Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
14. Musuh dalam Rahim


__ADS_3

...Nggak pernah disayang sama seormag Ibu, tapi sekalinya disayang-sayang malah sama orang stigma negatif (orang gila)...


...-Alisha...


...____________...


Alesha Adnan—anak manja yang hobinya merepotkan saudara kembarnya. Anak itu memang tidak ada insaf-insafnya merepotkanku. Setelah shalat Isya dia mengatakan meminta tolong untuk segera menjemputnya di kampus. Apa dia selalu berpikir bahwa aku driver pribadinya? Padahal dia punya teman dekat, tidak mungkin permintaan seorang Alesha Adnan akan ditolak mentah-mentah oleh siapapun. Terkecuali oleh kembarannya sendiri.


"Kenapa nggak ikut nebeng aja sih? Masih punya sahabat kan? Nggak mungkin banget, seorang Alesha nggak punya sahabat, nggak punya teman dekat. Itu mustahil banget kalau sampai kejadian." Kataku dengan nada penuh penekanan karena menahan amarah. Seperti biasanya, dia memasang wajah setenang  mungkin seperti tidak memiliki pikiran.


"Punya lah. Tapi kalau aku nebeng sama mereka, nggak enak banget, kasian mereka." Jelasnya sangat tidak manusiawi. 


"Aih, giliran sama sahabat atau temen dekat bangnya nggak enak. Giliran sama adik sendiri, sukanya ngerepotin." Kataku sengaja menyindir. 


"Al, tolong ya mau jemput aku." Katanya malah memaksa. Memang kembaran tidak tahu diri.


"Boleh aja sih, yang penting kalau aku udah datang jangan malah pulangnya sama yang lain. Mama sama Papa ada niatan jemput kamu nggak? Aku nggak mau kayak kejadian beberapa Minggu yang lalu. Aku yang jemput kamu, kamu malah pulangnya sama Mama." Jelasku sengaja mengingatkan Alesha.


"Iya adik tersayang, adik yang baik, adik yang cantik dan manis. Aku pasti pulang sama kamu kok."  Katanya memuji tanpa rasa ikhlas.


"Jijik tau nggak? Ucapan kamu itu nggak akan buat aku seneng. Yang ada enek." Kataku malah membuat dia terkekeh.


"Yaudah sih, kesini tolongin!"


"Kali ini nggak gratis." Kataku sengaja mengulur waktu negosiasi.


"Ya ampun Al, sama saudara sendiri kok perhitungan sih." Katanya, banyak manusia seperti Alesha yang hidup dimuka bumi ini. Dia yang minta tolong, dia juga yang memaksa harus ditolongin. Kebanyakan manusia memang seperti itu, jarang sadar diri. 


"Ya harus dong, harus perhitungan. Bukan karena aku sebagai saudara kamu, malah  seenaknya. Karena kalau nggak perhitungan, lama-kelamaan orang modelan kayak kamu itu suka ngelunjak." Kataku terlalu menyadarkan.


"Iya deh, terus apa yang kamu mau?"


"Gitu dong dari tadi, nggak perlu pake acara adu mulut dulu. Besok aku mau ke Turki, mau lomba pacu kuda perwakilan kampus. Tolong kamu bujuk Papa sama Mama biar bisa anterin aku bukan hanya di bandara. Tapi juga nemenin aku di Turki sampai perlombaan selesai." Jelasku. Dia malah diam seperti sengaja pura-pura tidak ada sinyal. 


"Hello Alesha Adnan, nggak usah pura-pura sinyalnya nggak ada ya?" kataku benar-benar naik pitam. Bisa-bisa aku tua sebelum waktunya. Tapi sebenarnya wajahku tidak tua-tua amat, masih seperti anak SMA kelas satu. Aku tipe wajah yang boros dulu waktu SD-SMP karena waktu itu aku gemukan dan selalu dipanggil Ibu-ibu. Padahal aku tidak setua itu. Tapi sekarang malah lebih muda daripada waktu aku masih duduk dibangku SD dan SMP, ada yang sama denganku tidak?


"Kayaknya bakal susah deh minta Mama sama Papa buat nemenin kamu di Turki. Mama sama Papa lagi sibuk dengan proyek barunya di Sumatera Barat."


"Yaudah sih, kalau nggak mau bantuin juga nggak papa. Aku nggak mau maksain juga." Kataku pura-pura pasrah. Padahal aku tahu sekali, jawabannya pasti akan seperti itu.


