Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
9. Terbongkarnya Rahasiaku


__ADS_3

...Dasar Cepu? ...


...______________...


Aku merasa awkward ketika harus bergabung dengan ketiga keluarga besar yang sama sekali tidak begitu dekat denganku. Yang meliputi keluarga ku, dari Mama yang berasal dari Bengkulu, dan keluarga Papa dari Jakarta. Sekaligus keluarga dari besan, yaitu keluarganya Barra.


Beberapa anak kedokteran angkatannya Alesha juga diundang. Mungkin juga sahabatnya. Aku hanya memakai riasan make up cukup minimalis dengan memakai retro matte - lady be good, mac cosmetic.id. Outfit aku masih bisa ditiru oleh semua kalangan, terkecuali outfit yang Mama belikan untukku. Harganya terlalu sulit masuk ke logika. Berbeda dengan Alesha, outfit yang dia pakai dari atas rambut sampai bawah alas kaki, bisa menjadi santapan hangat para begal. Semua harga outfitnya bikin jantung tidak aman. Dia memang selalu berpenampilan glamor dalam semua acara. 


Acara saling tukar cincin pun dilakukan sekitar sepuluh menit yang lalu. Sekalipun Alesha tidak memakai hijab, keluarga kami tetap menggunakan cara Islam. Jadi acara tukar cincin, dua calon mempelai tidak saling memasang tukar cincin di jari mereka. Tapi dengan cara, Alesha dipakaikan cincin oleh Ibunya Barra. Dan Barra juga menggunakan cincin yang dipasang oleh Papa. Dan para undangan sangat menikmati acara yang kami buat. 


"Alisha, sekarang kamu cantik sekali ya? Dan sekarang kamu lebih kurus daripada waktu kecil." Aku hanya tersenyum masam ketika seorang perempuan paruh baya yang memiliki hubungan darah dengan Mama, beliau ini Kakaknya Mama—Ibudang Fara. Sebagai keturunan orang Bengkulu kami sangat kental menggunakan sapaan layaknya daerah sana. 


"Masya Allah, Ibudang bisa saja. Aku senang mendengarnya. Ibudang Fara apa kabar?" kataku mencoba berusaha menjadi orang ramah. Ibudang Fara, orangnya terlalu ingin tahu urusan orang lain. Sementara aku sebaliknya, orang yang tidak suka dicari tahu tentang privasiku. 


"Alhamdulillah baik Alisha. Sekarang Alesha sudah bertunangan, kamu kapan?"


"Oh tenang saja Ibundang, kalau aku tunangan ataupun menikah, Ibundang pasti hadir. Karena Ibundang salah satu orang yang sangat baik. Betul tidak Mama?" tanyaku malah melempar pertanyaan ke Mama. 


"Betul," jawab Mama sangat singkat. Dan percakapan antar keluarga mengalir begitu saja. Aku dan Alesha pamit untuk menemui sahabat kami.  Aku sengaja mengundang para sahabatku lewat supir pribadinya Alesha. 


"Sha, aku mengundang beberapa sahabat aku. Kalau kamu nggak keberatan, tolong temui mereka. Mereka pasti seneng banget bisa ketemu kamu." Kataku. Alesha bukan orang yang suka menolak ajakan siapapun, terkecuali kembarannya sendiri.


"Ayo," aku agak syok ketika Alesha menyetujui permintaanku. Kami berjalan menemui orang yang aku maksud. Alesha berjalan menggandeng lengan tanganku. 


"Sha, kalau aku udah nikah, kita masih tetep kayak gini nggak ya?" tanya Alesha sangat melankolis. Kepalanya menyandar di bahuku. Padahal Alesha lebih tinggi sepuluh senti dariku. seharusnya aku yang menyender di bahunya. Aku memakai high heels dengan sangat susah payah. Untungnya Alesha menyender jadi aku lebih mudah berjalan dengannya. Beberapa orang menyapa kami, lebih tepatnya Alesha, karena mereka semua tidak mengenalku. 

__ADS_1


"Tergantung sih. Tapi aku nggak tau juga. Kenapa sih, tiba-tiba jadi melankolis gini?"


"Nggak papa, kamu udah punya pacar belum sih? Kenapa nggak pernah dikenalin sama aku?" tanyanya sangat mencerminkan warga Indonesia sekali.


