Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
6. Tidak seperti yang kalian pikirkan


__ADS_3

...His mind is not what it seems...


...-Alisha...


..._______...


Biasanya di setiap pertemanan itu saling melengkapi. Ada yang cerdas, bijak sekaligus menjadi penasehat terbaik di lingkungan pertemanan. Ada juga yang cantik sekali tapi otaknya lemot. Tapi ada juga yang bucin dengan pacarnya sampai otaknya dipensiunkan. Dan yang terakhir menjadi beban. 


Pertemanan ku juga seperti itu, Azura—si childish yang manja dan hiperaktif sangat  menjadi beban diantara pertemanan kami. Otak nya lumayan cepat tanggap sesuatu, tapi tindakannya lebih lemot daripada siput berjalan. Santai seperti tidak ada beban, namun tetap menjadi beban di antara kami. Hafizha—si anak yang paling cantik diantara kami, tapi otaknya lemot sekaligus tidak peka dengan lingkungan sekitar. Apalagi jika menjelaskan sesuatu harus ekstra sabar. Bahasa kasarnya, wajah dengan otaknya tidak sinkron.  


Shabiya—paling kalem di antara kami, menjadi penasehat yang baik sekaligus otaknya encer seperti wikipedia. Informasi apa saja bisa masuk di otaknya. Terlebih dia seperti google scholar jurnal berjalan. Semua jurnal benar-benar tersimpan rapi dalam ingatannya. Shabiya ini bisa dikatakan hampir memenuhi syarat paket komplit : cantik, cerdas, berwibawa, multitalenta, dan peka terhadap perasaan orang lain. Sementara aku pelengkap dari mereka semua.


"Mbak Alisha ini mau buat apa toh? Banyak sekali ayam yang dibeli. Emangnya abis?" Kata Mbak Lia selaku pengasuh aku dari bayi. Aksen Jawanya begitu kental setiap pengucapannya.  Beliau ini sangatlah baik, ya walaupun ucapannya itu terlalu sarkas. Jadi jika ada orang yang mengatakan Alisha itu terlalu sarkas itu belum seberapa dengan ucapannya Mbak Lia yang pedasnya minta ampun. 


"Kan nggak semuanya dimakan Mbak,"


"Terus buat apa, kalau nggak dimakan semua?" tanya Mbak Lia lagi.


"Buat masak Mbak Lia. Hari ini aku mau belajar masak." Kataku begitu yakin. Tapi aku sangat meragukan jika Mbak Lia akan membantuku. 


"Kamu serius mau masak ayam, Al? Masak telur ceplok aja gosong, apalagi mau masak ayam. Bisa-bisa bukan ayam yang kamu masak, tapi dapur ini bisa  kebakar." Nah ini dia, si haters yang kebetulan menjadi saudara kembarku— Alesha Adnan. Seperti yang terlihat,  dia baru keluar dari tempat bersemayamnya. Dia sepertinya baru mandi, terlihat dari handuk yang masih dililit di rambut kepalanya. Wangi sabun bercampur dengan parfume sangat mengganggu indera penciuman ku.


"Bisa nggak sih, kalau kamu ahli memasak, seharusnya adik kembaranmu ini nggak diejek mulu? Di ajarin kek, biar bisa masak." Kataku hanya sekali nafas. 


"Aku males ngajarin kamu, karena otak kamu lemot banget." Katanya dengan nada mengejek. Berbicara dengan si princess manja hanya membuat darahku semakin mendidih. 


"Ohoooo, mohon maaf ya Alesha Adnan. Aku nggak seperti yang kamu pikirkan. Buktinya aku bisa meraih nilai yang tinggi lebih dari kamu, cuman bedanya kita beda jurusan." Jelasku membela diri. Aku langsung memasukan ayam ke plastik. 


"Udah berantemnya jangan di lanjutin. Nggak capek apa? berantem dari bayi sampai segede ini." Kata Mbak Lia melerai kami berdua. 


"Loh, ayamnya mau dibawa semua Mbak? Nggak jadi di masak di rumah?" tanya Mbak Lia dengan logat Jawa Tengah. Mbak Lia ini usianya dua kali usia kami berdua. Aku hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.


"Assalamualaikum," kataku sengaja dengan keras persis disamping telinga Alesha. Anak itu langsung komat-kamit membaca mantra tidak jelas. Aku langsung berlari keluar rumah sebelum terjadi perang dunia ketiga. Sementara Mbak Lia hanya mengucap istighfar setiap melihat pertengkaran kami berdua. Sepertinya Mbak Lia perlu diberikan awards orang yang paling tersabar menghadapi aku dan Alesha. 


