
...Rencana perjodohan ...
...____________...
Seperti dugaanku di awal, mereka pasti akan melontarkan banyak pertanyaan seperti aku adalah pelaku kejahatan kriminal. Meja para undangan yang kami tempati ini sepertinya sudah beralih fungsi menjadi meja hijau. Mata mereka berlima sangat serius sekali. Shabiya—anak itu sengaja memberikan aku bernafas lega. Sementara yang lainnya sudah siap memberikan layangan bom pertanyaan kepadaku. Azura mengepalkan tangan kanannya di meja kami. Dengan mata yang sudah memerah menahan amarah. Ia terlihat berusaha keras menahan diri agar tidak meluapkan semua rasa kecewa yang ada dalam dirinya.
"Apa kamu nggak sadar Al? kamu adalah orang yang sangat jahat yang pernah kita temui. Kenapa kamu menutup identitasmu? Jawab Al?" tanya Azura sambil menangis. Semua perkataannya sangat terdengar jelas.
Iya aku paham, Azura sangat kecewa. Bukan hanya Azura, tapi yang lainnya juga. Mereka kecewa karena tidak tahu apa-apa tentangku. Mereka merasa dekat denganku, tapi sebenarnya tidak. Aku hanya tidak ingin membebani masalahku kepada para sahabatku. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan, bukan penderitaan.
"Ayolah, ini bukan masalah besar. Kenapa harus seserius ini sih?" tanyaku dengan berusaha mencairkan suasana setelah Azura benar-benar marah besar. Aku hanya berpura-pura hal jika hal ini hanyalah masalah ringan.
"Kamu tuh gimana sih Al, kamu pikir kita nggak marah? Kamu pernah bilang, kalau kita berenam ini udah kayak saudara. Kenapa kamu malah nyembunyiin semuanya dari kita? Apa semua perkataan kamu itu palsu?" Ucap Hafozha yang sedari tadi mengaduk minumnan yang tidak diminum sama sekali.
"Al, kita sahabatan sudah lebih dari setahun. Dan kita semua tahu baik-buruknya diri kita masing-masing kayak gimana. Dan kita juga sangat tahu satu sama lain tentang baik-buruknya kita semua." Hafizha sengaja menjelaskan panjang lebar hanya untuk mengungkapkan semua rasa kecewanya.
"Aku nggak mau menjadi beban diantara kalian. Maaf." Jelasku langsung.
"Maaf? Kamu bilang maaf? Sumpah ya perempuan yang punya gengsinya tinggi setelah nyembunyiin banyak hal dari kita, sekarang malah cuma bilang maaf." Kata Azura meledakan semua amarahnya. Shabiya terus menerus menenangkan Azura. Namun Azura sama sekali tidak menggubris ucapan Shabiya.
"Azura, tolong tenang dulu! kita bisa bicarakan semua baik-baik. Nggak sopan rasanya kita bahas ini di acara besar keluarganya Alisha. Dia pasti akan berhadapan dengan keluarganya setelah kita membicarakan hal ini disini." Jelas Shabiya begitu tenang. Anak itu memang sangat dewasa, baik wajah maupun pemikirannya.
"Nggak bisa," tolak Azura mentah-mentah dengan nada tinggi. Kami semua menjadi pusat perhatian tamu undangan yang duduk di sekitar kami.
"Kamu tau Al, kamu anak orang kaya yang nyamar jadi anak orang biasa aja. Yang kami kenal, kamu bukan orang terpandang. Sampai aku nggak nyadar, aku salah pilih teman. Aku malu Al, ketika tahu siapa kamu sebenarnya." Kata Azura. Azura anak yatim piatu, dia tumbuh besar di panti asuhan. Dan akhirnya dia bisa kuliah karena mendapat beasiswa. Lalu dipertemukan sebagai sahabat. Dan diperdebatkan karena status sosial.
"Azura, tolong jangan bilang kayak gitu. Siapapun aku, kalian adalah sahabatku sekaligus saudara seimanku. Kamu jangan ngerasa paling rendah. Justru karena hal itu, aku nggak ingin membuka siapa diriku diantara kalian. Karena aku ingin ketulusan dari kalian. Aku mohon, maafin aku,"
"Aku nggak mau kamu menghindar gara-gara ini Ra. Semua manusia dimata Allah itu sama, yang membedakan hanya ketaqwaan dan kebaikannya." Jelasku menyentuh bahu Azura.
"Al," ucap Azura tiba-tiba memelukku. Aku sangat aneh kenapa tubuhku selalu enggan menerima pelukan dari siapapun orang itu. Tanganku sulit sekali bergerak membalas pelukan Azura. Aku malah berdiri mematung saat Azura memelukku secara erat sambil menangis di bahuku.
"Aku juga minta maaf, seharusnya aku nggak semarah ini sama kamu." Katanya membuat aku berusaha keras menahan nafas.
"Nggak papa, reaksi kamu wajar." Kataku.
"Kamu masih mau berteman denganku?" tanyanya seperti ini anak kecil.
__ADS_1
"Tentu."
"Tapi kenapa kamu nggak balas pelukanku?" tanyanya.
"A-aku punya haphephobia." Jelasku agak ragu. Kemudian Azura langsung melepas pelukanku.
"Kamu phobia sentuhan atau pelukan gitu? Kenapa baru bilang? Pantas aja kalau ngeliat kamu dipeluk reaksinya selalu kayak gini. Maaf, maaf karena aku nggak tahu." Katanya. Aku hanya mengangguk mengerti.
"Apa lagi yang kami nggak tau, Al?" tanya Hafizha menepuk bahuku.