"Inget ya Sha, di prodi kamu banyak dedemit. Kemarin aja Azura sama Hafizha nggak sengaja ngeliat mbak-mbak berbaju putih, yang kalau ketawa xixixixi." Kataku lalu tertawa layaknya kuntilanak yang gagal. Setelah itu aku tertawa lepas khas tertawaku yang tidak menggelegar.


"Al, jangan gitu dong." Katanya malah ketakutan. Semakin dia ketakutan semakin aku bahagia. 


"Yaelah masa gitu aja takut. Katanya mau jadi dokter." Kataku sengaja menjahili Alesha.


"Elah Al, aku bukan dokter umum atau dokter forensik. Mana berani aku kayak gituan."

__ADS_1


"Oke, tolong sekarang kamu jemput aku! habis itu aku langsung bujuk Mama sama Papa buat nemenin kamu di Turki."


"Baiklah, deal." Panggilan video tertutup. Aku langsung bergegas mengganti baju dengan celana jeans warna biru dan dipadukan dengan outer abaya warna hitam. 


"Giliran di takut-takutin baru sepakat. Dasar Aleshong." Kataku bermonolog tidak jelas. Aku sengaja membiarkan rambut curly ku tergerai. Saat aku turun ke bawah aku melihat Mama sedang bercengkrama dengan Papa. Romantis sekali, giliran sama anak bungsu nya tidak ada manis-manisnya. Yang ada pahit, sepahit denatonium. 


"Jam segini kamu mau keluar kemana lagi, Alisha?" Tanya Papa menoleh ke arahku. Sementara Mama masih memeluk pinggang dan kepalanya sengaja bersandar di dada bidang Papa. 


"Mau jemput Alesha di kampus." Jelasku. Sebelum pergi aku mencium punggung tangan Mama dan Papa secara bergantian.  Mama langsung melepas pelukannya dari pinggang Papa. 


"Pakai mobil Mama aja Al!" kata Mama dengan lembut, aku mengangguk titahnya. Sebentar, Mama memanggil dirinya dengan sebutan Mama didepanku. Ajaib sekali. Kemungkinan besar lidahnya kepeleset. Atau mungkin Mama sedang sakit sampai berlaku seperti itu. Ah sudahlah, tidak perlu aku pikirkan lagi.


"Assalamualaikum," 


"Waalaikumussalam." 


...___________...


Setelah sampai di kampus tepatnya di fakultas kedokteran, aku melihat Alesha sedang berdiri bersama teman-temannya di parkiran prodi kedokteran umum. Aku langsung menghampiri dengan mobil. Kebetulan area parkiran agak sepi. 


Aku turun dari mobil karena Alesha melambaikan tangan kanannya ke atas. "Akhirnya kamu datang juga, kirain bakal nggak mau datang." Katanya langsung berpikir yang tidak-tidak. Padahal aku maunya sih iya.


"Ya datanglah,"


"Al, kenalin ini sahabat aku. Kenalan sendiri aja ya?" kata Alesha.


"Alisha,"


"Asyifa,"


"Lisa,"


"Salman," kami saling berjabat tangan secara bergantian. 


"Oh jadi ini kembaran kamu, Cha?" tanya Asyifa.


"Ya begitulah, kalau gitu kita langsung pamit ya takut nanti kemalaman. Sampai ketemu besok." Kata Alesha menarik lengan tanganku. Setelah itu kami langsung masuk ke mobil. Mobil berhasil meninggalkan area kampus. Ketika sekitar sepuluh menit jarak dari kampus, mobil yang kami naiki tiba-tiba berhenti di area yang sangat sepi. Entah kenapa harus mogok di area yang tidak ada transportasi yang lewat sama sekali. Aku orangnya sangat tenang, sementara Alesha  orangnya yang panikan. Benar-benar saling melengkapi bukan?


"Kok berhenti?" tanya Alesha yang menyadari mobil kami mogok. 


"Bensinnya habis." Jawabku dengan tenang. Lalu kami keluar dari mobil secara bersama-sama.


"Terus kita mau cari bensin dimana Al? Kayaknya jauh kemana-mana deh?" kata Alesha menghampiriku. Anak ini memang takutnya keterlaluan. Ada suara kucing saja dikira kuntilanak.


"Al, kamu denger nggak?"


"Itu kucing, nggak usah mikir aneh-aneh." Lalu aku langsung mengunci mobil, setelah itu kami pergi mencari bensin eceran di pinggir jalan. Alesha ini makannya banyak, tapi tenaganya tidak ada. Baru juga berapa puluh meter langsung mengeluh.

__ADS_1


"Al berhenti dulu ya? Capek banget tau." Katanya.


"Aku sih nggak mau gendong kamu. Tapi kalau kamu mau aku tinggal juga nggak ide yang bagus bukan." Kataku langsung dipelototi Alesha. 


