Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
5. Pentingnya menurunkan ekspetasi


__ADS_3

...Nyatanya aku hanya terlampau berekspektasi, yang pada akhirnya aku terjatuh dalam harapanku yang terlampau tinggi. ...


...-Alisha Adnan...


..._____________...


Perempuan itu memiliki bakat intel yang tinggi, bahkan menjadi hacker pun sepertinya aku mampu. Perempuan ketika diberi inisial hanya satu huruf pasti sangat  cepat mengetahui sampai akar maupun ranting-rantingnya.  Ya walaupun aku hanya mampu membajak akun instagramnya Kak Hanzal, dan kejadiannya kemarin malam. Tapi ini hanya dari pikiranku saja, sepertinya belum ada jurnal yang membuktikan tentang karakteristik seorang perempuan memiliki bakat intelligence. 


Dan sepertinya urusan semalam tidak akan terlewat begitu saja. Aku pikir Kak Hanzal tidak begitu teliti ketika aku membuka akun instagramnya dengan memposting foto yang tidak Kak Hanzal sekali. 


"Ini maksudnya apa sih Alisha? Harga diri Kakak hancur gara-gara postingan ini tahu nggak?" katanya dengan nada kesal.


"Foto yang mana?" tanyaku pura-pura tidak mengetahui apa yang dimaksud Kak Hanzal. Padahal ingatanku cukup tinggi untuk mengingat sesuatu sekalipun itu hal sepele. 


"Lihat ini," kata Kak Hanzal memberikan tab iphone berwarna silver. Aku hanya tersenyum simpul, ketika melihat ada 17.200 hanya untuk mengomentari fotonya dengan caption cute banget deh wkwkwkwk. Kurang kerjaan sekali mereka ini. Padahal tidak ada satupun komentar yang Kak Hanzal jawab. Dan Inilah fotonya, aku mengambil foto ini ketika dia sedang jaga malam di rumah sakit. 


...


...


...


...


Aku tidak mampu menahan diri untuk tidak tertawa, menertawakan aib seorang saudara sendiri adalah sebuah kebahagiaan terbesar bagi seorang adik.


"Lagian fotonya masih bagus kok. Biar orang itu nggak selalu mikir, kalau Dokter Hanzal selalu serius terus seperti yang terlihat di instagram milikmu, Kak." Kataku memberikan komentar.


"Tetep aja, harga diri aku jatuh." Katanya, kemudian aku melihat sekilas Kak Hanzal mengarsipkan feed postingan yang aku posting semalam. Jadwal menjadi ppds anak memang agak padat. Sebenarnya dari dulu pun Kak Hanzal tipe orang ambis belajar. Dimanapun ada buku, seminar, dan peluang mendapatkan ilmu, maka disanalah Kak Hanzal berada. Aku merasa energi Kak Hanzal itu tidak habis-habis. Justru aku sebagai introvert sangat sulit mengimbangi karakternya yang ekstrovert sekaligus hiperaktif. 


"Kak, aku minta maaf udah membajak akun instagram Kakak." Kataku setulus mungkin. Pria itu hanya mengangguk tanpa bersuara. Kak Hanzal sekalinya marah, diamnya lebih menakutkan daripada dia mengucapkan kalimat yang menyakitkan.   


"Tapi Kak, lain kali Kakak juga nggak perlu iseng jadiin aku sebagai taruhan dengan sahabatnya Kakak itu." Jelasku mengingatkan masalah kemarin. 


"Oh soal itu, Kakak nggak ada niatan jadiin kamu taruhan. Cuman kemarin si Shaka pengen kenal kamu, dia penasaran banget. Tapi malah si Barra yang gercep jemput kamu sampai ke kampus." Jelasnya. Sulit sekali mempercayai seorang Hanzal Adnan.


"Kenapa, nggak percaya?" selain menjadi Kakak yang menyebalkan, pria ini begitu cepat menganalisis mimik wajah semua orang. Mungkin karena terbiasa menganalisis dan mendiagnosis penyakit pasien jadilah seperti ini. Kebiasaan di tempat kerja sampai terbawa dalam kehidupan sehari-hari. 


"Mama ngajakin kita ke mall," katanya membuat alisku berkerut. "Pak Didi, tolong anterin kita ke mall ditempat biasa." 


"Baik Mas, Mbak Alisha mau ikut atau mau.saya antar pulang?" tanya Pak Didi seolah tahu apa yang harus aku lakukan. 


"Apa Mama nggak salah ngajakin aku kesana?" tanyaku memastikan. Karena hal ini cukup punah ketika Mama mengajakku pergi ke mall.


"Ya enggak lah, Al. Kakak sarankan kamu jangan selalu menghindar ajakan Mama terus. Itu akan membuat kamu canggung ketika ngobrol sama Mama maupun Papa. Mereka itu orang tua kita Al." Jelasnya. 