Tidak aku sangka jika Alesha berlari mengejarku. "Woi, kuping aku sakit tau." Katanya dengan berteriak dan banyak ucapan yang dikeluarkan.


"Alisha berhenti!" katanya dengan melempar sepatu heels dari kejauhan. Karena dia pernah memenangkan olahraga lempar lembing, jadi tidak sulit hanya melempar heels kearahku. 

__ADS_1


Tok, aku meringis kesakitan ketika heels yang Alesha lempar mengenai punggungku. Bukannya berhenti aku malah berlari lebih cepat lagi.  Dia bertindak tenang dan anggun hanya berlaku di luar rumah saja. Beda lagi jika di kandangnya, dia lebih tidak beda jauh dengan singa yang kelaparan. 


"Alisha tunggu!" Akhirnya adegan lari kejar-kejaran pun terjadi. Aku yang sedang  membawa ayam benar-benar seperti sedang cosplay menjadi maling yang ketahuan mencuri ayam dari pedagang kaki lima. Rumah kami begitu luas, jadi sangat aman bagi kami untuk berlari kejar-kejaran.  


"Ya Allah, ya Rabbi," ucap Mbak Lia dari kejauhan. Untungnya kantong ayam dilapisi menjadi 3 kantong plastik kresek. Jadi darah ayam yang masih segar sangatlah aman tidak menetes ke lantai. Bisa di sidang 24 jam oleh Papa. Mendadak aku berhenti berlari ketika Kak Hanzal dan ketiga temannya berdiri tepat di hadapanku. Aku menoleh Alesha yang ikut berhenti mengejarku. Aku langsung mengambil kesempatan untuk berlari menghindari Alesha. 


"Alisha," kata Alesha berteriak sampai puncak amarahnya. Namun aku tidak peduli dengan teriakannya. Aku langsung berlari kencang ke luar rumah dengan membawa motornya Kak Hanzal. 


...__________...


Aku tidak punya tujuan lain selain ke rumahnya Shabiya. Kemarin anak itu meng-cancel curhatnya. Dan aku lupa meminta maaf karena tidak mengabari apapun. Rumahnya tidak begitu luas, namun sangat nyaman untuk ditinggali. Aku mengetuk pintu gerbang sambil mengucap salam. Tidak menunggu lama Bude Mila—Ibunya Shabiya langsung membukakan pintu. 


Beliau ini single parents yang sangat hebat. Ketika mendengar cerita bagaimana beliau harus bertahan hidup hanya dengan putrinya—Shabiya, hal itu membuat siapapun  yang mendengarnya merasa tersentuh hatinya. Ayahnya Shabiya sudah meninggal ketika Shabiya baru berusia tujuh tahun. 


"Assalamu'alaikum Bude," sapaku pertama kali dengan ramah sambil mencium punggung tangan Bude Mila. 


"Wa'alaikumussalam Alisha. Apa kabar, Nak?" tanya Bude Mila dengan sangat antusias. Kata orang Alisha itu judes dan dingin. Sebenarnya tidak seperti itu. Aku hanya bersikap dingin kepada orang yang tidak dekat denganku. Aku akan sangat ramah kepada semua orang walaupun menyapa dengan seulas senyuman. Karena ibadah paling mudah dilakukan ialah menyapa dengan senyum. Sekalipun hal itu aku lakukan agak kaku. Orang yang tidak terbiasa ramah ketika dituntut harus ramah jatuhnya menjadi kaku. 


"Alhamdulillah baik, Bude sendiri gimana kabarnya?"


"Aku bawa tiga ekor ayam, aku kesini mau belajar masak sama Bude. Bolehkan Bude?" jawabku begitu antusias. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semoga saja rumah Shabiya aman sentosa. Jika terjadi sesuatu maka tamatlah riwayatku.


"Tentu boleh, ayo masuk!"


"Apa Biya masih tidur?"


"Tadi baru mandi, biar Bude panggilin dulu. Anggap aja rumah sendiri. Kalau mau teh manis bikin sendiri aja ya." 


"Siap Bude," baru saja kami meletakan ayam di dapur, Shabiya sudah muncul di belakang kami.


"Alisha," 


"Hei," kataku. Anak itu langsung memelukku. Shabiya ini bagaimana sih, aku ini kurang nyaman ketika dipeluk. Bahkan ketika siapapun memelukku, aku merasa seperti membeku di tempat. Aku sangat tidak percaya ketika aku berkonsultasi pada Bucik Dian—sapaan dari kami untuk adik dari Mama. Jadi, Mama itu keturunan orang Bengkulu. Beliau mengatakan, bahwa aku memiliki Haphephobia. Yang merupakan ketakutan yang berlebihan terhadap sentuhan dari orang lain.


