Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
15 Mulai mengagumi


__ADS_3

Tolong setelah baca jangan lupa tinggalkan vote,  komen dan save cerita Mendadak Menikah. Terima kasih. 


..._________...


Aku berlari lebih cepat untuk menyusul Alesha. Aku melihat Alesha dari kejauhan sedang berlari ke arahku. Anak itu benar-benar menyebalkan. 


"Mana orang gilanya?" tanya Alesha dengan nafas terengah-engah. Bisa-bisanya dia lebih khawatir dengan perempuan yang memiliki riwayat stigma negatif dibanding dengan kembarannya sendiri. 


"Aku tinggal. Ngapain juga kamu nanyain perempuan tadi, kalau kamu sendiri ninggalin aku? Terus ngapain juga kamu balik arah? Kenapa nggak sekalian aja lanjutin larinya sampai rumah?" tanyaku dengan beragam pertanyaan.


"Maafin aku, Al. Tadi di sana ada abang-abang godain aku gitu. Ya takutlah, mana badannya gede-gede banget lagi."


"Itu abang-abang apa genderuwo?" tanyaku.


"Elah, ngapain juga bahas abang-abang sih, Al. Ayo kita lanjutin cari bensin oplosan." Katanya dengan semangat. 


"Oplosan? Eceran kali?" Kataku meralat ucapan Alesha.  


"Oh ya, lupa. Ayo!" katanya malah menarik lengan tanganku. Kami kembali berjalan, tidak jauh dari posisi kami ada warung yang berjualan bensin eceran. Kami langsung menghampiri warung tersebut. 


"Jangan lupa, kasih tau Mama sama Papa, kalau besok harus nemenin aku ke Turki." Kataku mengingatkan Alesha. Alesha hanya mengangguk namun tidak mengiyakan. 


Sesampainya di warung yang berjualan bensin. Alesha malah mengambil beberapa minuman kemudian langsung di tegak habis. Ini anak kesurupan apa sih? Sudah tahu dia tidak bawa uang cash, dia malah mengambil minuman sekaligus beberapa kue. 


"Alesha, jangan aneh-aneh pakai acara makan segala. Duitnya bakalan kurang. Aku cuman bawa ung cash 40.000 doang." Jelasku menahan amarah. Dengan wajah tanpa dosa di malah mengatakan,


"Yaudah  sih, bensinnya satu liter aja." Katanya merasa tidak bersalah. Lihatlah, perempuan cantik idaman pria kampus, dia lebih mementingkan isi perut daripada pulang dengan selamat. Padahal aku sendiri lebih memilih menahan haus dan lapar demi keselamatan bersama. Eh dia malah melakukan sebaliknya. 


"Sudah, nggak apa-apa Mbak. Namanya juga orang kehausan, bayarnya biar besok aja. Besok kalian bisa datang kemari lagi." Kata Ibu penjaga warung dengan sangat tulus. Jika diperlakukan baik seperti ini, Alesha bakal semakin melonjak. 


"Tuh dengerin Al," kata Alesha tidak sejalan dengan pikiranku. 


"Bensinnya mau berapa liter, Mbak?"

__ADS_1


"Seliter aja deh, Bu. Tapi mobil kami agak jauh dari sini. Boleh kita pinjam botol sama saringan bensinnya dulu nggak? Nanti kita balikin lagi." Kataku tidak enak hati.


"Oh silahkan nggak pa-pa." Kata Ibunya dengan baik hati.


"Yasudah terima kasih, Bu. Jadi totalnya berapa?"


"Sama bensinnya jadi empat puluh ribu." Kata Ibunya, kemudian aku langsung membayarnya. Dompet tebal, isinya kosong. Seberapa banyak kartu yang ada di dompetku, tetap saja uang cash juga masih sangat dibutuhkan. 


"Terima kasih, Bu."


"Ayo Sha," kataku meminta Alesha agar cepat mengikutiku. Anak itu malah lahap memakan semua makanan yang aku bayar tadi. Dia membiarkan perutnya kenyang, sementara kembarannya menahan kelaparan. 


"Kamu kesana dulu aja deh, aku masih lapar." Jelasnya membuat aku muak. Aku benar-benar kesal dengan setiap tingkahnya Alesha yang tidak perasa. Aku langsung berjalan meninggalkan Alesha tanpa mengucap sepatah katapun. Tidak lupa aku membawa botol bensin sekaligus saringannya. Setelah itu aku berlari menuju mobil kami. Sepanjang perjalanan aku benar-benar ingin menangis meluapkan kemarahanku pada Alesha. 


Untungnya jalanan sepi tapi masih ada penerangan jalan. Setelah beberapa menit, akhirnya aku tiba di tempat mobil yang kami tinggalkan tadi. Aku langsung mengisi bensin sendiri. Kebetulan handphone aku dan Alesha sama-sama lowbat. Hari ini benar-benar hari tidak menguntungkan bagiku. 


