Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
21. Bagaimana Bisa?


__ADS_3

Potret Alisha Adnan



Potret Hanzal Adnan (Kakak Alisha dan Alesha)





potret Pak Shivan



Selama berada di dalam pesawat aku memilih untuk diam. Bahkan satu katapun tidak keluar dari mulutku. Aku benar-benar tidak memiliki selera walaupun hanya sekedar berbicara. Pak Shivan juga bersikap demikian, ia duduk di sebelahku diam seribu bahasa. Setelah kemarin dia mengungkapkan semua keluh kesahnya padaku, tiba-tiba suasananya menjadi awkward.  Aku juga malas untuk menebak apakah benar jika Pak Shivan memiliki perasaan padaku atau hanya perasaanku saja yang merasa seperti itu.


Ketika pesawat sudah landing, aku mendengar jelas suara deru nafas dari hidung Pak Shivan, sepertinya ia sangat lega ketika pesawat sudah sampai di bandara. Sepertinya duduk di sebelahku merupakan beban yang seharusnya tidak diberikan padanya. Pria itu berkali-kali menghela nafas secara kasar. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami semua turun dari pesawat. Tekadku sudah bulat untuk memakai hijab. Dan hari ini juga aku memakai abaya warna hitam khas orang Arab. Aku merasa wajahku yang tadinya orang Turki berubah menjadi orang Arab. Aku memakai pashmina warna hitam dan tidak lupa aku memakai ciput yang garis miring dengan  warna hitam-putih. 


Aku berjalan di bandara dengan langkah pelan. Terlihat seperti tidak memiliki tenaga. "Alisha, kamu sakit?" aku menggeleng lemah ketika Pak Shivan bertanya seperti itu. Mungkin dia menyadari jika aku terlihat seperti orang yang tidak memiliki tenaga. Awalnya aku sangat bersemangat pulang karena mendapat juara pertama. Rencananya aku ingin sekali memberi kejutan ini untuk Mama dan Papa.  Tapi semua itu berubah setelah mengetahui jika Deva telah bertunangan dengan Shabiya.


Dari kejauhan aku melihat Kak Hanzal sedang berdiri memakai setelan casual, celana jeans hitam dan kaos panjang yang dilipat sampai siku warna biru dongker, yang dipadukan dengan sepatu warna hitam.  Benar-benar charming sekali. Dia tidak sendirian, dia ditemani oleh Azura, Hafizha dan Shabiya. Dan Kak Hanzal membawa buket bunga mawar merah. Apa pria itu tidak tahu, jika mawar merah diperuntukan pada pasangan, bukan malah adiknya. Niatnya mau romantis tapi gagal total. Shabiya membawa rangkaian kalung bunga yang diletakan di nampan. Mereka niat sekali datang kesini malam-malam hnanya ingin menjemputku, apalagi dengan membawa rangkaian kalung bunga. Aku jadi ngerasa kayak atlet sungguhan.


Setelah jarakku tidak begitu jauh darinya, tiba-tiba Kak Hanzal  merentangkan kedua tangannya. Aku tersenyum bahagia sambil berlari dan menarik koper. Aku berhenti sejenak melepas tanganku dari koper. Setelah itu, aku memeluk lehernya Kak Hanzal. Kemudian, Kak Hanzal menggendongku sekaligus memutar badanku. "Congratulation, sayang." Katanya kemudian mengecup keningku. Ada apa dengan Kak Hazal? sikapnya benar-benar aneh sekali. Aku ingat benar, bagaimana Kak Hanzal selalu memperlakukan Alesha dengan semua hal yang membuat aku iri. Ya mau bagaimana lagi, berat badanku waktu itu mencapai 80 kilo, sementara sekarang hanya 50 kilo. Mana mungkin Kak Hanzal menggendongku, yang ada tubuhnya akan tertindih oleh badanku yang over subur.


"Ada apa dengan panggilan sayang? Apa udah nggak ada perempuan yang dijadikan korban keplayboyanmu itu lagi?" tanyaku mengintimidasi. Aku masih memeluknya. Kak Hanzal hanya terkekeh sambil mencubit hidungku. 


"Emangnya nggak boleh manggil sayang ke adiknya?" 


"Boleh sih, asalkan jangan di depan fansnya Kak Anzal. Bisa dicabik-cabik karena salah paham. Karena mereka nggak mengenal aku sebagai adikmu, Kak." Kataku. Ia tersenyum tipis.


"Kak Anzal? Udah lama banget kamu nggak pakai panggilan itu ke Kakak." Katanya mengingatkanku. Padahal tadinya aku tidak sengaja memanggil dengan panggilan itu. Panggilan masa kecil dariku, dan akhirnya Alesha juga ikut-ikutan memanggil dengan panggilan itu.


"Seingat Kakak, terakhir kali kamu pakai panggilan itu, saat kamu badan kamu masih subur. Sampai Kakak nggak pernah gendong kamu karena nggak kuat." Jelasnya.

