Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
19. Definisi Belum berjuang sudah tertolak


__ADS_3

...Orang tuh kalau lagi jatuh cinta kadang tingkahnya suka aneh....


...-Alisha...


...___________...


Setelah selesai dari perlombaan, Pak Shivan mengajakku untuk berkeliling di beberapa daerah Ankara. Aku jadi kepikiran dengan perkataannya Azura tempo hari sebelum aku berangkat ke Turki. 


"Al, biasanya yang kelihatan tenang itu yang berbahaya. Kamu jaga diri aja."


"Aku nggak yakin kalau Pak Shivan nggak naksir kamu. Dari gelagatnya aja udah ketara banget, kalau dia suka sama kamu. Percaya atau nggak percaya, itu terserah kamu." Entah bagaimana aku malah mencurigai tingkahnya Pak Shivan akhir-akhir ini yang berbeda dari biasanya. Kami mampir di tempat perbelanjaan di Ankara Turki. Aku tertarik mencoba baklava. Kebetulan perutku sudah kosong sedari siang. Aku sengaja melewati makan siang agar nantinya aku bisa makan sepuasnya. Ya walaupun aku tipe orang yang napas saja berat badan bisa naik sekilo.


Penjualnya sangat ramah-ramah. Kebanyakan pemuda Turki memiliki face yang baik. Aku yakin sekali ketika mereka datang ke Indonesia, sudah pasti mereka akan diangkat menjadi seorang Aktor. Definisi tukang sate di Turki saja lebih cakep daripada wajahnya Kak Hanzal. 


Pak Shivan juga mencoba mencicipi baklava. Aku makan sambil berjongkok dengan menurunkan sedikit kaki kananku ke bawah. "Bismillah," ucapku. Aku melihat Pak Shivan begitu menikmati baklava dan beberapa makanan khas Turki lainnya. Hidupnya Pak Shivan ternyata tidak seserius saat mengajar. 


"Bapak ada keturunan India?" tanyaku sangat random setelah menghabiskan tiga potong baklava. Aku memang sedang lapar.


"Saya? Nggak ada. Kenapa?" ucapnya malah bertanya balik.  


"Cuman nanya aja." Jawabku.


"Nama Shivan bukan berarti harus orang India kan?" katanya. Aku hanya mengangguk sambil mengunyah beberapa makanan khas Turki yang lain yang tidak aku kenal namanya. Setelah membayar makanan yang aku makan tadi, sekalian juga aku membeli makanan khas Turki lain yang awet lebih dari tiga hari. Bukan hanya itu saja kami berdua juga membeli barang-barang antik seperti gelang, gantungan kunci, barang-barang yang terbuat dari kaca, tasbih dan beberapa hijab pashmina aku beli. Perempuan memang seperti itu, ketika ada melihat barang yang bagus dikatakan lucu, lalu dibeli. 


Aku pernah mendengar ceramah salah satu seorang ustad, katanya, kalau masuk area perbelanjaan harap membaca doa. Tujuannya agar tidak lalai dengan nikmatnya sesuatu yang dijual dan agar terhindar dari keburukan lain. Bahkan aku masih mengingat satu hadits tentang tidak baiknya pasar, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: "Tempat yang paling disukai Allah adalah masjid-masjidnya, sedangkan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya." (HR.Muslim, Ahmad, dan Hakim)


Dalam hadist lainya juga dijelaskan, "Sesungguhnya pasar adalah medan pertempuran setan, atau tempat kediaman setan, dan di sanalah setan memasang benderanya." (HR. Thabrani). Sebenarnya tidak apa-apa kita berbelanja memasuki pasar tradisional maupun modern, asalkan jangan sampai berjam-jam. Apalagi sampai lupa waktu shalat. Itu hal tidak baik yang di maksud oleh sabada tersebut. Intinya pasar itu banyak sekali mudharatnya. 


Maaf jika bicara aku terlalu menyinggung beberapa orang. Bicara soal agama oleh orang yang fakir iman memang terasa konyol bukan? Tapi ada yang mengatakan, jangan melihat siapa yang berbicara, tapi dengarlah apa isi yang dibicarakan. Ya tapi tetap saja, terkadang banyak orang akan memilih mendengarkan pembicaraan siapa orang itu. Jangan sampai malah salah menafsirkan.  


Aku masih mengingat sesuatu aat aku membaca salah satu hadis, Abu Bakar bin As-Sina, Musaddad bin Ya'qub Al-Falusi menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aban menceritakan kepada kami, 'Alqamah menceritakan kepada kami dari Ibu Buraidah dari ayahnya (Buraidah) r.a. dia berkata:


Apabila Rasulullah SAW pergi ke pasar, maka beliau senantiasa berdoa:


بِسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ السُّوقِ وَخَيْرَ مَا فِيهَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُصِيبَ فِيهَا يَمِينًا فَاجِرَةً ، أَوْ صَفْقَةً خَاسِرَةً


Artinya: Dengan nama Allah. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan pasar ini dan kebaikan yang terdapat di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan pasar ini dan keburukan yang terdapat di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari terkena sumpah palsu dan dari perniagaan yang merugi di sana."