__ADS_1


"Maaf, aku nggak bisa ikut. Shabiya tadi mengirim pesan nyuruh semua anak ketemuan." Kataku beralasan. Aku tidak yakin jika Kak Hanzal akan mengizinkan aku pergi.


"Apa kamu lebih mementingkan sahabat kamu, daripada keluarga kamu sendiri? Sahabat maupun teman bisa dicari dimana saja, Alisha. Tapi orang tua nggak bisa dicari dimana-mana. Kalau Mama tau alasan kamu kayak gitu, Kakak yakin, Mama pasti bakalan kecewa berat." Jelasnya. 


"Kali ini Kakak nggak akan biarin kamu menghindar lagi. Apa kamu nggak capek? bohong terus dengan buat alasan yang nggak jelas, hanya cuman mau menghindari orang tua kita."


"Kak, kalau Mama bisa kecewa berat dengan semua alasan dan tindakan aku, bagaimana dengan keputusan dan alasan yang nggak logis yang Mama sering buat untuk aku?" tanyaku padanya.


"Kakak tahu, Mama sama Papa nggak pernah adil sama kamu. Tapi kali ini aja Kakak minta tolong, tolong temui Mama. Kakak yakin semuanya pasti akan berjalan normal."


"Nggak semudah itu, Kak. Kakak tahu, sampai kapanpun aku nggak akan bisa jadi Alesha Kak," 


"Kakak nggak nyuruh kamu jadi Alesha. Kamu berhak jadi diri sendiri Al."


"Tapi Mama nggak pernah peduliin itu. Mama pengen anaknya itu perfect. Dan aku itu jauh dari kata perfect Kak. Aku nggak secantik, secerdas, maupun seterkenal Alesha."


"Tapi wajah kamu tetap manis dan enak dipandang, Al."


"Bohong. Pujian Kakak nggak akan membuat pikiranku berubah." Kataku sangat datar.


"Sebenarnya Kakak nggak mau maksa kamu untuk ngelakuin hal yang nggak kamu suka. Tapi Kakak juga nggak mau kalau nantinya kamu akan sangat jauh dari orang tua kita." Jelasnya sambil memegang punggung tanganku. Ia sengaja menggenggam kedua telapak tanganku.


"Al, kali ini aja tolong dengerin Kakak. Kamu pasti bisa melawan ketakutan dalam diri kamu!" Katanya membuat air mataku sulit terbendung. Baru kali ini Kak Hanzal memperlakukan aku seperti adiknya. Dan baru kali ini juga pria yang duduk di sebelahku bertindak layaknya seorang Kakak.


"Kalau mau nangis, nangis aja!" katanya lagi, ia menarik badanku, kemudian memelukku. 


"Nangis aja sekeras mungkin, kalau itu membuat hati kamu tenang Al. Mulai hari ini, Kakak janji sama kamu dan diri Kakak sendiri, akan jagain kamu."


"Tolong maafin Kakak, mungkin ini telat, karena Kakak nggak pernah mengerti tentang keberadaan kamu."


"Pak Didi maaf, tolong minta tisunya dong." Kata Kak Hanzal minta Pak Didi mengambilkan tisu didepan kursi pengemudi.  


"Terima kasih Pak."


"Sama-sama, Mas.


"Ini ingusnya bersihin sendiri." Katanya begitu menyebalkan sekali. Baru saja aku merasa nyaman sekarang sudah beda suasana.


"Aku nggak bisa berharap lebih bisa berada di posisinya Alesha. Aku juga nggak mau maksain Kak Hanzal sayang sama aku." Kataku.


"Turun yuk, Kakak mau beliin boneka." 


"Aku bukan anak kecil, dan aku juga nggak suka boneka." Jawabku. Sebenarnya ada rasa trauma tersendiri mengapa aku tidak menyukai boneka. Selain matanya serem, aku pernah dijahili waktu masih sekolah dasar, waktu itu aku di kunci di ruangan gelap dan ditemani boneka besar yang matanya tajam. Aku tidak tahu siapa pemilik boneka itu, yang pasti mereka semua menjahili aku sampai aku menangis histeris. Ditambah ada suara kuntilanak yang entah dimana sumbernya. Sampai paginya aku ditemukan oleh petugas sekolah dalam keadaan pingsan. Setelah sadar dari pingsan, aku hanya ketakutan sambil menangis. Aku terkurung dalam ruangan gelap selama satu malam. Perutku keroncongan, ditambah berat badanku gemuk.


"Kenapa nggak suka?" tanya Kak Hanzal membuyarkan lamunanku. Mengingat momen yang terjadi di masa lampau yang penuh luka dan trauma itu seperti menggali kubur sendiri. Karena terlalu menyakitkan ketika momen kelam itu tiba-tiba harus teringat kembali.

