Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
24. Patah Hati


__ADS_3

...___________...


Saat mendengar suara Mama memanggil namaku, badanku langsung diam membeku. Lidah ku pun terasa kelu. Beberapa pertanyaan mulai muncul di benakku. Aku berbalik badan ke arah Mama. Aku merasa posisiku sekarang tidak baik-baik saja. Apalagi dengan kondisi mata Mama yang sudah memerah hebat. Aku bingung mendeskripsikan perasaan Mama sekarang. Apakah Mama baru saja menangis? atau Mama sedang marah hebat padaku? 


"Jadi yang dikatakan Alesha itu benar, Alisha?" tanya Mama langsung mengintimidasi.


"Bagaimana bisa kamu mengakui saudara kamu sebagai lawan hidup kamu? Apa kamu juga merasa kalau Alesha adalah musuh terbesar dalam hidup kamu?" pertanyaan itu berhasil keluar dari mulut Mama. Mama mengatakan hal itu dengan rasa kecewa yang besar. 


"Alisha, tolong jawab!"


"Bagaimana mungkin  kamu bisa bersikap kayak gitu sama saudara kamu sendiri?"  


"Kenapa kamu nggak bisa menjawab pertanyaan saya?" tanya Mama dengan nada bergetar, suaranya juga terdengar serak. Aku masih saja terdiam cukup lama. Akhirnya Mama menghampiriku.


"Alisha, tolong jawab pertanyaan saya?" ucapnya dengan nada tinggi.


"Iya benar, aku sangat membenci Alesha Adnan. Aku sangat iri padanya, karena semua yang dia mau, bisa didapatkan dengan mudah. Kenapa Mama nggak tanya? Apa kamu iri sama Alesha?" kataku dengan suara bergetar.


"Sekalipun Mama nggak menanyakan hal itu, aku akan tetap mengatakannya, aku sangat iri dengan semua yang Alesha miliki. Karena Mama, Papa dan Kak Hanzal, selalu mengistimewakan Alesha. Bahkan Mama nggak pernah terlihat ada ketika aku membutuhkan sosok orang tua. Karena itu aku sangat membenci Alesha." Kataku seakan aku tidak habis menangis. Aku mengatakan hal itu secara tegas. Untuk apa aku harus menahan semuanya lagi, kalau Mama juga sudah tahu yang sebenarnya. 


Kenapa posisiku saat ini seperti sedang menjadi seorang antagonis, hanya karena sedang aku iri dengan semua ketidakadilan yang Mama dan Papa berikan pada Alesha.


"Apa Mama pernah melihat aku ada di sekitar Mama? Apa Mama menyadari keberadaanku itu? Apa Mama mengingat, jika aku juga lahir dari rahim yang sama dengan Alesha. Tapi Mama nggak pernah melihatku jika aku ini ada," jelasku berhasil membuat mulut Mama terbungkam. 


"Ada satu momen yang menyakitkan. Saat kita masih tinggal di Bengkulu, saat itu aku masih bersekolah SD. Seluruh keluarga besar berkumpul dan mengatakan padaku, kalau Alisha nggak pernah diberi ASI oleh Ibunya. Sekalipun hanya setetes ASI. Mama tau setelah itu apa yang terjadi?" tanyaku dengan nada rendah sambil menahan diri agar tidak menangis. Mama menggeleng lemah.


"Kabar itu terdengar oleh seluruh teman sekelas. Setelah itu, aku dibully habis-habisan. Hanya karena aku nggak pernah mendapatkan ASI dari Ibu kandungku sendiri. Aku nggak tau alasannya apa. Tapi sejak kejadian itu, semua teman sekelasku menganggap bahwa aku bukan anak Anda, Ma. Mereka selalu mengatai aku, anak tak jelas asal-usulnya. Sampai nggak ada satu orangpun yang mau berteman denganku,"


"Hal itu nggak berlaku satu hari, tapi sampai dua tahun. Hingga akhirnya, ketika kita pindah ke Aceh. Disitu aku mulai memiliki teman kembali. Teman yang bisa dikatakan sebagai teman. Bukan pembully yang berkedok sebagai teman dekat." Jelasku. Setelah mengatakan hal itu, Mama tidak mengatakan apapun lagi. Begitu menyakitkan untuk mengatakan sesuatu yang membuat aku trauma. Mama mengusap air matanya yang berhasil membasahi pipinya. 


"Alisha, maaf." Katanya membuat mataku turun dengan deras. Mama mengusap pipiku yang sudah basah oleh air mata dengan kedua tangannya. Aku memandang wajah Mama dengan tatapan dingin. Entah bagaimana aku tidak sedikitpun terharu atas tindakannya ini. Apa rasa sakit hati aku terlalu dalam? Apa aku memiliki dendam begitu besar pada Alesha? Kenapa aku terlihat seperti orang jahat? 


