
“Selamat ya sayang, bangga nih akunya punya pacar dengan lulusan terbaik gini” ucap Tama sambil menyerahkan satu buket bunga mawar merah kepad Lastra.
“makasih kak,habis ini temeni cari kontrakan ya, minggu depan aku dah mulai pindah soalnya” ujar Lastra manja menggelayuti lengan Tama
“udah aku bilang tinggal di apartemen aku aja, kan kosong tuh gak aku pake”
“gak mau, jauh dari kampus soalnya, aku maunya cari yang deket kampus aja biar hemat bisa jalan kaki gak perlu naik kendaraan”
“Tama!! Ngapain kamu disini” seorang wanita berdiri tepat dihadapan Tama dan memandang tajam kearah Lastra penuh amarah.
“Lastra!!” Seorang lagi pria paruh baya datang menggandeng seorang wanita dan berhenti dibelakang wanita yang masih memandang Lastra dengan tajam.
“ayah?!” celetuk Lastra
“Tama, bisa jelaskan apa maksud semua ini” ayah Lastra menunjuk tangan Lastra dan Tama yang saat ini saling menggenggam erat.
“kak, kamu kenal ayah aku?” mimik wajah Tama yang sedari tadi datar melihat kedatangan Dera kini berubah memucat saat menyadari bahwa Lastra adalah adik dari Dera, wanita yang sudah ditunangkan dengannya sejak dua tahun lalu.
“Om Dito… ayah kamu Last?” tanya Tama untuk lebih meyakinkan dirinya lagi, Lastra pun mengangguk.
Tama melepaskan genggaman tangan Lastra dan mengusap wajahnya dengan kasar tidak mampu berbicara apapun.
“Tama, kamu sama Lastra ada hubungan apa?” tanya Dera dengan emosi
Tanpa mau menggubris Dera, Lastra mengatakan pada ayahnya kalau Tama adalah kekasihnya yang sudah dipacarinya selama hampir dua tahun. Sontak Dera langsung melayangkan sebuah tamparan ke wajah Lastra. Dan hal itu menimbulkan perhatian dari para undangan dan juga teman-teman Lastra yang Sebagian besar masih ada di
__ADS_1
aula gedung perpisahan.
“Dera!!” bentak Tama. “Lastra gak tau apa-apa”
“Lastra! Tama dan Dera sudah bertunangan sejak dua tahun yang lalu” ayah Lastra menjelaskan situasi yang saat ini dihadapi oleh Lastra agar ia mengerti apa yang telah terjadi.
Lastra melepaskan buket bunga yang dipegangnya dari tadi dan kakinya mundur beberapa langkah diikuti air mata yang sudah tidak terbendung.
“pasti kamu kan yang kecentilan godain Tama, kelamaan di asrama jadinya gatel gak bisa lihat cowok cakep dikit!” ucap Dera dengan nada mengejek.
“Dera!! Aku gak--“
“ayah … coba lihat anak ayah yang satu ini” Dera menunjuk Lastra “sudah tau dia yang salah masih aja gak tau diri!!”
“om Dito saya bisa jelasin” Tama menengahi agar Lastra tidak semakin terpojok.
“tapi ayah--“
“gak ada tapi, pulang sekarang atau kamu masih mau jadi tontonan orang-orang di sini?!”
--
Plak
Sesampainya di rumah Lastra menerima satu lagi tamparan keras yang mendarat di pipi kirinya. Dan kali ini ayahnya sendirilah yang melayangkan tangannya di wajah Lastra.
__ADS_1
“ayah … salah Lastra apa? Lastra sama sekali gak tau kalau kak Tama itu sudah bertunangan apalagi dengan Dera!” jawab Lastra sambil menahan perih di pipinya
“Lastra, kamu itu disekolahkan biar tau sopan santun, Dera itu lebih tua 3 tahun dari kamu, seharunya kamu panggil dia kakak!” kali ini istri ayahnya yang sedari tadi bungkam akhirnya buka suara
“tante sebaiknya gak usah ikut campur, ini urusan Lastra sama ayah!”
“Lastra!! Kamu ini benar-benar-?” ayah Lastra sudah mengangkat kembali tangannya hendak menampar Lastra
“ayah mau nampar Lastra lagi? Tampar yah … tampar lagi sampe ayah puas!! Tapi coba jelasin salah Lastra di mana?”
“kamu masih gak ngerti salah kamu di mana? Kamu itu pacaran sama tunangan kakakmu sendiri” ayah Lastra seolah mengabaikan fakta bahwa sebenarnya Lastra tidak mengetahui apapun tentang pertunangan Dera dan Tama. Ayahnya terlihat menjatuhkan semua kesalahan kepada Lastra.
“Lastra sudah jelasin kalau Lastra gak tau apa-apa, dan kalian semua disini juga apa pernah ngabari kalau Dera sudah bertunangan?! Gak pernah kan? Ayah sendiri juga gak pernah kan sekalipun nengokin Lastra di asrama? Gimana Lastra mau tau?!” Kembali kali ini Lastra lagi-lagi menjelaskan alasan ia berpacaran dengan Tama.
“jadi kamu selama ini bukannya sekolah yang bener tapi malah pacaran?! Begitu?”
“ayah… kenapa ayah selalu nyalahin Lastra? Lastra ini anak ayah bukan sih sebenarnya? Ayah bahkan gak marah waktu lihat Dera sudah nampar Lastra tadi?”
Emosi ayah Lastra semakin meninggi, ia langsung menarik tangan Lastra dan menyeretnya untuk memasuki kamar Lastra menghempaskannya di ranjang lalu meninggalkan Lastra dan menguncinya dari luar.
“ayah … buka ayah … kalau Lastra memang bukan anak ayah usir aja Lastra dari rumah, usir aja yah!”
teriak Lastra sambil terus menggedor pintu kamar yang sudah terkunci.
__ADS_1