__ADS_1


"Ya karena matanya serem." Jawabku dengan suara yang gemetar.


"Ayo turun!" kata Kak Hanzal. Aku cukup ragu ketika kaki kanan ku harus turun dari mobil. Aku menenangkan diri sebelum masuk ke mall. 


...________...


Aku melihat Mama dan Alesha sedang bergurau gembira sambil memilih baju yang mereka sukai. Aktivitasnya berhenti ketika Kak Hanzal dan aku berjalan menghampiri mereka. "Baguslah kamu sudah ada disini. Tolong ganti baju kamu dengan dress ini!"


"Untuk apa?"


"Untuk acara pertunangannya Alesha dan Barra. Acaranya akan diadakan besok malam. Kamu harus datang." Jelas Mama. Aku cukup syok ketika mendengar penjelasan Mama. Hal besar sekalipun yang terjadi didalam keluarga kami pun aku tidak mengetahui. Alesha mau bertunangan, dan aku sebagai adik sekaligus kembaran Alesha tidak tahu sama sekali. Aku pura-pura bersikap biasa saja, seolah tidak kecewa dengan hal yang terjadi secara tiba-tiba. 


"Ini dres yang akan kamu pakai nanti." Kata Mama memberikan paper bag kertas berwarna abu tua. Aku pamit lebih dulu mengganti bajuku. 


"Terima kasih," 


Hanya membutuhkan beberapa menit untuk mengganti baju. Kini aku sudah mengganti bajuku yang tadinya memakai celana jeans biru muda dan outer abaya hitam, sekarang berubah menjadi gaun hitam legam dengan sedikit print di bagian dada, dan sisa kain yang terurai polos tanpa motif dari pinggang hingga ujung kaki. Bagian lengan tangan juga panjang sampai pergelangan tangan.  


Aku melihat dari pantulan papan kaca besar di ruang ganti. Aku sedikit terkejut dengan perubahan penampilan feminin ku. Ada yang sedikit berbeda denganku. Aku terlihat sedikit menawan dalam gaun ini. Karena aku tidak terlalu suka memakai jeans ketat, jadi aku sangat suka gaun yang Mama pilihkan untukku. Ketika aku keluar dari ruangan ganti. Mereka bertiga agak terkejut melihat penampilanku saat ini. Padahal tidak terlalu pangling. Wajahku saja tanpa riasan make up yang tebal. Aku hanya menggunakan bedak tabur dan lipstik saja.


Kak Hanzal memutari lengan tanganku dengan tangannya layaknya orang berdansa. Badanku reflek memutar. "Ini beneran kamu Al? Pangling banget. Nah gini baru perempuan, bukan kayak abang-abang lagi." Katanya. Apakah dia sedang memuji atau mengejek sih?


"Aku bukan abang-abang penjual bakso." Kataku tidak terima. Baru pertama kali ini aku melihat Mama tersenyum tulus padaku. 


Mama menghampiriku, beliau memastikan sesuatu, mungkin takut ada kesalahan dari gaun yang aku pakai. Mama memutarkan badanku, " Mbak, saya pilih yang ini untuk Alisha." Kata Mama kepada salah satu pegawai butik ini.


"Apa kamu nyaman pakai ini?" tanya Mama berhasil membuat aku seperti orang  linglung. Aku nggak lagi mimpi kan? Kenapa tindakannya manis sekali. Lebih manis daripada madu. 


"Alisha, apa kamu nyaman pakai dress ini?" tanya Mama kembali membuyarkan lamunanku.


"Nyaman kok Ma," Jawabku singkat.


"Baiklah kalau gitu, saya dan Alesha harus  pulang duluan. Hanzal, tolong antarkan Alisha dulu ke rumah." Kata Mama.


"Iya Ma,"


"Terima kasih." Kata Kak Hanzal. Aku pikir tindakan Mama tadi akan berlangsung cukup lama. Namun nyatanya aku hanya terlampau berekspektasi, yang pada akhirnya aku terjatuh dalam harapanku yang terlampau tinggi. Mama dan Alesha sudah pergi sampai punggungnya pu  tidak terlihat lagi. Aku menghela nafas, kemudian aku minta Kak Hanzal untuk menunggu sebentar, karena aku ingin mengganti baju.


..._____________...


...To be continoude. ...


...Peluk Alisha dari jauh. Tenang Al, kamu pasti bisa dapatin kasih sayamg yang kamu mau....


...Terima kasih udah mampir dilapak sha&sha semoga suka dan nggak mengecewakan. Kalau ada saran silahkan komen. Terima kasih. ...

__ADS_1


.


__ADS_2