"Maaf, maaf karena saya nggak pernah ada buat kamu." Kata Mama, air mataku terus mengalir, namun pikiranku kosong.


"Alisha, tolong dengarkan saya! Saya memang nggak pernah perhatian sama kamu. Tapi saya juga nggak bisa biarkan Alesha kenapa-napa. Dari kecil Alesha selalu bergantung sama saya dan Papa kamu. Dia anaknya panikkan. Dia juga selalu keluar-masuk rumah sakit sejak kecil. Itu yang membuat Mama harus mengurus Alesha lebih dari kamu." Jelas Mama.

__ADS_1


"Apa aku perlu sakit parah dulu, biar Mama sama Papa perhatian sama aku?" tanyaku masih menatap Mama dengan pandangan kosong.


"Apa aku perlu harus jadi cantik seperti Alesha, biar Mama memperhatikan aku?"


"Apa aku harus secerdas Alesha yang mampu meraih semua penghargaan internasional di bidang akademik, Biar Mama nggak malu mengakui aku sebagai anak Mama?"


"Ma, tolong jawab?" sekalipun air mataku turun begitu deras, namun aku menanyakan hal itu dengan pandangan tetap kosong.


"Mama, tolong katakan, bagaimana caranya agar Mama bisa memperhatikan sekaligus menyayangi aku,  seperti Mama menspesialkan Alesha? Aku harus jadi kayak gimana, Ma? Tolong katakan sesuatu, agar perempuan muda di hadapan Anda ini bisa mendapat kasih sayang dari orang tuanya?" tanyaku. Mama belum menjawab apapun juga.


"Kalau memang Mama hanya menginginkan satu anak perempuan dan satu anak laki-laki, kenapa Mama tidak membunuh aku saat aku baru lahir. Bukankah hal itu menguntungkan semua pihak. Daripada Anda harus terpaksa membesarkan seorang anak perempuan yang hanya menyusahkan Anda." Kataku, aku merasa tiba-tiba badanku terasa lemas dan entah bagaimana aku merasa pandanganku mulai berputar dan mulai gelap. Aku benar-benar ingin mual karena pusing. 


Aku hanya mengingat sedikit sebelum aku tidak sadarkan diri, aku jatuh ke lantai. Saat itu juga Mama sigap memelukku dengan rasa panik berlebihan. Ini pertama kalinya Mama bersikap peduli padaku.  Dan saat itu juga, aku baru merasakan bagaimana rasanya mendapat pelukan dari seorang Ibu yang telah melahirkanku. Karena seingatku, Mama tidak pernah memelukku. Bahkan dari kecil, karena banyak alasan yang tidak aku ketahui.


..._____________...


Saat aku membuka mata, aku merasa tidak asing dengan aroma yang menyengat pada indera penciuman ku. Ternyata benar, aku berada di rumah sakit. Aku lupa, jika sedari pagi belum memasukkan makanan apapun selain air putih ke perut. Mungkin hal itu yang menyebabkan aku berakhir di rumah sakit. Asam lambungku pasti sudah naik. Apakah Mama yang membawaku kesini? Kemustahilan yang seharusnya tidak pernah terlintas dalam kepalaku.


Pelan-pelan aku mencoba duduk dan mengambil satu buah yang berada di nakas samping bed. Aku mengambil satu buah naga yang belum dikupas. Disitu juga sudah disediakan  pisau. Karena aku merasa lapar hebat, akhirnya aku memotong buah naga menjadi dua dan aku makan dengan sendok. 


Tiba-tiba aku merasa gelisah. Aku memutuskan keluar dari kamar inap. Aku melangkah sampai agak jauh dari kamar inap ku. Langkahku terhenti di tempat ruangan dokter spesialis genetika. Pintu ruangan dokter spesialis genetika itu terbuka sedikit. 


"Kenapa Mama sama Papa ada disana? Kelihatannya juga serius banget?" tanyaku pada diri sendiri. Aku berhenti sejenak untuk mengetahui apa yang terjadi. Mama dan Papa sedang beradu argumen pada dokter itu.


Sejenak aku berpikir. Bagi orang awam sepertiku, dokter spesialis genetika agak asing di telinga kami. Tapi sedikit yang aku ketahui, jika dokter spesialis genetika salah satu kerjanya yaitu, untuk konsultasi melakukan tes DNA pada pasien yang ingin mengetahui dari diri pasien atau keluarganya yang mengalami penyakit bawaan genetik agar cepat mencegah. Atau karena ingin mengetahui anak biologis. Lalu yang jawaban yang benar itu yang mana? 