__ADS_1


Seperti inilah doanya, 


لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ


Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya semua pujian, Dia Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Maha Hidup, Dia tidak akan pernah mati, dan segala kebaikan berada di tangan-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Terkadang aku juga sering lupa membaca doa itu. Setelah sekiranya selesai kami segera meninggalkan tempat itu untuk mencoba makanan Turki yang lain. Begitupun dengan Pak Shivan, dia juga membeli beberapa buah tangan. 


"Contohnya nama kamu ada Adnan nya bukan? tapi kamu bukan orang Arab." Katanya lagi.


"Itu sih nama kakek leluhur saya, Pak. Tapi Kakek leluhur saya juga masih keturunan dari Arab." Jelasku. Pak Shivan mengangguk mengerti. Kemudian kami berhenti disalah satu restoran dekat pusat perbelanjaan oleh-oleh. Restoran ini menyajikan makanan khas Turki. Sepertinya makan tiga potong baklava belum bisa dikatakan makan bukan? Aku juga tipikal orang Indonesia sekali, jika belum makan nasi, itu artinya aku belum makan. Pak Shivan memesan makanan. Sekalian  aku minta tolong untuk sekalian dipesankan. Tadi aku membeli beberapa kardus baklava, manisan khas Turki dan coklat Turki. Aku sudah terlihat seperti pedagang yang baru berbelanja yang besoknya akan dijual.


Aku memesan teh Turki, Adana Kebab Khas Turki, İmam Bayıldı atau yang terbuat dari bahan dasar terong. Katanya, jika restoran Turki tidak menyediakan olahan terong, itu artinya bukan restoran Turki. Setelah Pak Shivan memesan makanan, ia langsung kembali duduk di hadapanku. 


"Alisha, boleh saya sesuatu?" tanya Pak Shivan tiba-tiba.


"Silahkan, asal nggak ada kaitannya sama kehidupan saya." Jelasku. Pria itu mengangguk setuju. 


"Kamu seorang muslim bukan?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk setuju, apa dia juga akan menanyakan tentang mengapa aku tidak berhijab. 


"Kalau saya sendiri, lebih baik nggak dilanjutkan. Karena bagaimanapun juga, saya harus komitmen dengan agama saya."


"Lagi pula kalau saya sudah tau kalau dia berbeda keyakinan, sebaiknya saya mundur. Lebih baik sakit hati dan kecewa di awal, daripada sudah terlalu dalam mencintai itu sakitnya bakal luar biasa. Bukan itu saja, keluarga saya pasti akan menentang keras." Jelasku.


"Itu sih menurut pendapat saya, Pak. Tapi ada beberapa orang yang pastinya nggak setuju dengan pendapat saya. Karena mereka mungkin mendasarkan dengan sesuatu yang bernama cinta. Tapi mereka lupa, jika Allah punya larangan hambanya menikah dengan yang nggak seiman."


"Dan saya memilih untuk teguh untuk pada agama saya. Kalau Allah bilang nggak, ya nggak. Sekalipun itu menyakitkan. Sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat. Mungkin tiga kata itu bisa menjelaskan apa yang Bapak tanyakan." Jelasku cukup yakin. Mimik wajah Pak Shivan langsung berubah. 


"Sekalipun misalnya kamu cinta banget sama orang itu?" tanyanya lagi. Aku mengangguk yakin.


"Cintanya manusia nggak abadi. Kalau kita mencintai seseorang bukan karena Allah, maka kita akan melupakan penciptanya. Bukan hanya itu, ketika kita memilih seorang yang kita cintai, manusia bisa saja meninggalkan kita karena rasa bosan atau hilangnya rasa cinta. Tapi ketika kita teguh dengan memilih agama kita, dan memilih berpisah dengan orang itu, maka Allah selalu ada bersama kita, apapun kondisinya." Jelasku.


"Nggak semudah itu Alisha." Katanya mengelak. Aku tersenyum simpul.


"Yang Anda katakan sangat benar. Tindakan nggak semudah apa yang kita bicarakan. Saya mengatakan ini, karena saya tidak pernah jatuh hati pada beda keyakinan. Tetapi saya akan mempertahankan prinsip saya sekalipun itu sangat sulit."


"Beda akidah saja sangat sulit bersatu, apalagi beda keyakinan." Jelasku. Aku mencoba mengambil cerita dari sayyidatina Zainab. 

