
__________
Jangan lupa tinggalkan vote, komen dan save Mendadak Menikah, kalian bisa ikuti akun wp aku athiyafakiha biar nggak ketinggalan notif dariku Terima kasih. Terima kasih juga sudah mampir ke lapak aku. Jangan lupa tag mention ig athoya_faqiha
...__________...
...Bertemu Crush...
Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang-Banten.
Seperti yang aku minta tadi siang, Azura, Raffasya, Hafizha, dan Devon mengantarkan aku sampai ke bandara. Memang baik sekali mereka ini. Jiwa menjaga orang terdekatnya memang perlu diacungi dua jempol.
"Dev, Raff, tolong jagain si kecil yang manja ini ya!" kataku pada Devon dan Raffasya. Devon mengangguk setuju sambil mengacungkan dua ibu jari ke arahku.
"Nggak sadar diri banget yah, padahal kamu yang paling muda diantara kita, apalagi wajah kamu juga sangat mendukung paling muda diantara kita. Ya walaupun cuman beberapa bulan doang sih." Kata Azura tidak terima dengan ucapanku.
"Yaudah sih, jangan ditekuk gitu mukanya! Yaudah Fizha, Devon, Azura, Raffa, aku pamit ya?" kataku melambaikan tangan kiri pada mereka. Azura ini terlalu physical touch untuk aku yang physical distancing. Dia memelukku dengan erat.
"Cepat pulang yah! Jangan lupa bawa oleh-oleh. Kalau bisa bawa satu anabul dong! Soalnya kucing dari Turki lucu-lucu." Kata Azura si penyuka kucing. Sementara aku tidak terlalu menyukai kucing. Tapi tidak membenci juga. Hanya saja aku sering waspada dan siap mental ketika kucing mendekati ku.
"Alisha aja takut sama kucing, gimana ceritanya kamu minta bawain anabul? Lagian kucing dari Turki nggak boleh dibawa sebagai oleh-oleh kali, Ra." Kata Devon angkat bicara. Devon ini seorang playboy, tapi anehnya dia sangat menjaga pertemanan kami sangat dengan baik. Bahkan ketika kami berempat diantaranya, aku, Azura, Hafizha dan Shabiya menyukai seseorang langsung di cari tahu siapa pria yang sedang disukai. Katanya jangan sampai pilih orang.
Aneh sekali. Dia yang banyak menyakiti perasaan perempuan di luaran sana. Tapi dia sendiri begitu erat menjaga kami, sampai dia tidak ingin laki-laki bad attitude menyakiti kami. Aku hidup di lingkungan para buaya yang erkadang sifatnya seperti bunglon. Jadi aku tahu seluk-beluknya para pria dengan baik saat mereka sedang mendekatiku. Aku juga orang yang tidak mudah terbawa perasaan kepada lawan jenis.
"Kalian duluan aja ke mobilnya! Nanti aku nyusul. Aku mau bicara sebentar sama Alisha." Kata Raffasya memasang wajah serius. Setelah itu mereka bertiga langsung kembali ke mobil. Dan sisalah kami berdua.
"Ada apa, Raff?" tanyaku.
"Orang tua aku ingin memastikan jawaban kamu Al, apa kamu beneran mau menolak perjodohan kita? Apa kamu nggak mau kasih kesempatan sekali aja?" tanya Raffasya masih membahas tentang perjodohan. Aku pikir topik itu sudah selesai dari tadi sore. Ternyata masih berlanjut sampai sekarang.
__ADS_1
"Raff, aku minta maaf. Aku nggak bisa. Pertemanan yang didasari oleh cinta itu biasanya nggak selalu langgeng. Kalau hubungan itu putus, maka persahabatan kita juga putus. Nggak sedikit juga banyak orang yang saling membenci satu sama lain karena putusnya sebuah hubungan. Padahal awalnya baik-baik aja."
"Baiklah, aku juga nggak bisa maksain apa yang yang orang tua aku pengen. Aku minta maaf, karena udah terlalu banyak nyudutin kamu untuk hal ini. Sekali lagi aku minta maaf!" katanya. Aku mengangguk.
"Aku juga minta maaf karena jawaban aku nggak seperti yang keluarga kamu mau. Sekali lagi aku minta maaf." Kataku. Setelah itu kami berpisah. Aku menarik koper dengan kanan. Aku memakai outfit celana jeans warna putih dan outer abaya warna hitam pekat. Orang-orang selalu berpikir jika aku tidak mengganti pakaian. Padahal aku memakai pakaian hampir setiap hari warna hitam. Aku hanya memiliki warna lain selain hitam bisa dihitung dengan jari. Aku juga memakai syal, yang nantinya bisa aku gunakan untuk berhijab ketika waktu shalat tiba. Aku sengaja memakai outer abaya full kancing yang nantinya aku bisa shalat di pesawat dengan mudah.
Kenapa aku malah berpikir, jika Raffasya menerima perjodohan orang tua kami bukan terpaksa. Melainkan dia menyukaiku. Tapi jika benar dia menyukaiku, dari kapan? Kenapa aku tidak peka sama sekali. Ketika memasuki tahapan cek-in pikiranku speaking bercabang. Setelah selesai aku langsung berjalan, tidak sengaja aku menabrak seorang laki-laki yang mengenakan topi warna putih, dengan outfit jaket bomber warna mocca dan celana jeans warna hitam. Aku berusaha mengingat siapa pria di depanku ini yang tidak sengaja aku tabrak.
