Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Pacaran?


__ADS_3

“Last, semalam kamu pergi sama Zio?” Tanpa basa basi nyonya Andreas langsung memberikan pertanyaan dengan tatapan mengintimidasi.


“Iya nyonya” Lalu menatap Zio dengan heran lalu tak lama Tuan Andreas pun ikut bergabung dengan duduk di kursi single yang terpisah agak jauh dari Nyonya Andreas. Lastra pun mengangguk sopan kepadanya “Pagi Tuan besar” sapa Lastra.


“Pagi juga Last” jawab tuan Andrea santai lalu mengambil koran yang ada di meja samping kursi yang didudukinya, membukanya seolah tidak mau tau apa yang sedang terjadi di hadapannya.


“Pergi kemana?” tanya Nyonya Andreas lagi


“Ke resepsi pernikahan temannya Bos Zio Nyonya.” Lastra menggigit bibir bawahnya seraya memandang Zio yang terlihat santai bersender pada sofa sambil sibuk dengan ponselnya, berlagak seolah tidak ada hal serius yang terjadi.


“Habis dari resepsi kemana?”


Lastra menjawab dengan ragu “Langsung pulang Nyonya .…”


Helaan nafas terdengar dari nyonya Andreas, entah itu pertanda lega atau suatu hal yang lebih buruk.


“Ini punya kamu?” Mengeluarkan kebaya yang telah dipakai Lastra semalam dan di ikuti pakaian dalamnya.

__ADS_1


Lastra yang terhenyak melihat kedua benda tersebut ada di tangan nyonya Andreas sontak mengumpat dalam hati.


Sial!!! Kenapa semalam lupa di bawa sih, ini juga si Bos nyante aja gitu gak bantu jawab atau apa kek. Sia-sia air mataku tadi malam kalau begini ceritanya!!


“I-iya, punya saya Nyonya” Jawab Lastra kikuk


“Kenapa bisa ada di dalam mobil anak saya? Kalian habis ngapain semalam?!”


Sontak Lastra membelalakkan matanya karena tidak menyangka akan diberi pertanyaan seperti itu oleh Nyonya Andreas. Tidak ingin berlama-lama dalam fikiran buruk maka Lastra segera menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi di resepsi tadi malam, Tentunya tidak semua di ungkapkannya hanya bagian yang sekiranya penting saja.


“Enggak Nyonya bener” Sambil mengibaskan tangannya.


“Tapi saya kok masih belum percaya ya? Beneran baju sama daleman itu punya kamu Last?” Nyonya Andreas memicingkan matanya melihat Lastra yang sudah salah tingkah.


Entah kenapa dalam situasi seperti ini pun kedua pria dari keluarga Andreas yang ikut duduk di ruang tengah saat ini malah asik dengan dunianya masing-masing. Tuan Andreas masih berkutat dengan koran di tangannya  sedangkan anaknya sepertinya sedang asyik dengan game di ponselnya. Like father like son.


“Kamu gak lagi nutupin kesalahan Zio kan? Zio gak ngancam mecat kamu kan Last?!” Lastra semakin terpojok dengan perkataan Nyonya Andreas. Tapi tiba-tiba teringat sesuatu, ya ponselnya, ia sempat mengambil beberapa foto dirinya dan Zio saat resespsi tadi malam.

__ADS_1


“Saya punya buktinya Nyonya kalau baju ini baju saya, dan saya juga yang semalam jalan sama Bos Zio” Lastra lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dia mengutak atik ponselnya beberapa saat lalu memberikannya kepada Nyonya Andreas.


Helaan nafas lagi-lagi terdengar dari Nyonya Andreas. Raut wajahnya saat ini tidak tertebak, tangannya masih sibuk menggeser benda pipih yang milik Lastra sambil sesekali wajahnya menatap Zio serta Lastra bergantian. Saat ini nyonya Adreas sedang membuka galeri foto milik Lastra, dan benar saja saat ini dia sedang melihat


beberapa foto yang di ambil pada saat pesta resepsi semalam. Dia melihat beberapa pose selfie Lastra yang sedang mengenakan baju kebaya yang menjadi asal muasal permasalahan pagi ini. Jari Nyonya Andreas berhenti menggeser ketika melihat sebuah foto dimana Lastra sedang menggandeng tangan Zio dengan mesra pada pada sebuah photo booth. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia, Nyonya Andreas lantas tersenyum licik melihatnya.


“Kalian berdua sedang pacaran?” Nyonya Andreas mengembalikan ponsel Lastra yang terpampang foto Lastra dan Zio di dalamnya.


“Hah?!” Lastra membuka mulutnya seketika lalu menutupnya kembali “Gak Nyonya, beneran, berani sum—”


“Misal kalian pacaran juga gak apa-apa kali Last, gak perlu di tutup-tutupi, saya juga pernah muda, jujur aja” potong Nyonya Andreas


Wajah Lastra seketika memerah entah karena nyonya Andreas yang tidak mempermasalahkan bila ia berpacaran dengan anaknya atau karena kesal pada Zio yang sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya dan tidak memberi pembelaan sama sekali.


 


 

__ADS_1


__ADS_2