
Dengan tampang memelas Lastra masih tetap menyangkal apa yang di katakana nyonya Andreas “Tapi beneran gak Nyonya, saya itu—"
“Ck, ya sudah kalau begitu, saya percaya” Seru Nyonya Andreas tapi terdengar nada kesal di dalamnya.
Apapun itu yang penting saat ini Lastra ingin sekali segera pulang kembali ke apartemennya. Dia tak pernah serindu ini dengan apartemennya., dia hanya ingin pulang lalu mengunci diri berteriak sekencang-kencangnya merutuki kebodohannya telah meninggalkan baju terlebih pakaian dalam di mobil Bos nya sehingga menimbulkan
kesalahpahaman.
Lastra berharap kejadian saat ini tidak membuat Nyonya Andreas berfikiran macam-macam dengannya, apalagi kalau sampai memecatnya. Ohh tidak … jangan sampai, Lastra sudah sangat nyaman dengan posisinya sebagai sekretaris di Andreas Corp, nyaman dengan gaji yang diterimanya terutama.
Hening,
Tiba-tiba…
Krucuk
Semua mata seketika memandang kearah Lastra
Ya ampuuun ni perut kenapa tiba-tiba unjuk rasa di waktu yang gak tepat gini sih protes Lastra dalam hati sambil menunduk malu menyembunyikan wajahnya.
“Kamu belum sarapan Last?” Tanya Tuan Andreas yang akhirnya bersuara membuka mulutnya
__ADS_1
Lastra menggeleng “Belum .…” Lalu tersenyum ke arah Tuan Andreas memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Kkalau gak ada lagi yang mau ditanyakan, saya pamit pulang dulu Nyonya .…”
“Kamu sarapan dulu sana sekalian Zio juga belum sarapan” Ujar nyonya Andreas lalu melempar Zio
dengan majalah yang tadi dipegangnya. “Zio, ajak Lastra sarapan sana!” Perintah Nyonya Andreas.
“Ehh gak usah Nyonya, saya sarapan di—”
Zio menyimpan ponselnya di saku lalu berdiri “Ayo Last sarapan dulu, saya sudah lapar.” Ujarnya lalu meninggalkan Lastra yang masih duduk terpekur seorang diri di sofa panjang.
“Lastra ayo sana, sarapan!” seru Nyonya Andreas mengagetkannya.
“Duduk sini Last.” Perintah Zio yang sudah terlebih dahulu duduk menarik kursi untuk Lastra tepat di sebelahnya.
Akan tetapi Lastra yang masih kesal tidak mengindahkan perintah Zio, dia lebih memlih memutari meja dan duduk di hadapan bosnya itu.
Zio lalu memberikan piringnya kepada Lastra dengan tujuan agar Lastra mengambilkan ia nasi serta lauk yang akan di makan. Lastra hanya bisa menghela nafas dan menuruti kemauan Zio.
Akhirnya mereka pun makan dalam keheningan, Lastra juga enggan untuk memulai percakapan meskipun hatinya sebenarnya ingin sekali memaki bosnya yang sedang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Kembali ke ruang tengah dimana saat ini hanya tinggal Tuan dan Nyonya Andreas yang ada
“Mami ini sebenarnya maunya apa sih?” Tanya Tuan Andreas yang akhirnya buka suara atas apa yang sudah dilakukan istrinya itu kepada Lastra “Tau anaknya gak berbuat macam-macam sama Lastra malah kelihatan kesal gitu?”
”Mami itu cuma mau Zio nikah pih, tahun ini anakmu itu sudah kepala 3 tapi belum ada tanda-tanda mau ngenalin anak gadis ke rumah!” Jawab Nyonya Andreas kesal. “Teman-teman Mami tu kalau arisan kadang suka pamerin cucunya yang sudah bisa inilah yang itulah.” Keluhnya.
“Mih, kalau memang belum jodohnya ya gak bisa dipaksakan.” Tuan Andreas lalu meletakkan koran yang
dari tadi ia baca ke meja dan memandang serius kepada istrinya yang sepertinya sedang dilanda kegalauan. “Jadi tadi ini maksudnya mami mau mojokin Lastra sama Zio?” Menghela nafas.
“Yaa kali aja kan benar mereka ada hubungan tapi backstreet gitu Pih, jadi bisa langsung di kawinkan sekalian”
“Nikah mih baru kawin”
"Iya itu maksud Mami."
__ADS_1