"Kecenderungan seseorang nyaman atau tidak dengan sentuhan fisik (pelukan, rangkulan di bahu, menggandeng lengan) merupakan 'produksi' pengalaman di masa anak-anak," kata Profesor Suzanne Degges-White, seorang konselor pendidikan di Northern Illinois University, Amerika Serikat.


Dalam jurnal Comprehensive Psychology di 2012 disebutkan orang-orang yang dibesarkan oleh keluarga yang suka memberi pelukan akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang juga melakukan hal sama.

__ADS_1


Sebaliknya, anak yang tumbuh di keluarga yang jarang memberikan sentuhan fisik seperti cium atau pelukan, ia tidak terbiasa akan hal itu. Sehingga saat tumbuh dewasa ia merasa risih atau tak nyaman ketika dipeluk oleh seseorang. Namun, pada sebagian orang yang jarang mendapat sentuhan saat kecil bisa berbeda dampaknya. Karena ia 'haus' akan sentuhan fisik, malah ia menjadi seseorang yang saat bertemu teman atau sahabat akan memeluk atau menyentuh bahunya seperti disampaikan Suzanne.


"Meluknya nggak usah terlalu erat juga kali, Biya. aku nggak bisa nafas." Kataku, Shabiya langsung melepas pelukannya.


"Heran deh, ada ya orang nggak suka dipeluk. Padahal kita udah sahabatan lama deh Al." Kata Shabiya berkomentar. 


"Lupakan hal itu. Aku kesini mau belajar masak sama Bude." Kataku membuat Shabiya melongo setelah itu dia malah tertawa terbahak. 


"Wait … wait, seorang Alisha Adnan mau belajar masak? Kamu nggak lagi kena saraf kan, Al?" tanya Shabiya tidak percaya dengan ucapanku. 


"Aku serius, Shabiya. Atau aku perlu mendaftarkan diri agar aku bisa mendapatkan posisi 8 keajaiban di dunia?"


"Aku nggak percaya ini. Tapi, aku sangat percaya kalau Alisha selalu melakukan hal dengan sangat sungguh-sungguh. Aku akan bantu kamu Al."


"Terima kasih,"


"Oh ya, sebenarnya ada motif apaan sampai kamu rela pengen belajar masak? Nggak mungkin kamu cuman iseng doang kan?" tanya Shabiya mulai mengintrogasi dan berpikir yang tidak-tidak, padahal kemungkinan besar apa yang dipikirkan Shabiya itu benar. 


"Diam, tandanya ada something." Katanya, mudah sekali Shabiya mengambil keputusan, padahal itu tidak benar.


"Ngarangnya totalitas ya? Percaya deh, aku ngelakuin ini karena aku nggak bisa melakukan basic hidup. Dan aku akan memulai belajar." Jawabku. Shabiya mengangguk tanpa mendebat. Aku tahu, pikirannya tidak seperti yang terlihat. Dia mengangguk untuk manipulasi. Seakan dia mempercayaiku, padahal tidak sama sekali. Dan kami langsung mencuci ayam yang aku bawa. Karena aku orang yang sangat totalitas, aku membawa semua kebutuhan masak. Seperti bumbu dan lain sebagainya. Hanya tidak membawa wajan maupun kompor. 


Di luar rumah Shabiya selalu memakai hijab. Bahkan dia melaksanakan kewajiban menutup aurat sebagai seorang muslimah semenjak usianya menginjak 7 tahun, masya Allah. Jika ada yang bertanya kapan Alisha melaksanakan kewajiban itu? Dengan tegas aku mengatakan, insya Allah secepatnya. Ya walaupun sampai saat ini aku belum memakainya. Aku perlu memantapkan diri agar tidak lepas-pakai. Walaupun hal itu tidak dibenarkan. Karena aku seperti sedang mencari pembenaran untuk menunda sesuatu yang Allah wajibkan kepada seluruh umat Islam, khususnya para muslimah. 


Tapi Shabiya tidak pernah memaksa aku menanyakan banyak hal, seperti halnya, kapan kamu memakai hijab? atau pertanyaan lain yang membuat pemaksaan. Shabiya memang selalu mengingatkan sahabatnya untuk memakai hijab, tapi dia punya cara sendiri yaitu dengan cara yang sangat lembut. Shabiya itu idaman sekali. 


..._____________...


...To be continoude...


...Alisha lama-kelamaan kayak.cenayang, bisa tahu pikiran orang. Hebat....


...Maaf kemarin nggak updey dikaranakan otaknya buntu/ gk bisa mikir. ...


...Jangan lupa tinggalkan vote, komen, dan ikuti profil akun aku biar nggak ketinggalan notif athiyafakiha...


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2