"Deva?" ucapku berhasil mengingat siapa pria yang berdiri di depanku. Bibirku reflek tersenyum tipis. Entah bagaimana aku mengungkapkan perasaanku saat ini, yang pasti aku merasa bahagia sekali bertemu dengannya. Sampai jantungku berdegup cukup kencang.
"Hai Alesha, apa kabar?" sapanya dengan ramah. Senyumanku seketika lenyap ketika dia mengira bahwa aku Alesha. Padahal wajahku dan Alesha sangatlah berbeda.
"Saya Alisha, bukan Alesha." Kataku meralat ucapannya.
"Oh Alisha? Maaf, saya pikir kamu Alesha." Katanya. Setelah itu benar-benar hening. Kami melanjutkan berjalan ke pesawat mengingat pesawat akan segera berangkat.
Kebetulan—satu kata yang menggambarkan sesuatu yang sedang terjadi saat ini. Sekalipun kebetulan itu menyenangkan, tapi aku tidak yakin jika kebahagiaan ini akan bertahan lama.
Empat tahun, bukanlah waktu yang singkat. Empat tahun kami tidak pernah bertemu setelah perpisahan SMP. Dan sekarang tiba-tiba saja secara kebetulan aku bertemu dengan Deva. Kebetulannya tidak sampai disana, aku duduk disebelahnya. Seorang laki-laki yang berhasil membuat aku jatuh hati dan memendam perasaan sedalam itu sampai saat ini. Perasaan yang tidak pernah berkurang sedikitpun.
Aku benar-benar canggung ketika Deva mengajakku berbincang. Selama kami mengenal, kami tidak pernah berbincang banyak, terkecuali sedang ada keperluan. Dia masih seperti dulu, ramah, baik kepada semua orang. Bedanya sekarang wajah Deva ditumbuhi rambut halus di pipi dan dagunya, membuat tampilannya semakin maskulin. Terakhir waktu kami masih SMP badanku sangat subur dan sangat berbeda dengan sekarang.
Fakta paling menarik ialah, Deva tidak tahu aku menyukainya sejak lama. Dan sangat menarik jika perasaan ini terus aku pendam. Karena aku tidak tahu jika Deva sudah memiliki pasangan atau belum. Karena selama yang aku tahu dari mengikuti instagramnya, dia tidak pernah sekalipun memposting pasangannya. Mungkin Deva orang yang sangat menjaga privasi sama sepertiku. Kemudian Deva duduk disebelahku. Rasa canggung itu mulai tinggi, untung saja Deva orangnya friendly yang bisa mencairkan suasana. Dari dulu aku sangat pendiam, ya saat ini juga masih pendiam. Aku lebih banyak berbicara kepada orang yang aku anggap sangat dekat dan tulus menganggapku sebagai orang terdekat mereka. Dia tersenyum simpul.
"Gimana kabar kamu?" tanyaku.
"Alhamdulillah baik, hampir saya nggak ngenalin kamu. Saya pikir kamu Alesha. Ternyata malah saudara kembarnya. Kamu sendiri gimana kabarnya?." Katanya.
"Alhamdulillah baik," jantungku benar-benar tidak tahu diri. Aku takut jika Deva mendengar detak jantungku. Karena benar-benar terdengar sekali oleh telingaku. Tanganku sudah berkeringat dingin. Aku berusaha keras untuk menyembunyikan wajahku yang memanas, aku tidak yakin jika wajah tidak memerah. Karena setiap kali wajahku panas pasti akan memerah mengingat kulit wajah ku ini kuning langsat terang.
__ADS_1
"Oh ya Alisha, katanya Alesha baru tunangan ya?"
"Benar, baru beberapa minggu ini."
"Apa kamu juga mau cepat-cepat tunangan?" tanyanya membuat aku hanya bisa menggeleng pasrah. Tunangan sama siapa coba? Aku saja belum punya tunangan.
"Belum ada kepikiran untuk tunangan ataupun menikah cepat-cepat sih. Emangnya kamu sendiri udah tunangan?" tanyaku balik.
"Belum sih. Kamu mau ke Turki ada acara atau nggak?"
"Iya, saya berangkat ke Turki karena perlombaan pacu kuda. Kamu sendiri ada acara apa?" tanyaku. Benar-benar sulit.untuk menjadi ornag yang basa-basi atau orang yang ingin mengetahui orang lain. Hanya Deva yang berhasil membuat aku seperti ini.
"Mau menjemput Kak Sanaya. Dia itu anaknya manja banget. Apa-apa harus ditemani. Padahal usianya lebih dewasa dari saya." Jelasnya.
"Mungkin karena dia perempuan, dia butuh sosok untuk menjaganya. Apa Kak Sanaya sudah menikah?"
"Belum, dia baru bertunangan kemarin. Kayaknya nggak lama sebelum Alesha tunangan." Jelasnya. Aku mengangguk paham. Setelah itu hening kembali. Aku kehabisan topik pembicaraan. Setelah itu aku sengaja memakai kacamata hitam, kemudian aku memejamkan mata berusaha untuk tidur. Biasanya jika sedang lelah aku mudah sekali tertidur pulas.
Tapi saat ini terasa sulit, apa karena ada Deva?
...__________...
...To be continued...
...Alisha tenang Al, perjalanan masih lama. Bisa-bisa jantung kamu semakin maraton kalau kamu panik. ...
...Alisha yang jarang pananikan, sekalinya ketemu crush langsung nggak bisa nenangin diri. ...
...Kalau ada kesalahan harap komen ya, baik EYD/ PUEBI atau typo . terima kasih...
__ADS_1