Me And My Broken Heart

Me And My Broken Heart
Masa Lalu (2)


__ADS_3

Keesokan harinya


Ceklek


Seorang wanita masuk membawa nampan berisi makanan serta segelas susu untuk Lastra “ini kamu makan dulu” ucap wanita itu sambil menaruh nampan di atas nakas.


“tante Ria puas lihat ayah sama anak tante nampar aku kemarin?!” ucap Lastra dengan penuh amarah menatap tajam  kearah ibu tirinya.


“ayah kamu sama Dera sudah pergi, kamu habiskan sarapanmu lalu pergilah yang jauh dan pakai ini, kamu gak bawa baju kan kemarin”


“tante ngusir aku, dari rumah aku sendiri?!”


“saya gak mau ribut Last, kamu tau sendiri seperti apa ayahmu selama ini sama kamu, kalau kamu mau bahagia lupakan semua, pergi yang jauh dan cari kebahagiaanmu sendiri” tante Ria berbalik melangkahkan kakinya keluar dari kamar Lastra, lalu ia berbalik sebentar “ini satu-satunya kesempatan yang kamu punya, silakan kamu

__ADS_1


fikirkan lagi tapi jangan lama-lama, Dera akan balik sebelum jam makan siang dan … lupakan Tama” lalu menutup pintu tapi tidak menguncinya.


Lastra berfikir dan berfikir apa yang harus ia perbuat saat ini. Tama tidak juga mengangkat telepon atau membalas satupun pesannya. Ia segera menghabiskan sarapannya bergegas mandi lalu mengganti bajunya. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh seperti apa yang dikatakan ibu tirinya. Hanya satu tempat yang ada dipikirannya saat ini yaitu balik ke asrama dan sisanya akan ia pikirkan nanti.


--


Di Asrama


“ya Tuhan Lastra … kamu baik-baik saja nak?” tanya seorang wanita yakni seorang guru yang sudah Lastra anggap seperti ibu sendiri. “pipi kamu? Kamu dipukul lagi?” wanita itu lalu memeluk dan mengusap lembut punggung Lastra. Wanita itu Kembali mengingat kejadian yang menimpa Lastra saat acara perpisahan kemarin, ia sebenarnya ingin menolong Lastra tapi tidak sempat karena ayahnya sudah menyeretnya terlebih dahulu


“kamu mau pergi ke mana? Selama ini kamu taunya cuma asrama …”tutur bu Sita


“terserah bu yang penting jauh dari sini, keluar kota atau keluar negeri aja sekalian jadi TKI kek gitu” kekeh Lastra pelan mencoba menghibur dirinya sendiri.

__ADS_1


“ayah kamu gimana” tanya bu Sita


“ayah dari dulu kan gak pernah peduli sama Lastra, bu Sita kan tau sendiri satu-satunya murid yang gak pernah pulang ke rumah dan juga gak pernah dikunjungi itu cuma Lastra di sini, jadi Lastra pergipun gak agak ada yang nyari” mata Lastra berkaca-kaca entah mengapa dari kecil tidak ada satupun dari ayah maupun ibunya yang perduli


dengannya. Apa sebenarnya yang terjadi dan mereka pikirkan.


Ibu Sita menghela nafas memikirkan sesuatu “kamu bener-bener mau pergi nak?” Lastra mengangguk mantap. “baiklah, ibu punya teman yang punya rumah singgah untuk anak-anak kurang mampu di ibukota, kalau kamu mau ibu bisa hubungi dia …”


“ibu serius?!” Lastra begitu antusias mendengarnya


“iya, kamu bisa bantu-bantu dia di sana, namanya bu Ratna, tapi janji sama ibu kalau kamu bakal terusin kuliah kamu di sana dan “jaga” diri kamu baik-baik, bisa?”


“janji bu, Lastra janji”  tangannya langsung menggenggam erat tangan bu Sita lalu memeluknya. “tapi bu, Lastra juga minta ibu janji jangan beritahukan siapa-siapa tentang keberadaan Lastra… Lastra mau jalanin kehidupan baru tanpa mengingat masa lalu”

__ADS_1


“baiklah” jawab bu Sita seraya mengusap lembut kepala Lastra


__ADS_2