"Nggak ada," jawabku dengan singkat. Sepertinya genetik sifat dari Mama sangat menurun hampir 90 persen, bedanya Mama sangat tidak peduli dengan putrinya yang satu ini. Mama hanya peduli dengan Alesha. 


"Mau aku kenalin sama sahabat aku, nggak? Dia ganteng, cerdas, baik, dan  penyayang. Pokoknya dia itu idaman banget." Katanya mulai mencoba seleksi perjodohan. Padahal tidak ada satupun yang aku mau. Dia tetap saja kekeh dengan pendiriannya untuk menjodohkan kembarannya. Dan aku juga bertindak hal yang sama, aku tetap berdiri atas pendirianku. 


"Lekas deh jodoh-jodohin orang. Tapi maaf nggak bisa menerima tawaran kamu. Karena sisi gelapnya, kalau orang yang tipe idaman banyak orang, itu artinya aku harus bersaing dengan banyaknya wanita yang suka sama dia. Buang-buang waktu." Jelasku.


"Kamu tuh dari dulu nggak pernah berubah. Selalu cuek, nggak terlalu memikirkan sesuatu, dan pastinya susah buka hati untuk orang." Katanya. Bersamaan dengan itu kami berdua sudah sampai di meja yang sudah ditag oleh sahabat aku. Mereka berlima langsung menghentikan aktivitas mereka secara mendadak. Ya aku tahu, apa yang mereka pikirkan.


"Hai Alesha, aku Azura." Kata Azura langsung berdiri mengulurkan tangannya dengan ramah. Wajah anak itu langsung tersenyum gembira seperti baru mendapat uang milyaran tanpa usaha keras.


"Alesha," Kata Alesha menjabat tangan Azura dan berkenalan dengan yang lain. 


"Shabiya,"


"Raffasya, panggil aja Raffa."


"Daniz," Kata mereka semua saling berjabat tangan dengan Alesha secara bergantian. 


"Senang bertemu denganmu Alesha, dan terima kasih juga sudah mengundang kami. Kami senang banget." Kata Azura.


"Ya sama-sama. Terima kasih kalian udah nyempetin waktu buat dateng ke acara saya." Katanya sangat pandai berbasa-basi. 

__ADS_1


"Sebenarnya yang mengundang kalian itu bukan saya. Tapi, perempuan yang berdiri di sebelahku ini yang memiliki privasi yang kuat dan memiliki gengsi yang tinggi. Dia yang memberikan  undangan untuk kalian lewat sopir pribadi keluarga kami." Jelas Alesha, kenapa harus terang-terangan seperti ini? 


"Al, kamu nggak mau jabat tangan sama mereka? Kenapa, apa kalian lagi musuhan?"


"Nggak,"


"Sumpah ya, manusia kayak kamu kok bisa punya sahabat." Katanya sangat menjatuhkan. Kami ini sangat jarang bersikap layaknya sister goals seperti Hadid saudara, Gigi dan Bella Hadid. Kami lebih sering seperti hubungan antara  Jenner bersuadara, Kendall dan Kylie Jenner. 


"Kalian pasti belum tahu, jika aku kembarannya Alisha, sahabat kalian." Jelasnya makin membuka  identitasku. Padahal cukup setahun ini aku berhasil menutup semua kehidupanku. Eh malah sekarang, Alesha membuka semuanya. 


"Gimana-gimana? seriusan? Jadi ini Alisha Adnan." Tanya Shabiya langsung syok. Sementara aku hanya tersenyum simpul tanpa merasa bersalah. 


"Al, kok kamu jadi feminin gini?" tanya Hafizha yang sedari tadi bungkam.


"Kepaksa," jawabku.


"Tapi lumayan juga sih," kata Rafasya sengaja menjeda. 


"Lumayan? Lumayan apa?" tanya Azura si makhluk ingin tahu segala sesuatu.


"Lumayan keliatan jadi cewek." Kata Raffasya asal bicara. Lalu mereka semua malah terkekeh menertawakanku. 


"Serah kalian." 


"Yaudah, saya tinggal dulu. Siapa tahu kalian butuh penjelasan lebih sama Miss privasi. Duluan  ya!" Kata Alesha sengaja menyenggol lengan tanganku. Kemudian ia meninggalkan kami semua. Alesha berjalan lebih cepat dibanding biasanya. Anak itu sengaja menurunkan masalah dengan cara membuka identitasku. 

__ADS_1


...________________...


...To be continoude...


__ADS_2