Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Irene


__ADS_3

Ternyata tamu yang dimaksud adalah rekan bisnis sekaligus sahabat dari tuan Andreas yang baru saja balik dari luar negeri, Tuan Theodore. Zio yang baru datang langsung duduk dengan asyik di ruang tamu membahas beberapa peluang untuk mengembangkan bisnis perusahaan Andreas lebih maju lagi.


“Ayo pih, Theo kita makan siang dulu” Nyonya Andreas seketika muncul untuk mengajak makan siang Bersama.


Sesampainya di meja makan ternyata Zio baru menyadari kalau tuan Theo tidak sendirian, ia datang bersama istri serta anak perempuanya Irene, mantan kekasih Zio saat SMA.


“Hai Zi ....” Sapa Irene ramah dengan wajah sumringah tapi hanya dibalas Zio dengan anggukan kepala dan senyum yang hampir tidak terlihat. Zio menempatkan dirinya untuk duduk di samping ayahnya di susul Irene yang mendudukkan diri di samping Zio.


“Ahh … kalau gini kita berasa besanan ya?” Celetuk nyonya Andreas yang memang tidak bisa mengontrol mulutnya. “Oia Ren, kamu tadi bilang pernah pacaran sama Zio ya waktu SMA?” Dijawab anggukan oleh Irene “gak pengen CLBK nih kalian berdua?” Lanjutnya.


Irene terkekeh malu-malu menundukkan kepalanya.


“Kalau jodoh gak akan kemana tante.” Jawab Irene seraya memandang Zio yang tidak bergeming hanya sibuk dengan makanannya


“Gimana kalau kalian dijodohkan saja, kalian berdua kalau dilihat-lihat serasi, iya gak Ren?” Mama Irene tiba-tiba menimpali.


Obrolan seketika mengalir begitu saja di meja makan, sambil sesekali menyinggung tentang hubungan Zio dan Irene.


--


Shopping!

__ADS_1


Hal itulah yang terlintas pertama kali di benak Lastra untuk menetralkan pikiran serta hatinya. Ia sudah lupa kapan terakhir kali ia berbelanja dengan kalap seperti ini, yah … hal itu karena ia tak pernah merasa kacau seperti sekarang, Lastra adalah sosok wanita yang tidak  pernah mengikutsertakan hati dalam setiap hubungannya dengan pria. Setelah sosok Tama, Lastra menutup rapat hatinya agar tidak jatuh lagi dalam urusan hati, karena ia


pernah merasakan berjuang sendiri menyembuhkan luka-luka masa lalunya.


Lastra sedang  menyentuh sebuah baju dengan model sabrina di sebuah butik, model baju favoritnya, pakaianya yang memperlihatkan bagian bahu dan leher jenjangnya. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesosok pria yang saat ini mengacaukan pikiran sedang memasuki butik yang sama dengan seorang wanita yang bergelayut manja di lengan kokohnya.


Tanpa Lastra sadari tangannya kini meremas erat baju yang sedang dipegangnya.


“Maaf mbak, bajunya jadi dibeli?” Pelayan tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


“Oh iya maaf, tolong yang ini aja, saya langsung ke kasir”


Lastra yang masih bisa menguasai dirinya hanya mengangguk pelan kepada Zio lalu menatap sekilas pada wanita yang sedang bersamanya. Ia tersenyum menarik nafas panjang lalu melangkah keluar segera mengabaikan apa yang baru saja dilihatnya.


--


Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 23.30, namun Zio belum bisa menutup matanya. Bayangan sosok Lastra yang menatapnya tanpa arti saat di butik sore tadi sangatlah mengganggunya. Ia hanya membolak balikkan badannya mencari tempat ternyaman untuk bisa masuk ke alam mimpi.


Ponselnya bergetar singkat menandakan ada seseorang yang mengirimkan pesan kepadanya, tapi ia tak berniat untuk menyentuh atau bahkan membacanya.


5 menit

__ADS_1


10 menit


15 menit


Zio akhirnya memutuskan untuk mengambil ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidurnya, sebuah pesan masuk dari Genta dengan melampirkan sebuah video berdurasi kurang dari 30 detik.


5 detik


10 detik


Ia masih mengernyitkan dahinya melihat bagian belakang tubuh seorang wanita samar-samar yang sedang meliukkan tubuhnya di lantai dansa di sebuah klub malam yang ia yakini adalah klub malam milik Zaid, yah di mana lagi Genta berada kalau tidak di Ocean.


15 detik


Wanita itu berbalik dengan tawa lepas dan ada tangan seorang pria yang memeluk mesra pinggangnya dari belakang.


Shit!!!


 


 

__ADS_1


__ADS_2