Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
8. Si Manusia Bunglon


__ADS_3

...Manusia Bunglon ...


...__________...


Apa yang dikatakan Shabiya itu memang benar. Aku seperti memiliki kepribadian ganda, terkadang aku seperti orang yang sangat taat dengan agama, namun di waktu lain aku seperti sangat jauh dari agama. Aku sendiri juga bingung,  sebenarnya aku yang mana? Malam ini tepat jam 23.20 malam aku mengikuti balap motor secara ilegal. Semua peserta berasal dari kalangan laki-laki. Hanya aku sendirian yang perempuan. 


"Hai Alisha, akhirnya lu balik lagi ke klub balap liar. Apa kabar?" sapa Adrian menghampiriku. Pria ini memang dasarnya tengil, namun dia sangat ramah kepada semua orang. Sebenarnya dia baik, tapi sayangnya playboy. Aku sangat heran kenapa.dikelilingi oleh para makhluk playboy sekaligus womanizer. 


"Hai, Alhamdulillah sehat."


"Al, lo udah siap lawan gue?" tanya Adrian begitu antusias. Aku hanya mengangguk sambil memakai helm, kemudian menyalakan mesin motor. Aku tidak minta izin lebih dulu kepada Kak Hanzal untuk membawa motornya. Lagipula pria itu sedang sibuk di rumah sakit. 


Perempuan yang memakai dress **** berwarna merah maroon dengan high heels 14 senti itu melemparkan selembar kain keatas setelah jatuh, motor kami semua melaju ke arah jalanan raya yang kosong. Tempat ini sangat aman untuk balapan karena tidak ada kendaraan yang berlalu lalang. Aku sangat fokus melajukan agar aku bisa berada di garis finish urutan pertama.


Motor satu sama lain saling menyalip untuk sampai berada di garis finish. Suara bising begitu terdengar ketika motor sedang melaju.  Hanya beberapa menit aku berhasil mengalahkan 19 orang. Dan disusul oleh Adrian. Semua orang bertepuk tangan baik perempuan maupun laki-laki. 


"Congrats Al," kata Adrian memberikan selamat sekaligus berjabat tangan denganku. 


"Terima kasih, selamat juga untuk kamu." Kataku. Aku turun dari motor untuk menerima hadiah dari orang yang membuat acara. Setelah menerima uang yang dibungkus di amplop berwarna coklat aku langsung kembali ke motor yang aku bawa. Namun sayangnya seorang laki-laki yang sangat asing bagiku menghalangi jalanku. Dia tersenyum smirk. Aku tidak tahu maksudnya apa.


"Hai Alisha, kenalin gue Fahmi. Congrats atas kemenangan kamu. Malam ini kamu cantik banget. Baru kali ini gue ngeliat cewek secantik lo bisa sampai di juara pertama. Itu hebat banget." Katanya. Pria modelan seperti Fahmi ini sepertinya sangat lihai membuat beberapa perempuan terpesona atas pujiannya. Menurutku pujian seperti itu terlalu pasaran. 


"I know, thanks." Kataku dengan wajah yang sangat datar dengan senyum yang terpaksa. Aku sangat mengenal bagaimana menghadapi para pria buaya. Karena Kakak aku sendiri seorang Playboy yang tingkatannya benar-benar membuat siapapun emosi. Saat aku melangkah, pria itu mencekal pergelangan tanganku.


"Alisha, tunggu!"


"Bisa tolong lepasin tangan perempuan yang baru dikenal? Nggak sopan." Kataku. Pria itu malah tertawa hambar. 


"Gue suka cewek yang tegas dan gak manja kayak lo." Katanya tidak menyerah begitu saja.


"Tapi saya nggak suka cowok kayak lo," jawabku langsung to the point. Semua anak disini malah menertawakan Fahmi. 


"Bisa lepasin tangan saya!" kataku sengaja menekan. Lalu pria itu melepas tanganku. Dering handphone ku bergetar dari balik samping saku jaket kulit yang aku pakai. Jam 12, aku syok ketika melihat pukul 00.11. Mampus aku, bisa di sidang habis-habisan di rumah. Banyaknya panggilan tak terjawab yang tidak aku angkat. 


Papa dan Kak Hanzal. Matilah riwayatku.


"Alisha bentar!" 

__ADS_1


"Apalagi sih?"


"Kita bisa nongkrong dulu kan?" tanyanya tidak memiliki otak. Apa dia tidak tahu ini sudah tengah malam. 


"Nggak, makasih." Aku langsung berlari tanpa menunggu jawabannya. Aku langsung menyimpan uang itu ke tas ransel hitam yang aku bawa. Ketika aku memakai helm, Adrian malah ingin mengantarku.


"Al, biar gue antar ya!" 


"Nggak, nggak mau cari mati. Maaf saya harus pulang. Terima kaish tawarannya. Tapi saya nggak bisa nerima." Kataku langsung melajukan motor dan meninggalkan tempat itu. Aku harus sampai sebelum jam satu. 


Didalam perjalanan aku merasa panik berlebihan. 'Semoga Papa udah tidur, semoga nggak ada orang yang terbangun.' Aku terus berdoa dalam hati,semoga aku masih baik-baik saja. Aku melajukan motor lebih cepat lagi. Hanya membutuhkan sekitar 15 menit akhirnya aku sampai di perumahan elit. Rumah berwarna putih dengan dua lantai yang luasnya sangat lumayan besar.


