Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Makan Malam


__ADS_3

Malam ini kediaman Andreas kedatangan seseorang yang diminta secara khusus oleh nyonya Andreas untuk menginap karena sebentar lagi orang tersebut sudah tidak bisa ia minta menginap di rumahnya secara bebas.


“loh Lev, katanya dipingit, kok di sini?” Zio yang baru masuk ke ruang makan langsung menarik kursi dan mendudukan tubuhnya di samping Levi


“mami kangen Zi, besok-besok kan sudah gak bisa nyuruh Levi nginap sini. Sudah jadi istri orang!” mami Andreas berceloteh sambil mengambilkan nasi serta lauk untuk suaminya.


“iya nih, maaf ya bang Levi lewatin” Levi meledek sambil cekikikan


“maksud lo?” Zio menendang kaki Levi di bawah meja makan


“Aww, sakit bang..”


“sudah-sudah, ayo makan dulu” tuan Andreas menghentikan sementara pertengkaran kedua sepupu


tersebut.


Ditengah-tengah makan malam Levi tiba-tiba menyeletuk


“bang, kamu sama mbak Lastra itu kenapa sih?”


“memang kenapa Lastra sama Zio?” nyonya Andreas penasaran. Tapi Zio yang diberi pertanyaan malah asik dengan melahap makanannya seolah tidak ada orang di sana.

__ADS_1


“mbak Lastra kemarin nelepon minta tolong tanyain ke mas Hans, apa di perusahaannya butuh pegawai, sepertinya mbak Lastra mau resign deh” sambil melirik malas ke Zio


Zio yang mendengarnya langsung menghentikan makanya dan berdiri meninggalkan meja makan dengan langkah tergesa, wajahnya terlihat kesal. Ia tak memperdulikan maminya yang bertanya kepadanya. Ia masuk kamar mengganti baju, bergegas mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja melajukan mobilnya tanpa pamit. Kedua orang tuanya hanya menggeleng dengan tingkah anaknya itu.


Disini lah Zio berakhir menepikan mobilnya, setelah berkeliling tidak jelas seperti perasaanya saat ini, ia pun berhenti di depan gedung apartemen Lastra. Entah apa yang ada dipikiranya saat ini tapi ia begitu kesal saat mendengar Levi mengatakan bahwa Lastra sedang mencari perkerjaan. Ia menyadari kalau belakangan ini sikapnya


terhadap Lastra memang kurang baik, ia dengan sengaja menambah beban pekerjaan Lastra. Ia juga tidak mengerti akan sikapnya tersebut.


Lamunannya terhenti saat ia melihat sesosok yang begitu ia kenal keluar dari apartemen dengan memakai piyama biru, rambut digulung ke atas dijepit seadanya dan sandal jepit. Lastra, itu dia, berjalan dengan santainya dan melewati mobil yang diparkir oleh Zio. Tanpa piker Panjang Zio keluar dari mobilnya dan mengikuti Lastra dalam diam. Sampailah ia di sebuah minimarket lalu dengan cepat ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Lastra yang tiba-tiba menghilang tenggelam di salah satu rak perlengkapan khusus wanita.


“pantesan aja kemarin-kemarin mukanya jutek, ternyata lagi pms”


Ya, Zio berada tepat dibelakang Lastra yang sedang memasukkan pembalut kedalam keranjang belanjaanya.


“terserah saya, minimarketnya kan bukan punya kamu?”


Minuman dingin, itulah yang ada dipikiran Lastra saat ini lalu segera meninggalkan Zio menuju freezer mengambil sebuah botol soda dan segera membayarnya di kasir lalu keluar mencari tempat duduk untuk mendinginkan


kepalanya yang mendidih secara tiba-tiba.


Zio segera menyusul Lastra lalu menarik kursi yang tepat berada di samping Lastra untuk ia duduki.

__ADS_1


“kamu lagi cari kerja di kantor Hans?” Zio bertanya telak tanpa bas abasi


“Tau dari Levi?” sambil menegak minumannya Lastra berusaha tenang mengontrol emosinya yang memang benar saat ini ia sedang datang bulan dan moodnya sedang tidak baik bila berkaitan dengan Zio.


“dari Hans!” Zio tidak ingin membuat citra adik sepupunya menjadi buruk di depan Lastra karenanya ia mengambing hitamkan Hans.


“kenapa? Bukannya pak Zio harusnya senang ya, jadi gak harus marah-marah gak jelas sama saya” sebelum Zio membuka mulutnya, Lastra yang sedang mengalami mood swing masih melanjutkan ocehanya.


“pak Zio itu kenapa sih, saya kok ngerasa bapak tuh sensi banget sama saya semenjak kejadian di klub waktu itu. Salah saya dimana coba? Dikit-dikit pecat dikit-dikit besok gak usah masuk sekalian. Kalau mau pecat ya pecat aja pak! Ato bapak nunggu surat pengunduran diri gitu dari saya,jadi gak perlu ngasih-ngasih duit pesangon” meneguk minumannya sesaat lalu melanjutkan lagi protes yang di layangkan ke bosnya. “Ato bapak mikirnya saya


selama ini adalah wanita murahan, picik banget lah kalau bapak sampe mikir segitunya”


“saya gak pernah punya pikiran kalau kamu itu wanita murahan Last”


“terus kenapa belakangan ini pak Zio gitu sama saya, jangan-jangan baru putus gitu sama pacarnya, saya deh jadi sasaran?”


“oke oke, saya janji gak akan gitu lagi sama kamu, ayo berdiri saya antar ke apartemen kamu”


Lelah berdebat Lastra pun menurut untuk diantarkan Zio. Sepanjang jalan ke apartemen tak terucap satu patah katapun diantara keduanya sampai Zio mengantarkannya tepat di depan pintu kamar yang di diami Lastra.


 

__ADS_1


 


__ADS_2