__ADS_1


"Lupakan tentang badan ku yang dulu itu," kataku, wajahku menjadi masam hanya karena membahas masa lalu. Maksudku, semua hal yang berkaitan dengan masa lalu hanya menyakitkan.


"Shivan?" ucap Kak Hanzal, sepertinya Kak Hanzal mengenal Pak Shivan.   Aku menoleh ketika Pak Shivan sudah berdiri dibelakangku hanya berjarak sekitar 1 meter. Aku segera melepas tanganku dari leher Kak Hanzal. 


"Hanzal? Bisa-bisanya kita ketemu disini? Dan nggak pernah direncanakan bisa ketemu ya?" katanya sangat ramah sambil berjabat tangan. Seperti bukan Pak Shivan. Pria ini memang sulit sekali untuk ditebak. Kadang datar, kadang bergelombang. 


"Kalian berdua cocok banget. Alisha, pacar kamu, Han?" tanyanya membuatku menyerngitkan dahi.


"Nggak lah, Alisha itu adik saya. Kamu dosennya Alisha?" 


"Ya benar, kemarin saya menemani Alisha selama berada di Turki. Tapi kami beda kamar,bahkan beda lantai juga." Jelasnya, detail banget penjelasannya. 


"Guys sepertinya kita nggak dianggap," kata Azura bersikap dramatis.


"Maaf," kataku. Aku langsung menghampiri mereka berempat. Kemudian Shabiya mengalungkan karangan bunga di leherku. 


"Congratulations, Alisha." Kata Hafizha dengan sangat antusias. 


"Kangen banget, tau Al. Mana sekarang kamu pakai hijab lagi. Cantik banget, sampai tadi kita nggak bisa ngenalin kamu," kata Azura terlalu hiperbola.


"Baru juga dua hari, udah kangen aja. Aku cocok nggak pakai hijab?" tanyaku pada mereka. Mereka bertiga hanya mengacungkan dua jempol masing-masing.


"Semalam kayaknya ada yang baru dilamar ya sama kekasih idamannya? sampai wajahnya nggak berhenti senyum." Kataku sengaja menggoda Shabiya. Shabiya hanya senyum-senyum bahagia, sampai wajahnya merah merona. Sekalipun hati ku terasa sakit ketika mengatakan hal itu. Tapi hebatnya wajahku masih bisa terlihat baik-baik saja. Dan sedari tadi Pak Shivan mengobrol dengan Kak Hanzal. 


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak karena udah jagain Alisha selama disana." Kata Kak Hanzal pada Pak Shivan.


"Sama-sama, saya baru tau kalau Alisha dik kamu Han. Kalau ada waktu senggang mainlah ke rumah. Saya yakin, Ibu pasti seneng banget kalau kamu datang ke rumah." Kata Pak Shivan seperti orang ramah sungguhan. Sementara Azura menyenggol lenganku sambil memainkan kedua alisnya. Aku bisa menebak apa yang Azura katakan. Lamanya bersahabat dengan mereka membuat aku bisa mengetahui apa yang ada pada isi kepala mereka. 


'Kok bisa beda gitu ya? Itu beneran Pak Shivan yang mengajar kita kan? Atau mungkin dia kembarannya?'


Kemudian Pak Shivan pamit pergi. Bersamaan dengan itu tiba-tiba Papa datang menghampiri kami. Ini benar-benar suatu kemustahilan yang tidak pernah terpikir olehku dan bisa terjadi. Mataku sampai berkaca-kaca. Pelan-pelan impian sedari kecil ku ingin disayang dan dianggap oleh keluargaku akhirnya terkabul. Walaupun tidak semudah membalikan telapak tangan. 


Papa merentangkan kedua tangannya agar aku memeluknya. Kenapa suasananya jadi melankolis seperti ini. Bibirku memang tersenyum, tapi air mataku berhasil membasahi kedua pipiku. "Papa," ucapku kemudian memeluk Papa. Entah bagaimana tiba-tiba aku menangis di bahu Papa. 


"Selamat ya sayang, kenapa kamu malah nangis? Ini buket bunga sama hadiahnya buat kamu." Katanya melepas pelukanku dengan memberikan satu buket bunga mawar merah muda dan satu paper bag yang berisi kado. Aku menerima dua benda itu dengan keadaan masih menangis tanpa suara. 

__ADS_1


"Terima kasih Papa." Ucapku.


"Papa benar-benar nggak nyangka, karena putri Papa bisa menjadi juara utama di kejuaraan internasional. Selamat, sayang." Kata Papa begitu bangga denganku. Senyumanku yang tadinya mengembang, berubah menjadi datar. Kalimat itu? Aku sangat mengingat betul untuk siapa kalimat itu harus mereka ucapkan. 


"Alesha, kamu hebat banget sayang. Papa sama Mama sangat bangga sama kamu. Kamu pasti bisa mempertahankan juara kamu." Kata Papa pada Alesha pada saat itu. Ingatan itu mulai datang dan berjalan di kepalaku dengan sendirinya tanpa aku inginkan. Aku benci dengan sesuatu yang Alesha dapatkan. Aku juga membenci sesuatu yang Alesha suka. Apapun yang disukai Alesha, aku sangat membencinya. 


