
Nyonya Andreas langsung mengambil segelas air yang terletak di sebuah meja yang letaknya tak jauh dari tempat tidur Zio. Ia langsung menumpahkan segelas penuh air ke wajah anak satu-satunya yang masih terlelap itu.
Zio yang merasakan dingin dan basah pada wajahnya secara tiba-tiba sontak terbangun dengan kepala yang masih sedikit pusing. Ia berusaha menjernihkan pandangannya untuk melihat siapa kah gerangan yang sudah membangunkan secara bar-bar seperti ini.
“Astagaaaa … Mami apa-apaan sih” Zio memandang maminya sekilas lalu mengeringkan wajahnya memakai
bed cover yang saat tengah menyelimutinya.
Nyonya Andreas langsung melemparkan kasar barang yang tengah dipegangnya sedari tadi ke wajah Zio “apa uang yang kamu hasilkan di perusahaan kurang sampai gak bisa nyewa hotel buat ngajak perempuan!?”
“Ini ….” Zio membolak balik baju yang saat ini sedang dipegangnya dengan kesadaran yang masih belum memenuhi kepalanya “Perempuan apa maksud mami?”
“Siapa perempuan itu?” tanya nyonya Andreas
“Perempuan siapa sih Mih?!”
“Perempuan yang kamu ajak mesum di mobil kamu semalam?” nyonya Andreas lalu mendudukkan dirinya di samping Zio, mengambil pakaian dalam yang ada di pangkuan Zio lalu menoyor kening anaknya menggunakan pakaian dalam yang dipegangnya saat ini “Nih sampe bra nya kececer di mobil kamu, hanyo ngaku!”
“Astaga mami, ngapain juga mesum di mobil aku masih bisa nyewa hotel seperti kata Mami” Nyonya Andreas reflek memukul kepala anaknya itu
“Jadi belum puas di hotel kamu lanjutin lagi di mobil?”
“Mami ya ampun ....” Zio mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya “Ini semua punyanya Lastra Mih, semalam aku pergi sama dia dan jangan berpikiran buruk”
Nyonya Andreas menatap tidak percaya dengan Zio “Ini akal-akalan kamu ya, kamu bilang pergi sama Lastra padahal jalan sama perempuan lain, kamu mau bohongin Mami kamu, hah!” nyonya Andreas lalu memukul lengan Zio “Awas ya kalau kamu bohong, Mami telepon Lastra sekarang!” nyonya Andreas berdiri dan meninggalkan Zio sebelum menutup pintu ia berbalik “Cepetan mandi, Mami tunggu di bawah!”
--
__ADS_1
Lastra baru saja hendak memasukkan sesuap nasi goreng buatanya ketika dilihatnya benda pipih yang terletak di samping piringnya bergetar menunjukkan nama yang membuatnya melipat dahi.
Ngapain Nyonya Besar nelpon pagi-pagi, hari libur pula gumamnya dalam hati
Lastra pun segera menggeser icon berwarna hijau dan meletakkan ponselnya ditelinga. Belum sempat ia mengucapkan salam nyonya Andreas sudah langsung mencecarnya dengan pertanyaan
“Lastra, kamu dimana?”
“Lagi di apartemen Nyonya”
“Apartemen siapa?”
“Apartemen saya Nyonya eh bukan punya saya, saya nyewa gitu nyonya”
“Kamu ke rumah saya, sekarang! gak pake lama, saya tunggu se-ka-rang”
“Rie, aku pergi dulu ya” ucap Lastra yang terburu-buru masuk ke kamarnya untuk mengambil dompetnya
“siapa yang nelepon Mbak?" tanya Rie
“Nyonya Besar” teriak Lastra dari dalam kamar. “Maminya Bos Zio, Rie” lalu berjalan ke meja
makan mengambil ponsel yang tadi ia tinggalkan.
“Kkenapa? Kok buru-buru? Gak sarapan dulu”
“Entar aja sarapannya, perasaan aku gak enak .…” Lastra bergegas berlari ke pintu “Rie, nanti jangan lupa kabari kalau kamu pergi” teriak Lastra sebelum menutup pintu.
__ADS_1
20 menit kemudian
“Eh mbak Lastra, sudah ditunggu sama Ibu di dalam, masuk aja” Sapa bik Anik
“Iya Bik, makasih ya”
“Pagi Last, duduk dulu tunggu Zio sebentar” Lastra mengangguk dan langsung mendudukkan dirinya di
sofa berhadapan dengan Nyonya Andreas yang sedang membolak-balik majalah.
Lastra tidak bisa berfikir apapun untuk saat ini, tapi sudut hatinya mengatakan kalau pagi ini sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi padanya. Lalu ia melihat Zio menuruni tangga dengan memakai baju santai, kaos putih dan celana pendek dengan rambut yang masih sedikit basah. Suatu hal yang tidak pernah Lastra lihat
selama menjabat sebagai sekretarisnya selama tiga tahun lebih.
Kok bisa jadi cakep banget kayak gini ya? Gumam Lastra dalam hati tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Zio.
“Pagi Last .…” Sapaan Zio membuat nyawa Lastra yang sempat tercecer akhirnya kembali ke raganya dan ia segera menunduk memutuskan pandanganya kepada Zio.
“Pagi Bos Zio” jawab Lastra kikuk karena saat ini Zio duduk tepat di sebelahnya dan Nyonya Andreas tepat berada bersebrangan dengan mereka.
Ada apa sebenarnya ini? Lastra bertanya-tanya dalam hati
__ADS_1