih dalam satu ruangan- tapi ada rasa takut jika ia harus mendekatinya. Ia takut jika akan menambah luka lagi dengan kata-katanya. Ia sadar bahwa apa yang dialami Lastra saat ini adalah karena ulahnya.


Setelah mengetahui fakta bahwa Lastra benar-benar mengajukan pengunduran diri, Zio mengakui bahwa ia memang lebih ketus dan keras terhadapnya.


Isakannya terhenti saat suara dering ponsel milik Lastra berbunyi memecah keheningan malam itu.


“Iya Rie”


“Ini udah mau balik kok, bye.”


Lastra memutuskan sambungan  teleponnya. Ia mengambil tisu di tasnya dan menghapus bersih buliran bening yang ada di wajahnya, lalu mengikat rambutnya seadanya. Ia berdiri mematikan sebuah lampu yang sedari tadi


menemaninya lalu beranjak pergi.


Zio yang tersadar akan Lastra yang perlahan melangkahkan kakinya menuju ke arahnya tergugup segera bersembunyin di balik pilar agar tidak terlihat olehnya. Sampai tubuh Lastra berada di depan lift dan masuk dengan pintu yang tertutup sempurna baru ia dapat bernafas lega.


Zio bergegas menuju ruangannya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Ia buru-buru berlari keluar, tiba-tiba saja ia teringat omongan Lastra yang mengatakan bahwa ia akan dijemput seseorang. Rasa penasara, kesal, marah, cemburu, entahlah dia sendiri tidak bisa menjabarkan apa yang ia rasa saat ini. Yang ia mengerti saat


ini, ia harus segera kebawah dan melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang menjemput Lastra. Apakah benar Arjuna seperti yang di katakan oleh Diki tadi.

__ADS_1


Zio keluar dari lobi dengan tergesa dan melihat supir pribadinya sedang asik bermain dengan ponselnya seraya bersender pada pintu mobil. Ia melihat sekeliling tapi tidak ada tanda-tanda Lastra di manapun.


***! Telat gue!* Zio mengumpat dalam hati


Dengan wajah lesu ia mendatangi pak Edi, lalu masuk ke mobilnya duduk di kursi penumpang dengan hati yang kacau.


“Pak Ed, tadi lihat Lastra gak dijemput siapa?” celetuk Zio tiba-tiba.


“Oh Mbak Lastra, tadi dijemput sama taxi mas?” jawab pak Edi


“Taxi? Taxi online? Yakin itu taxi pak? Gak ada laki-laki yang keluar gitu?” Zio penasaran


“Taxi mas, bukan yang online itu, tapi yang burung biru, kan saya tadi yang bantu carikan di depan.” jelas pak Edi, “tadinya mau pesen online tapi hape nya mbak Lastra lowbat.” lanjutnya


Mendengar penjelasan pak Edi, Zio jadi bertanya-tanya dalam hati kenapa Lastra berbohong, Kenapa menolak ajakan Levi untuk pulang bareng, apa tiba-tiba laki-laki yang menjemputnya membatalkan secara sepihak.


“Errgghhhh” Zio menggeram frustasi menarik rambutnya dengan kasar


“Mas Zio kenapa Mas? Lagi ada masalah sama Mbak Lastra?” celetuk pak Edi


“Ohh gak pak, lagi pusing aja besok ada rapat pemegang saham soalnya” kilahnya


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2