
...Luapan rasa kecewa...
..._____________...
"Saya setuju," ucap Papa yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Mama. Pria paruh baya yang berstatus menjadi Ayahku itu dengan mudahnya mengatakan dua kata itu tanpa meminta persetujuan dariku terlebih dahulu. Reflek kedua alis ku menyatu.
"Papa," ucapku ingin berkomentar. Namun Papa tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara. Papa langsung mengangkat tangan, beliau memberikan isyarat agar aku tidak membantah. Detik itu aku benar-benar kecewa dengan setiap keputusan Papa. Dan detik itu juga aku mulai marah, kenapa aku harus menjadi bagian dari keluarga Adnan? kalau semua hidup yang aku jalani, aku tidak bisa memilih.
Dan akhirnya aku lebih memilih berlari meninggalkan gedung acara pertunangan. Aku berlari dengan sangat cepat sambil menangis. Aku tahu, aku bersikap tidak sopan dengan mereka semua. Namun aku terpaksa meninggalkan karena aku tidak mau ada hal lain yang terjadi tanpa aku mau. Semua orang yang aku lalui hanya bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengannya. Beberapa kali aku mengucap kata maaf ketika menabrak seseorang tanpa sengaja.
Papa dan Mama mengejarku. Sesekali memanggil namaku. "Alisha tunggu!" namun aku tidak peduli dengan ucapan mereka. Aku terus berlari sambil menutup telinga rapat-rapat dengan earphone.
Semua momen yang terjadi di masa kecilku langsung terlintas di kepalaku. Aku sangat membenci ketika aku ingin melupakan semua momen menyakitkan di masa lalu, malah kembali muncul dengan sendirinya tanpa aku minta. Seakan aku sedang berada di tempat dan waktu yang pernah terjadi.
Dimana momen ketika kami masih duduk dibangku sekolah dasar, Alesha selalu mendapat juara pertama dari kelas satu sampai kelas 5. Disitu aku selalu merasa iri terhadap pencapaian Alesha. Sekalipun aku berada di juara kedua, tetap saja, Mama dan Papa tidak menganggapku sebagai juara. Lalu Alesha diajak jalan-jalan ke Singapura bersama Kak Hanzal sebagai hadiah dari Papa dan Mama karena telah berhasil mendapat juara pertama yang membanggakan. Aku tidak diajak. Mbak Lia bilang, mereka hanya ingin pergi ke rumah sakit. Tapi sampai satu Minggu mereka tidak pulang. Aku menunggu di pintu depan seperti orang bodoh.
Dan seminggu kemudian mereka pulang tanpa menghiraukan keberadaanku. Aju terbiasa tidak dianggap oleh orang terdekatku. Maka dari itu, aku berusaha keras agar aku terlihat baik-baik saja. Sekalipun terlalu menyakitkan. Berpura-pura menjadi baik-baik saja itu lebih baik daripada aku harus mencari simpati orang sekitarku. Aku selalu bertindak mandiri dan berpikir secara dewasa sebelum waktunya. Aku juga orang yang tidak menyukai merepotkan dan juga tidak mau direpotkan. Papa dan Mama selalu membanggakan Alesha dan Kak Hanzal di depan semua orang. Tapi namaku tidak pernah sekalipun disebut oleh kedua orang tuaku. Bahkan namaku saja tidak pernah dikenal oleh siapapun.
Setelah mereka pulang dari Singapura, Alesha menceritakan segalanya dengan sangat detail ketika berada di Singapura. Anak itu selalu berapi-api ketika menceritakan sesuatu. Sementara aku hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Air mataku juga tidak bisa mengalir begitu saja. Sudah terlalu banyak airmata yang aku buang sia-sia. Dan saat itu juga aku berjanji pada diri sendiri, aku tidak akan mengeluarkan air mata kesedihan. Waktu itu kami masih tinggal di kota Bengkulu. Saat itu aku merasa sedih, beberapa pertanyaan pun muncul di benakku. Kenapa mereka tidak mengajakku? Bukankah aku juga putri mereka?
Bukan hanya itu, Mama dan Papa selalu membohongi ku ketika mereka pergi jalan-jalan membawa Alesha dan Kak Hanzal. Entah kemanapun mereka pergi, didalam negeri maupun ke luar negeri. Seharusnya Alesha juga bersikap demikian, dia tidak perlu menceritakan apapun yang terjadi. Menurutku, tidak tahu apa-apa lebih baik, daripada tahu segalanya tapi menyakitkan.
__ADS_1
Terkadang Alesha selalu diberikan hadiah ketika dia mendapat pencapaian atas kerja kerasnya. Berbeda denganku, sekeras apapun aku berusaha untuk mendapatkan sesuatu sampai berhasil, semua hal yang aku lakukan hanya sia-sia, karena tidak akan ada yang peduli sama sekali. Bahkan Kak Hanzal juga bersikap demikian. Aku tidak pernah dekat dengannya. Dan anehnya, baru kemarin-kemarin aku dekat. Aku terus memendam semua rasa iri terhadap Alesha. Hingga pada akhirnya pelan-pelan aku sangat membenci apa yang Alesha miliki. Terkadang aku menjadi asing ketika bertemu Alesha. Aku malas bicara dengannya.