"Jangan gitu, kita selalu bareng sejak di rahim yang sama. Jadi jangan mikir kamu bisa ninggalin aku." Katanya, percaya diri sekali anak ini. 


"Dasar manja." Ucapku. Setelah itu kami mengakhiri sesi debat dan samar-samar aku mendengar seorang wanita seperti sedang berbicara dari arah belakang kami. Pelan-pelan aku menengok ke arah belakang, aku tidak melihat dia sedang berbicara dengan siapapun, karena tidak ada orang disampingnya. "Nina kamu tenang ya sayang, ini Ibu akan selalu ada buat kamu."


"Ibu sayang banget sama kamu, kamu jangan pernah tinggalin Ibu ya?"


"Ibu sayang banget sama Nina." Katanya sangat jelas ditelingaku. Mungkin Alesha tidak mendengar orang itu berbicara. Aku masih berpikir positif jika dia sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Aku sengaja diam pura-pura tidak tahu. Jika aku memberitahu Alesha tentang ini, aku yakin dia akan berkali lipat menyusahkanku.


"Ada apa sih dari tadi kamu menengok kebelakang?" tanya Alesha malah penasaran. 


"Nggak ada apa-apa."


"Bohong?"


"Serius Sha," ketika aku mengatakan hal itu, perempuan itu berada tepat di samping kami. 


"Sha, kamu tenang, kayaknya orang itu orang gila. Kamu tenang, nggak usah panik." Kataku membuat Alesha malah tidak tenang.


"Seriusan itu orang gila?" tanya Alesha memastikan jika aku tidak sedang bercanda.


"Kayaknya sih iya, kamu tenang, kamu nggak usah heboh." Kataku sekali lagi. Entah bagaimana perempuan dengan rambut acak-acakan itu malah menghampiri kami berdua. Kami sudah berada dijalan yang tidak begitu sepi,masih ada transportasi lewat. Dan ada juga rumah-rumah kecil di depan kami sekitar dua puluh meter dari jarak kami.


"Nina? Ini beneran kamu anakku?"


"Nina, kamu Nina anakku? Kamu cantik sekali. Kamu sudah dewasa. Ibu kangen sama kamu sayang, jangan pergi lagi ya?" katanya malah memelukku. Aku sangat terkejut bukan main saat perempuan memiliki stigma negatif ini memelukku cukup erat. Aku hampir kehabisan nafas.


"Maaf Bu, saya bukan anak Ibu. Saya bukan Nina. Tolobg leapaskan saya!" Pintaku.


"Kenapa kamu bilang seperti itu? kamu malu mengakui aku ini Ibumu? Aku ini Ibumu Nina." Katanya malah melankolis. Perempuan ini masih memelukku cukup erat membuat aku kesulitan bernafas. Dan Alesha bukannya menolong, dia malah melangkah ke samping setelah itu dia lari terbirit-birit. 


"Alesha …. kamu mau kemana?" tantaku berteriak.


"Al maafin aku, bukannya aku nggak mau nolongin. Cuman aku nggak berani sama orang gila. Maafin aku!" katanya malah lari semakin cepat meninggalkanku. Dasar kembaran kurang ajar. Dia lari sambil mengucap takbir, kalimat tahlil dan membaca surat Yasin.


"Allahu akbar," ucapnya berkali-kali dengan sangat lantang. Dia meninggalkanku demi menyelamatkan dirinya sendiri. Aku berusaha keras sampai akhirnya aku bisa melepaskan pelukan wanita ini dengan cukup tenaga yang besar, karena aku belum makan apapun sedari siang. Setelah berhasil melepaskan diri, aku langsung lari menghindari wanita yang memiliki riwayat stigma negatif itu, dia menangis cukup keras. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah menyusul Alesha. 


______________


...To be continoude ...


...Terima kasih udah baca, terima kaish yang udah luangin waatu buat vote, komen dan selalu ikuti cerita Mendadak Menikah. Yang belum vote tolong kasih vote ya. Terima kasih. Kalian bisa ikuti akun wp aku biar nggak ketinggalan notif. athiyafakiha...


Note :

__ADS_1


-denatonium, biasanya tersedia sebagai denatonium benzoat (di bawah nama dagang seperti BITTERANT-b, BITTER+PLUS, Bittrex atau Aversion) dan sebagai denatonium sakarida (BITTERANT-s), adalah senyawa kimia terpahit yang diketahui, dengan ambang batas kepahitan 0,05 ppm untuk benzoat dan 0,01 ppm untuk sakarida.


-Stigma negatif : orang yang tidak waras/ orang gila


__ADS_2