"Sedikit, kalian nggak usah khawatir."
"Loh, Raffa kemana?" tanyaku ketika tidak melihat keberadaan Raffa. Perasaan tadi dia duduk disebelahku.
"Tadi katanya dipanggil sama Bundanya." Jelas Devon. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Guys maaf, aku nggak bisa jelasin semuanya sekarang. Lagian ini acaranya Alesha. Aku nggak mau bikin keributan disini. Aku janji, besok aku akan bahas ini semua di rumahnya Hafizha." Jelasku. Mereka semua mengangguk mengerti. Mbak Lia datang menghampiriku.
"Mbak Alisha," panggilnya. Baru kali ini aku melihat Mbak Lia berpenampilan sangat stylish. Dia memakai celana bahan dan blazer bermotif dengan warna senada, cokelat muda. Dan menggunakan hijab warna hitam. Sungguh, dia terlihat charming sekali.
"Mbak Lia, ada apa?" tanyaku dengan lembut.
...__________...
Aku berjalan berdampingan dengan Mbak Lia. Tempat duduk Mama ternyata tidak jauh dari tempat kami tadi berkumpul. Aku tersenyum sebagai formalitas kepada orang yang dituju. Aku merasa bingung, bagaimana caranya aku memulai pembicaraan.
"Alisha, kenalin ini Bu Ima dan Pak Dwi. Mereka adalah teman bisnis Papa."
"Assalamualaikum, Tante, Om, saya Alisha. Senang berjumpa dengan kalian." Kataku, kemudian mencium punggung tangan mereka.
"Wa'alaikumussalam, kamu cantik sekali Alisha. Salam kenal Alisha, saya Dwi. Dan sebelah saya ini istri saya, namanya Ima."
"Masya Allah, terima kasih."
"Silahkan duduk!" Kata Om Dwi. Aku melihat Tante Ima sangat diam,bahkan lebih pendiam dariku.
"Bu Rumaisha, apa Alisha udah punya calon juga seperti Alesha?" tanya Om Dwi.
__ADS_1
"Belum,"
"Alhamdulillah. Em, kalau Ibu nggak keberatan, saya ingin menjodohkan putera saya dengan Alisha. Itupun kalau Bu Rumaisha nggak keberatan."
"Alisha sepertinya belum ingin menikah, Bi." Kata seorang laki-laki yang tidak asing denganku, dia berdiri dibelakangku. Benar, dia Raffasya.
"Raff?" ucapku. Dia langsung duduk disebelahku.
"Hai Al, maaf kalau hal ini agak sensitif buat kamu. Aku baru tau kalau kamu anaknya Om Fatih dan Tante Rumaisha." Jelasnya tanpa diminta.
"Sepertinya kalian udah saling mengenal dengan baik."
"Iya benar Tant, kami satu fakultas, satu prodi bahkan satu kelas. Dan Alisha juga sahabat baik aku." Jelasnya lagi.
"Menarik, Alisha orangnya sangat privasi. Bahkan saya nggak tau kalau dia memiliki sahabat." Jelas Mama membuat aku merasa seperti bukan putrinya.
"Apa Alisha punya pacar?" tanya Mama ke Raffasya.
"Loh jadi Tante sendiri nggak tau soal ini? Yang kami tahu, Alisha nggak punya pacar sama sekali." Jelas Raffa.
"Kenapa Bu Rumaisha tanya sama Raffa? sementara Anda ini kan Ibunya Alisha?" tanya Om Dwi menaruh curiga. Ya bagaimana Mama tau, kalau kami aja nggak dekat. Kami hanya memiliki darah yang sama. Aku lahir di rahimnya. Tapi tentang kedekatan bathin, sangatlah jauh.
"Em, maksud Mama gini Om, biasanya seseorang akan lebih terbuka ke sahabatnya, dibanding dengan Ibunya. Mama sangat pengertian, jadi Mama nggak pernah tanya kamu punya pacar apa nggak? Karena Mama sangat tau bagaimana menjaga privasi putrinya agar saling mengerti satu sama lain." Jelasku dengan alasan yang masuk akal. Bijak sekali bukan? Sebenarnya aku hanya ingin menutupi sesuatu terjadi kepada orang yang sangat berjasa melahirkanku. Aku tidak mau citra Mama dianggap buruk oleh rekan kerja samanya.
"Hebat sekali cara didik Ibu dengan anak-anak Ibu. Saya yakin, kedua putri Ibu sangatlah membanggakan orang tuanya." Puji Om Dwi.
"Terima kasih atas pujiannya." Rasa ingin berteriak, maaf, bukan aku yang dibanggakan. Tapi Alesha dan Kak Hanzal, karena mereka berdualah merupakan berlian di keluarga Adnan.
"Saya tertarik menjadikan Alisha sebagai menantu saya. Apa Ibu setuju?" pertanyaan dari Om Dwi berhasil membuat mulut Mama bungkam. Perjodohan bukanlah perkara bisnis, yang ketika menerima akan saling mendapat keuntungan uang triliyunan. Atau ketika mengucap penolakan, akan mendatangkan kerugian milyaran bahkan triliyunan. Ini bukan perkara bisnis, tapi perkara hidup dua orang yang saling tidak menyukai yang harus berada di jurang yang curam yang tidak diinginkan.
...__________...
...To be continoude...
...Oke, masalah mulai muncul...
...Terima kasih sudah berkenanembaca cerita aku. Selengkapnya kalian bisa baca cerita yang lainnya dengan klik athiyafakiha ...
__ADS_1
...Jangan lupa klik suka, komen dan gift, save Sha & Sha. Terima kasih....