Ketika orang lain bertanya, momen bahagia apa yang kalian lakukan bersama sampai tidak bisa dilupakan? Aku hanya menjawab, tidak ada yang spesial. Karena aku nggak ingat apapun. Padahal kenyataannya aku sangat ingat setiap detail waktu yang aku lakukan dan bersama siapa saja. Sampai detik yang berlalu dan sampai saat ini, aku masih mengingat dengan baik apa yang aku lakukan dan orang lakukan padaku. Aku mengatakan hal itu, karena aku tidak mau Alesha dianggap menjadi musuhku. Sebenci apapun aku terhadapnya aku masih memiliki rasa sayang dengannya. Hanya saja aku sangat gengsi untuk mengungkapkan.
Aku berhenti ketika Kak Hanzal berhasil mengejarku. Dia langsung mencekal tanganku. "Berhentilah berpura-pura peduli denganku! Aku nggak akan pernah percaya dengan drama mu itu, Dokter Hanzal." Kataku sambil berkaca-kaca. Aku tidak akan menangis di hadapan orang yang sedarah denganku.
"Alisha jangan bersikap kekanakan!" katanya dengan tegas. Rahang wajahnya yang tegas mulai mengeras dan pipinya memerah.
"Siapa yang bersikap kekanakan? Aku hanya meninggalkan tamu kehormatan Pak Fatih dan Bu Rumaisha. Karena aku tidak akan pernah mau bersangkutan mereka." Jelasku.
"Alisha, mereka orang tua kita. Tolong dengerin Kakak dulu!" katanya membuat aku tertawa hambar.
"Ingat Dokter Hanzal, adik Anda hanyalah Alesha, Alesha Adnan." Kataku meluapkan semua kekecewaanku padanya. Aku tidak peduli lagi tentang perasaan Kak Hanzal. Aku benar-benar membenci semua keluargaku. Kak Hanzal mulai mengendorkan cekalan tangannya dari pergelangan tanganku. Aku mengusap air mataku lalu berlari menggunakan motor matic, aku tahu siapa pemiliknya. Azura, si ceroboh itu membiarkan kunci motor masih tergantung di lubang kunci. Apa anak itu sengaja memberi makan maling?
...__________...
Setelah melalui jalan raya sampai beberapa kilometer, aku pikir sudah jauh dari jangkauan Kak Hanzal.Tapi ternyata pria itu malah minta keempat sahabatnya untuk mencariku. Aku berhenti di jalanan yang sepi, niatnya aku ingin menelpon Hafizha aku ingin menginap di rumahnya. Tapi aku juga tidak tahu jika Hafizha sudah pulang atau masih ditempat acara. Tapi a aku malah bertemu dengan lima motor moge yang sedang berhenti melingkari motorku. Mereka sengaja membuat aku mati kutu, karena motor yang aku naiki tidak bisa berlari kemanapun.
Kak Hanzal melepas helm dan turun dari motor. Pria itu langsung melangkah cepat ke arahku. "Alisha, pulang sekarang!" kata Kak Hanzal menarik paksa pergelangan tanganku. Aku merasa sakit ketika Kak Hanzal sangat erat mencengkram pergelangan tanganku.
"Dokter Hanzal, saya tidak ingin pulang."
__ADS_1
"Nggak perlu membantah," mata kami saling beradu pandang dengan sorot kebencian.
"Zal, tolong jangan terlalu kasar sama perempuan! Ingat, dia adik kamu. Perlakukan dia seperti kamu memperlakukan Alesha." Kata Barra mengingatkan. Kemudian Barra turun dari motor menghampiri kami.
"Nggak usah ikut campur! Dia bukan adikmu. Ini urusan keluarga kami." Kata Kak Hanzal tidak terima.
"Ya, Alisha keluarga kamu, karena dia adik kandungmu. Saya juga nggak ada keinginan ikut campur. Tapi jangan terlalu kasar sama perempuan. Kendalikan emosi kamu Zal!" kata Barra mengingatkan dengan cara yang tenang.
"Lepasin!" kataku. Tiba-tiba Kak Hanzal melayangkan tangan dan menampar pipiku sangat keras, membuat keempat sahabat Kak Hanzal terkejut karena tidak percaya apa yang barusan dilakukan seorang Hanzal. Aku meringis kesakitan, sampai pipiku mengeluarkan darah.
"Kamu udah gila Zal? Bisa-bisanya kamu menampar adik kamu sendiri. Alisha itu adik kamu, Zal." Kata Barra langsung mencengkram kerah kemeja Kak Hanzal. Pria itu berdiri mematung karena tidak percaya jika dia telh melayangkan tangannya kepada adiknya. Sedingin apapun Kak Hanzal, dia tidak pernah berlaku kasar, apalagi ringan tangan.
"Alisha, Kakak minta maaf," katanya dengan suara bergetar. Dia mencoba meraih tanganku, namun aku tepis.
"Malam ini Anda sudah membuktikan, jika Anda tidak pernah baik padaku." Kataku berdiri menatap tajam mata Kak Hanzal. Aku langsung meminta semuanya agar menepikan motor mereka. Mereka langsung menepikan motor merekA hanya butih bebera detik. Setelah itu aku langsung tancap gas. Aku tidak tahu berapa km/jam gas yang aku tancapkan. Semuanya benar-benar terasa cepat, hingga akhirnya aku lepas kendali dan menabrak truk. Hal terakhir yang aku ingat sebelum kesadaranku hilang ialah, aku jatuh terpental ke rerumputan. Setelah itu aku tidak ingat bagaimana aku bisa menabrak truk.
..._______________...
...To be continoude...
...oke, Alisha mulai meluapkan amarahnya...
__ADS_1