Apakah di antara kami berdua memiliki penyakit genetik yang serius? Kebetulan aku dan Alesha berada di rumah sakit yang sama. Hari ini aku belum sempat menjenguk Alesha. 


"Cukup berat bagi saya mengatakan hal ini pada kalian. Sebenarnya kami tidak percaya dengan hasil DNAnya." Kata Dokter itu. 


"Apa maksudnya? Tolong jangan bertele-tele." Kata Papa.


"Tes DNA Alesha tidak cocok dengan DNA kalian. Itu artinya kita memerlukan donor darah untuk Alesha. Tapi kebetulan rumah sakit menyediakan golongan darah yang sama dengan golongan darah untuk Alesha." Jelas Dokter pria itu.


"Bagaimana mungkin tes DNA Alesha dengan kami nggak cocok sama sekali. Bagaimana mungkin Alesha bukan anak kita. Tolong periksa sekali lagi!" titah Mama dengan memaksa. 

__ADS_1


"Bu Rumaisha, awalnya saya juga berpikir demikian. Tapi setelah tiga kali pemeriksaan laboratorium, hasilnya sama. Alesha bukan anak kandung kalian."


"Itu nggak mungkin. Saya yang melahirkan Alesha. Bagaimana mungkin Alesha bukan anak kita." Kata Mama langsung tersulut emosi. Papa langsung menenangkan Mama dengan berdiri memeluknya. 


"Ma, tenanglah!"


"Bagaimana aku bisa tenang. Sementara Alesha bukan anak kita. Apa yang akan kita katakan pada Alesha."


"Lalu bagaimana dengan tes DNA Alisha?"


"DNA Alisha cocok dengan kalian berdua. Alisha anak kandung kalian."


"Alhamdulillah," ucap Papa. 


"Setelah kejadian ini, aku nggak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Alesha maupun Alisha." Kata Mama berusaha menenangkan dirinya.


"Apa maksud kamu bicara kayak gitu?" Mama hanya diam cukup lama. Setelah mereka berdebat panjang dan akan memutuskan keluar. Aku segera berlari sambil membawa tiang infusan. Entah bagaimana aku bisa menabrak hidung seorang pria. Tinggi kami tidak begitu jauh. Tinggiku hanya sehidung bawah pria itu. Saat aku mendongakkan kepala, pria itu meringis kesakitan karena hidungnya dan keningku saling bertabrakan tanpa sengaja. 


"Barra? maaf, maaf banget nggak sengaja." Pria itu diam sambil mengusap-usap hidungnya yang memerah hebat. Aku benar-benar merasa bersalah.


"Kan jalannya bisa pelan-pelan Alisha. Nggak usah pakai acara lari juga. Lagian ngapain sih lari-larian pakai bawa tiang infus segala? kamu tuh lagi sakit, lebih baik diam ruangan aja. Bukan malah lari-larian kayak anak kecil." Katanya malah mengomeli ku.


"Maaf, sumpah saya nggak sengaja." Kataku merasa bersalah.


"Iya saya maafin, cepetan balik lagi ke ruang inap! Tolong, temui Hanzal sekarang, Sedari tadi Hanzal nyariin kamu tapi kamu nggak ketemu-temu. Yang dicari malah lari-larian disini." katanya malah mengusirku. 


"Iya iya, Dokter Barra. Saya nggak lari-larian kok." Kataku agak kesal masih mencari pembelaan diri. Pria itu hanya bersikap datar sambil menggeleng kepala.


"Terus kalau nggak lari-larian tadi namanya apa, Alisha Adnan? Merangkak atau lagi jongkok? Udah deh jangan banyak alasan, sekarang cepetan balik lagi ke ruangan kamu!" Katanya, sadis sekali pria bersenelli putih ini. Aku langsung bergegas meninggalkan Barra. 


Alesha, bagaimana mungkin dia bukan anak Mama dan Papa? Apa yang terjadi sebenarnya. Lalu dimana kembaranku sebenarnya? Apa dia masih hidup? Kalaupun iya, sainganku akan bertambah satu lagi. Untuk menghadapi Alesha saja hidupku selalu tidak baik-baik saja. Apalagi yang terjadi hari ini, ternyata Alesha bukanlah anak dari orang tuaku. Tapi sepertinya Mama akan tetap menyayangi Alesha seperti biasanya tanpa berkurang sedikitpun. Dan aku akan tetap menjadi orang asing. Tapi entah kenapa langkahku malah melangkah ke ruang inapnya Alesha. Sekesal apapun aku pada Alesha, tetap saja aku merasa kasihan kalau terjadi sesuatu padanya. 


...___________...


...To be continued...

__ADS_1


...Definisi, sayang tapi benci / benci tapi sayang?...


__ADS_2