__ADS_1


"Seperti halnya Sayyidatina Zainab binti Muhammad SAW, putri dari Rasulullah. Dia menikah dengan seorang pria non-muslim bernama Amr bin Ash. Saat itu Allah belum menurunkan ayat tentang larangan menikah beda agama. Mereka saling mencintai satu sama lain. Namun ketika Allah menurunkan ayat Al Qur'an kepada Rasulullah, maka Zainab dan Amr bin Ash pun berpisah."


"Rasulullah sangat lembut hatinya, tapi urusan agama, beliau sangatlah tegas dalam setiap inci aturan agama. Zainab memilih untuk mendahulukan urusan agama dibanding dengan perasaan cintanya yang begitu kuat dengan suaminya. Pada saat itu Sayyidatina Zainab menangis, karena harus berpisah dengan suaminya yang sangat dicintai. Kita bisa membayangkan harus berpisah dengan orang yang kita cintai, dan itu adalah suaminya. Tapi itulah hukum Islam. Kalau Sayyidatina Zainab terus melanjutkan pernikahan beda agama, maka pernikahannya dihitung zina."


"Setelah itu?" tanyanya sangat ingin  tahu. Aku jadi ragu untuk melanjutkan ceritanya. Apa Pak Shivan ini non muslim?


"Maaf, apakah Anda non-muslim?" tanyaku cukup ragu. Ia menganggukkan kepala. 


"Maaf Pak, saya nggak tau kalau Bapak seorang non-Muslim."


"Nggak apa-apa, Alisha. Lanjutkan aja ceritanya, saya ingin mendengarkan ceritanya."


"Beberapa waktu kemudian sudah lama dari pisahnya Zainab dan Amr bin Ash, terjadilah perang besar bernama perang Badar. Kemenangan diraih oleh kaum muslimin, dan Amr bin Ash dijadikan tawanan oleh orang muslim karena dia termasuk salah satu dari pasukan kaum musyrikin. Kabar itu datang kepada Zainab, lalu Zainab meminta salah satu seorang muslim untuk menebus Amr bin Ash dengan kalungnya, pemberian Ibundanya Sayyidatina Khadijah."


"Kemudian Rasulullah melihat kalung itu, dan beliau terharu karena tau siapa pemiliknya. Lalu Rasulullah meminta sahabatnya untuk membebaskan Amr bin Ash atas tebusan dari putrinya." Lalu seorang pramusaji menghampiri kami dan meletakan pesanan kami di meja yang kami tag. 


"Thank you," kataku pada pramusaji. 


"Amr bin Ash terharu dengan tindakan Zainab. Dan akhirnya Amr bin Ash terbebas. Beberapa waktu kemudian, Amr kembali pada pasukannya, ia mengatakan akan meninggalkan agamanya dengan cara menyerahkan semua harta benda yang dimiliki kepada kaum musyrikin. Tapi banyak hal yang menyulitkan Amr untuk meninggalkan agamanya itu. Karena banyak pihak tidak setuju dengan tindakan yang diambil oleh Amr." Lanjutku. Pak Shivan langsung memakan pesanannya. Begitupun aku minum teh Turki terlebih dahulu untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering.


"Baru setelah itu, Amr bisa masuk Islam dan kembali pada Zainab. Lalu mereka happy ending. Tapi meninggalkan agama karena cinta sangatlah sulit. Dari Amr bin Ash saja banyak pengorbanannya. Apalagi kalau Bapak sampai meninggalkan agama Bapak, yang orang itu belum tentu menjadi istri Bapak." Jelasku menyelesaikan pembicaraanku. Pak Shivan langsung tersedak oleh minumannya sendiri. Ia langsung segera minum air mineral. 


"Sulit bnget ya ternyata," katanya.


"Ya begitulah hukum Islam. Allah nggak sedang menyulitkan hambanya dengan berbagai aturan. Allah hanya ingin hambanya bisa membedakan mana larangan dan perintah. Lalu Allah bisa melihat hambanya, mana yang taat dan mana yang pembangkang." Jelasku. Pak Shivan mengangguk setuju. Aku mengucap basmalah dan makan pesanan yang sedari tadi aku diamkan. 


____________


...To be continued ...


...Alisha mode taat...


...Alisha kalau sedang taat, terlihat masya Allah nggak sih?...


...Tapi kalau misalnya nggak lengkap kalian bisa baca selengkapnya di google banyak kok,  kisah beda agama antara Zainab binti Muhammad dan Amr bin Ash. Kisahnya bikin mewek. Padahal nggak pernah ngerasaain  cinta beda agama. ...


...Oh ya jangan lupa tinggalkan vote, komen dan save cerita mendadak menikah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2