Aku membawa kunci gerbang, setelah itu aku buka gerbang hanya seukuran motor. kemudian aku mematikan motor dan kudorong dengan sekuat tenaga. Tidak sia-sia nge gym setiap hari, akhirnya aku mendapatkan manfaat yang baik. Aku bisa memiliki tenaga mendorong motor gede. Aku sangat pelan-pelan membuka garasi. Setelah selesai aku tutup dan aku kunci kembali gerbangnya. Ketika aku mau masuk pintu depan tidak bisa, sepertinya dikunci dari dalam atau mungkin ada kunci yang menggantung di lobang kunci dalam. 


Tidak ada cara lain selain aku harus menaiki tembok sampai ke kamarku. Aku langsung mencari tangga, untungnya masih ada. Dan aku mencoba naik ke lantai dua dengan sangat hati-hati. Dan ternyata aku berhasil dengan selamat. Ketika aku selesai membuka jendela, tiba-tiba Kak Hanzal sudah berada tepat di belakangku.


"Kakak belum tidur?" basa-basi yang seharusnya aku tidak aku ungkapkan. Pria itu sepertinya akan siap menerkamku.


"Dari mana lagi,kamu Alisha? jam segini baru pulang? Kamu ini perempuan Alisha." Katanya dengan nada tinggi dan mulai melemparkan sejuta amarah. Aku langsung membekap mulutnya. Mata kami beradu pandang. Mata Kak Hanzal menahan amarah sementara aku menahan ketakutan. 


"Kak, aku mohon. Aku janji ini terakhir kalinya aku ngedrift. Aku janji, aku akan ngelakuin apa yang aku janjikan." Kataku. Kak Hanzal melepas paksa tanganku yang berada di mulutnya. 


"Kak, aku mohon jangan bilang ke Papa."


"Kakak nggak bisa. Semua orang dirumah khawatir sama kami. Nyariin kamu nggak ketemu-ketemu. Ditambah lagi kami telphone nggak diangkat. Dan sekarnah kamu malah bilang kayak gitu? Kakak nggak bisa.."


"Khawatir?" tanyaku sambil tertawa hambar. "Kenapa mereka khawatir, bukannya mereka nggak pernah khawatir denganku. Kenapa tiba-tiba kayak gini."


"Ini bukan alasan Kak Hanzal kan?"


"Kakak serius Al,"


"Kak, aku janji ini terakhir kalinya aku balapan liar. Lihat, uang ini untuk operasi Shaddan. Dia salah satu anak di kampus kami yang tidak memiliki biaya untuk operasi. Dia mengalami getah bening."


"Besok Kakak bisa tanyakan ke anak-anak kampus kebenarannya. Kalau Shaddan kekurangan dana. Dia nggak bisa bayar operasi."


"Dan kalau bilang sama Papa maupun Mama kalau aku minta sama mereka, aku nggak yakin mereka akan memberi sekaligus percaya sama aku. Aku mohon Kak!" Jelasku.

__ADS_1


"Tapi nggak segitunya kamu ngelakuin itu, Al. Itu bahaya. Kalau kamu kenapa-napa gimana?"


"Aku ingin berbuat baik, citra aku memang buruk. Tapi boleh kan aku berbaik hati kepada orang lain."


"Aku mohon!" kataku bersungguh-sungguh.


"Baiklah. Bentar, kayaknya ada yang datang ke kamar kamu." Kata Kak Hanzal. Terlinga Kak Hanzal sangat tajam. Bahkan hanya suara ketukan kaki tanpa alaspun, dia bisa mengetahui siapa yang datang kemari.


"Kamu lepas sepatu dan jaket kamu dan ganti pakai piyama."


"Baik Kak," aku langsung menuruti titah Kak Hamzal memakai piyama dan langsung rebahan di ranjang.


"Ayo, pake selimutnya!" baru bebebrapa menit pintu kamar terbuka memunculkan sosok Papa. 


"Papa, Papa belum tidur?" tanya Kak Hanzal.


"Belum. Kenapa kamu dikamarnya Alisha? Dimana anak itu? Apa dia sudah datang?"


"Dia sebenernya udah datang dari tadi, Pa. Cuman waktu aku kesini dia malah di luar kamar. Kayaknya  ngigo deh Pa." Kata Kak Hanzal beralasan. Sepertinya Papa langsung percaya. Seimgatku, Kak Hanzal jarang berbohong. Kak Hanzal bisa  berbohong ketika sedang dalam keadaan terpaksa.


"Kamu serius?"


"Iya Pa,"


"Ya udah, tidurlah! Besok kamu ada shift  pagi, kan?


"Iya Pa, aku juga mau ke kamar kok." Sepertinya Papa lebih dulu meninggalkan kamarku. Dan sisanya Kak Hanzal masih berdiri tegap sambil mencoba membangunkanku.


"Kakak besok akan antarin  kamu ke kampus. Kakak hanya ingin memastikan, ucapan kamu benar, atau cuman alasan doang."


"Tentu Kak, aku nggak keberatan. Sering-sering anterin aku ke kampus juga nggak papa sih." Kataku dengan nada bercanda. Akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu dengan Kak Hanzal. Ya walaupun tidak setiap hari, karena dia sangat sibuk di rumah sakit.


"Dasar, ngelunjak." Katanya sambil terkekeh, tak lupa ia mengusap kepalaku. Kemudian ia keluar sambil mematikan lampu terang menjadi redup lebih dulu. Setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkanku sendirian. Dan aku tertidur pulas hanya hitungan menit.


...___________...


...To be continoude...

__ADS_1


...Masih mending ya, punya Kakak kayak Hanzal, bisa diajak kerja sama...


...Semoga suka...


__ADS_2