Setelah selesai mengisi bensin, tiba-tiba sorot lampu mobil yang lewat menyoroti mobilku. Pemilik mobil sepertinya sengaja mengklakson ke arahku. Dan mobil itu berhenti tepat di belakang mobil ku. Seorang laki-laki masih muda turun  dari mobil dan menghampiriku. 


"Mobilnya mogok kenapa, Sha?" tanya Barra, saat aku dipanggil dengan panggilan Sha rasanya aneh sekali. Karena panggilan itu lebih sering aku gunakan untuk memanggil Alesha.


"Saya bukan Alesha, bensinnya habis. Dan baru saya isi." Jelasku. Barra hanya mengangguk mengerti.


"Terus kamu sendirian, nggak siapa-siapa yang pulang bareng kamu?"


"Ada, sama Alesha. Tapi orangnya malah lagi asik makan di warung." Katanya, perutku malah berbunyi cukup nyaring. 


"Bentar ya!" katanya kembali ke mobil miliknya. Lalu ia kembali menghampiriku dengan membawa paper bag berwarna coklat.


"Ini kebetulan ada roti boy sama matcha blend makan aja Al. Daripada lambung kamu kenapa-kenapa." Katanya. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Dan rezeki anak sholehah mana yang harus aku tolak. Aku sama sekali ada niatan untuk menolak pemberiannya karena sangat lapar sekali. Aku langsung menerima tote bag itu. Dan kebetulan ada minuman kesukaanku, matcha blend.


"Terima kasih banyak, kebetulan lagi laper banget." Kataku, aku tidak ingin basa-basi lagi karena perutku sudah tidak bisa diajak kompromi. Dan aku juga tidak memikirkan bagaimana Barra bisa berada di sekitar sini. Yang aku pedulikan hanya mengisi perut yang sudah terlalu keroncongan. Aku langsung minum matcha blend setelah mengucap basmalah, aku minum  sambil jongkok dan memakan roti boy.


"Pelan-pelan Sha, nanti keselek!" katanya mengingatkan. Hanya membutuhkan sekitar dua menit aku sudah menghabiskan roti boy dan juga minumannya. Aku melihat Barra menyilangkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum. Entahlah senyuman apa itu, ejekan atau senyuman kebahagiaan.  Sepertinya dia baru pulang dari rumah sakit. Dia memakai kemeja biru dongker yang lengannya dilipat sampai siku. Dalam gelap seperti ini saja, Barra masih terlihat pesona ketampanannya. 

__ADS_1


"Barra, terima kasih banyak. Saya berhutang budi sama kamu." Kataku.


"Berhutang budi apaan, orang saya cuman kasih roti boy sama matcha doang." Katanya dengan nada rendah.


"Tapi tetap aja, seenggaknya kamu udah nyelamatin lambung aku yang dari tadi agak sakit. Kalau nggak,mungkin aku akan berakhir di rumah sakit." Jelasku. Bara hanya menganggukkan kepala.


"Yaudah,  saya antar kamu sampai rumah."


"Makasih banyak, tambah banyak banyak dong hutang budinya?"


"Kamu kaya siapa aja sih, Sha? Nggak usah mikirin hutang budi. Sekarang kamu masuk ke mobil, terus jemput keberadaan Alesha. Setelah itu kita pulang!" Katanya, aku langsung masuk ke mobil, kemudian aku melajukan mobil ke arah tempat Alesha makan. Mobil Barra berjalan di belakang mobilku.


Setelah sampai di warung aku melihat Alesha malah sedang asik berbincang dengan  seorang Ibu tadi. Alesha sama siapa saja bisa langsung dekat. Sementara aku sebaliknya, butuh waktu hingga berbulan-bulan agar aku bisa dekat sama orang. Aku turun dari mobil, begitupun dengan Barra.


"Hai Alesha," sapa Barra dengan sangat ramah


"Hai, kok bisa sama Alisha?"


"Nggak sengaja tadi ketemu di jalan pas pulang dari jenguk rumah teman." Jelasnya.


"Oo gitu, kamu udah makan?" tanya Alesha membuat aku semakin panik. Panik jika Barra mengiyakan basa-basi Alesha. Karena dompet aku tidak ada uang cash.


"Nggak usah sok-sok perhatian deh. Kamu makan aja pakai uang aku." Jelasku mengingatkan Alesha. Barra hanya terkekeh.


"Aku udah makan kok, Alesha. Ya udah nggak ada lagi yang kalian lakukan disini kan? Saya antar pulang kalian." Katanya. Apa Barra mencintai Alesha? Kasihan sekali jika dia merasakan cinta yang tulus namun Alesha tidak bersikap demikian. Alesha dan Barra masuk ke mobil masing-masing. Setelah itu mobil kami benar-benar meninggalkan tempat ini.


..._________...


...To be continoude...


...Perhatian banget ya Alisha ini, tapi nggak perhatian sama dirinya sendiri....


...Janga n kebanyakan muji Al, takut sakit hati...

__ADS_1


__ADS_2