
Sore harinya
“Lev, meeting dengan pak Arjuna nanti, kamu gantiin Lastra” Ujar Zio yang baru saja datang dengan terburu-buru bergegas memasuki ruangannya.
Levi mau tidak mau hanya mengiyakan dan segera bertanya kepada Lastra apa saja yang harus ia persiapkan dan lakukan pada saat meeting dengan klien.
Arjuna datang 10 menit lebih awal dari waktu yang sudah di jadwalkan. Levi pun bergegas ke ruangan Zio untuk ikut serta dalam pertemuan bisnis tersebut.
“Mas Dik, Levi kemana?” Tanya Lastra yang baru saja tiba dari pantry membawa segelas kopi.
“Di dalam, Pak Arjuna sudah datang.” Jawab Diki
Sepertinya banyak hal alot yang dibahas di dalam sana sehingga meeting yang ada sudah melewati jam pulang kerja karyawan.
“Mas Dik, aku bisa pulang duluan gak sih?” Tanya Lastra yang masih duduk tapi sudah menenteng tas
kerja dan mematikan seluruh perangkat komputernya.
Belum sempat Diki membuka mulutnya, pintu ruangan Zio terbuka dengan Arjuna keluar terlebih dahulu disusul Zio setelahnya.
Arjuna melangkah mengangguk sopan kearah Diki dan pandangan lalu terhenti melihat Lastra. Pandangannya sedikit menunduk melihat name tag karyawan yang dipakai Lastra
“Falastra Adhista!?” Ujarnya berhenti tepat di depan meja Lastra.
Lastra yang sedari tadi menunduk lantas mengangkat wajahnya mendengar namanya dipanggil secara lengkap. Lastra melihat dan berfikir sejenak.
“Mas Juna!!!” SahutLastra dengan binar Bahagia
__ADS_1
“Astaga, aku udah mikir aja di dalam tadi waktu asisten pak Zio nyebut nama kamu, ternyata benar orang yang dimaksud itu kamu.” Jelas Juna.
“Apa kabar mas?” Lastra menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Aku baik, ketemu kamu gini tambah baik lagi pastinya.” Menyambut hangat tangan Lastra menggenggamnya dengan kedua tangannya
“Ehhmm.” Zio berdehem tidak suka menyela pembicaraan
Juna melepas genggaman tangannya memutar tubuhnya ke Zio “baik kalau begitu pak Zio, besok asisten saya yang akan konfirmasi untuk persetujuan proposalnya.” Lantas mereka berdua berjabat tangan.
“Kamu sudah mau pulang Last” Juna menunjuk tas yang sudah berada di pundak Lastra
“iya mas”
“Kalau gitu bareng aja,, biar aku antar” Juna menoleh ke Zio yang masih belum beranjak dari tempatnya. “Gak papa kan pak Zio?”
“Terima kasih, kalau begitu saya pamit, ayo Lastra.” Ajak Juna
Lastra bergegas tak ingin berlama-lama berada diantara suasana yang tidak mengenakkan seperti ini. Ia lalu berjalan beriringan dengan Arjuna sesekali terlihat tawa dari obrolan mereka sampai akhirnya menghilang dibalik lift.
Sejak kejadian tersebut Zio sepertinya sengaja memberikan banyak pekerjaan kepadanya, bahkan pekerjaan yang seharusnya dipegang divisi lain, malah Lastra yang harus menanganinya. Tidak masuk akal, tiap hari Lastra harus lembur dan pulang larut untuk menyelesaikan pekerjaanya karena Zio meminta laporannya harus ada keesokan paginya. Beberapa kandidat yang sudah diajukan oleh bagian personalia untuk menggantikan Lastra pun selalu ditolak dengan berbagai macam alasan.
“Gak makan dulu Last.” Tanya Diki karena Lastra belum menyentuh sama sekali nasi kotak yang telah disediakan.
Malam ini mereka berempat -Zio, Lastra, Diki dan Levi- lembur untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk rapat umum pemegang saham tahunan. Semua sudah menyantap makan malam yang telah disediakan tapi hanya
Lastra yang tidak.
__ADS_1
“Gak mas, nanggung dikit lagi selesei, keburu malam.” Jawab Lastra dengan mata yang tak lepas dari laptop dihadapannya.
“Nanti bareng aku aja mbak, soalnya mau ke tempat bunda, kan searah.” Ajak Levi
“Gak usah, aku dijemput kok.” Kilah Lastra
“Ciyee sama Mas Juna bukan sih” Goda Diki “Duren lho Last.. denger-denger lagi cari istri”
“Ehhmm.” Zio mulai tidak menyukai arah pembicaraan Diki. “Laporannya sudah sampai mana Dik?”
“Sudah pak, tinggal saya kroscek ulang” Jawab Diki, lalu kembali menggoda Lastra. “Jadi gimana Last? Beneran dijemput pak Arjuna?”
“Mas Diki berisik.” Sahut Lastra
Zio berdiri beranjak meninggalkan meja meeting menuju meja kerjanya lalu memeriksa beberapa dokumen.
“Dari yang aku dengar ya Last, Pak Arjuna itu orangnya baik, royal, ramah, humble banyak lagi pokoknya. Terus dia kayaknya tertarik sama kamu.” Diki masih saja berceloteh
“Iyaaaaa” Lastra enggan menanggapi
Zio tiba-tiba menghempas kasar beberapa dokumen di tengah meja meeting “Diki..Diki.. itu kan dari yang kamu dengar belum kamu lihat sendiri, jangan tertipu!” Zio menarik kursi disamping Diki dan mendudukkan dirinya “yang kamu lihat dan kenal bertahun-tahun aja belum tentu seperti yang kamu sangka. Di depan kamu dia bisa aja berpenampilan polos, pintar juga baik tapi dibelakang, kamu kan gak tau sifat dan penampilannya seperti apa?!”
Diki dan Levi saling pandang tak nyaman, suasana tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Lagi! Lastra sadar teramat sadar bahwa kalimat yang di lontarkan Zio barusan bermaksud untuk menyindirnya. Tapi ia juga sadar kalau saat ini sedang berada di kantor bersama rekan kerjanya, ia harus bersikap professional. Sabar -Lastra-
__ADS_1