"Benar sayang, Mama juga bangga banget punya putri seperti kamu, Alesha." Kata Mama sangat bangga pada Alesha. Alesha berhasil mendapat juara utama di olimpiade IPA saat masih duduk dibangku SMP. Sementara aku tidak pernah terpilih menjadi perwakilan apapun di bidang akademik. Aku lebih banyak meraih penghargaan non-akademik. Ketika Alesha mendapat juara utama olimpiade IPA tingkat nasional, aku juga mendapat juara utama pencak silat tingkat nasional. Tapi perlakuannya berbeda. Bahkan Mama dan Papa tidak menganggapku ada. Padahal aku berdiri di samping mereka. Hadiah? Apa itu hadiah. Aku tidak pernah mendapat hadiah apapun  dari Mama maupun Papa, ucapan selamat pun tidak. Sekalipun kehidupanku sangat tercukupi tapi tidak keberadaanku yang  selalu dianggap sebagai bayangan. 


"Anak Papa sama Mama memang hebat, Papa sama Mama sangat bangga bisa memiliki putri kamu, Alesha." Kata mereka terus menerus memuji Alesha. Sementara aku hanya diam seperti patung. Setelah itu aku langsung lari dan minta diantar oleh supir pribadi. Di dalam mobil aku hanya diam, tidak mengatakan apapun lagi. Dan dari saat itu juga, aku jarang berbicara kepada siapapun. Sampai aku merasa banyak kosakata pembicaraan yang tidak aku tahu. Bahkan ketika aku ingin bicara aku selalu gelagapan. Setiap kata yang aku ucap, tidak jelas, dan orang yang mendengarnya pun tidak paham apa yang aku katakan.


Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak berbicara kepada siapapun. Aku merasa banyak trauma bukan dari keluarga saja,tapi juga dari orang sekitar yang selalu membullyku. Kemudian Mbak Lia membawaku ke dokter umum, dan dokter memvonis jika aku mengalami selective mutism. Seharusnya penyakit ini dialami oleh balita, namun usia 13 tahun aku malah mengalaminya.  Sekitar 2 tahun aku mengalami selective mutism. Dan hal itu membuat Mama dan Papa semakin memarahiku dan selalu membandingkan aku dengan Alesha. Kemudian aku sering minum obat-obatan dari dokter dan terapi untuk mengembalikan percaya diri sekaligus aku mau berbicara lagi. Tapi membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Alisha, are you okay?" tanya Papa membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk tanpa mengucapkan kata apapun lagi. 


"Yaudah, sekarang kamu pulang bersama Kak Hanzal. Maaf, Papa nggak bisa anterin kamu pulang, karena Papa harus kerumah sakit jenguk Alesha." Jelasnya.


"Alesha? Alesha kenapa?" tanyaku tidak begitu cemas. Anak itu memang suka sekali ke rumah sakit. Bahkan dia sangat hobi ke rumah sakit dari kecil. Dia hanya pusing sedikit saja langsung pergi ke rumah sakit. 


"Kemarin Alesha menjadi korban tabrak lari." Jelas Papa. Aku mengangguk paham.


"Apa lukanya cukup serius?" tanyaku.


"Lumayan, tapi dokter sudah menanganinya dengan baik. Kamu nggak usah cemas." Kata Papa.


"Papa pamit ya, semuanya terima kasih udah jemput Alisha. Permisi, assalamualaikum." Kata Papa, kami semua menjawab ucapan salamnya.  Aku mencium punggung tangan Papa, kemudian Papa mencium keningku. Setelah itu Papa benar-benar meninggalkan kami di bandara. Kebahagiaan yang aku dambakan sejak lama, begitu terwujud, aku hanya bisa menikmatinya sesaat. Kemudian Aku dan Hanzal juga pamit untuk pulang pada sahabat-sahabatku, karena hari sudah malam. Sebenarnya jam 9 tidak cukup malam bagiku,mengingat dulu aku sering balapan liar sampai larut malam. Kami berpisah disini. Kemudian Kak Hanzal menggandeng lengan tanganku menuju ke parkiran. 


...____________...


...To be continued...


...Jangan lupa tinggalkan vote, komen dan save cerita Mendadak menikah. Terima kasih. ...


...Ada yang kangen sama Barra next chapter Barra bakalan muncul. Mungkin masalah akan dimulai chapter selanjutnya....


...Maaf judul sama covernya aku ganti lagi. Semoga suka ya?...

__ADS_1


Note : 


Selective mutism adalah gangguan kecemasan parah yang dapat membuat anak 'bisu' pada situasi tertentu. Gejalanya beragam, mulai dari terlihat gugup, malu, hingga terlihat kaku. Untuk mengatasinya, dokter dapat merekomendasikan terapi perilaku kognitif hingga terapi perilaku.


__ADS_2