
Satu jam menjadi Alesha
____________
Dua hari kemudian aku pulang bersama Papa. Papa menjemputku sendirian. Katanya Mama tidak bisa menjemputku dikarenakan sedang sibuk dengan urusan kantor. Siapa Alisha, hingga harus dipentingkan segala? Aku hanya diam membisu selama berada di dalam mobil. Papa mengendarai mobil sementara aku duduk di samping beliau.
"Saya harap ini terakhir kalinya kamu masuk rumah sakit karena kebut-kebutan motor." Kata Papa membuka pembicaraan. Sangat terlihat jelas jika Papa sudah sangat pasrah melihat semua tingkahku. Pa percayalah, aku melakukan semua ini karena nggak ada yang peduli denganku.
"Ucapan Papa barusan itu sedang khawatir, atau hanya sekedar ucapan formalitas aja?" tanyaku. Saat mengucapkan hal itu, sama sekali aku tidak menatap wajah Papa. Pria paruh baya yang rambutnya hampir sebagian beruban tapi masih banyak rambut hitamnya ini sangatlah tegas dalam hal apapun. Tapi wajahnya masih terlihat, ya walaupun tidak setampan waktu masih muda. Terbukti menurun ke semua anaknya, terutama Kak Hanzal.
"Seharusnya kamu tau, kalau setiap orangtua pasti mengkhawatirkan anaknya." Jelasnya.
"Benar, tapi apa Papa bisa bersikap seperti itu selain ke Kak Hanzal dan Alesha?"
"Jangan pernah berpikir kalau kamu nggak pernah kami sayang." Katanya dengan pandangan fokus mengemudi. Wajah Papa ini terlihat seperti wajah sugar daddy di cerita-cerita ******* gitu.
"Kasih sayang mana yang Papa berikan padaku? Kalau uang, aku sangat berterima kasih. Sekalipun aku nggak dapat cinta dari keluarga, Seenggaknya aku masih menikmati hidup dengan layak. Terima kasih banyak Pa." Kataku membuat Papa diam seribu bahasa. Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, Papa sengaja menepikan mobil di depan toko kue AJ Bakery & Cake Sumagung di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Kemudian Papa turun dari mobil dan membuka pintu samping sebelah kursi yang aku duduki. "Al, turun dulu yuk! Papa mau beli kue buat orang rumah. Siapa tau kamu mau beli sesuatu. Karena Papa nggak tau cake kesukaan kamu apa." Kata Papa benar-benar berbeda. Apa kepalanya habis di belah dan diganti sampai sifatnya langsung berubah drastis. Aku hanya diam tanpa menjawab, aku masih mencerna dengan apa yang sedang terjadi pada Papa. Karena sepanjang hidup yang aku lalui, Papa tidak pernah melakukan hal ini padaku, terkecuali pada Alesha. Papa sangat amat menyayangi Alesha.
"Al, ayo turun dulu!" ucap Papa membuyarkan lamunanku. Aku terpaksa turun setelah mengambil tas ransel berwarna hitam lalu aku gendong. Aku turun dari mobil dan menggandeng lengan tangan Papa. 'Ya Allah, momen ini terlalu manis. Tolong jangan selesaikan momen ini dulu. Tolong, biarkan aku menikmatinya walaupun hanya sesaat.'
Setelah kami masuk, beberapa pegawai menawarkan kue pada kami. Beberapa orang yang usianya sebaya denganku melihat kami dengan tatapan sinis. Bahkan mereka berbisik,
"Gila ya masih muda, gandengannya sugar daddy?" kata seorang perempuan, entah bagaimana aku bisa mendengarnya. Padahal suaranya tidak terlalu keras.
"Ya mungkin karena duitnya banyak." Jawab temannya.
"Tapi dia cantik, sayang aja sih maunya sama yang udah om-om."
__ADS_1
"Tapi om-omnya ganteng. Gue juga mau kali kalau dapat yang kayak gitu." Bagaimana seorang perempuan berhijab mengatakan hal itu. Apa mereka sedang melupakan sesuatu, jika Rasulullah sangat menghargai seorang perempuan. Sementara perempuan sekarang malah merendahkan dirinya sendiri dengan perkataan seperti itu. Menurutku, sekalipun orang itu kagum karena pesona maupun harta seorang pria yang baru saja dilihat, setidaknya jangan pernah mengatakan hal itu. Karena hal itu merendahkan dirinya sendiri sebagai seorang wanita, apalagi seorang muslimah. Cukup diam tanpa mengatakan hal seperti itu. Baru kemarin aku mendengarkan ceramah salah satu ustadz, aku lupa di pembahasan kitab mana. Ya walaupun tampilan ku agak urakan, tapi aku tetap berusaha mendalami agama yang dianut. Selebihnya, aku akan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu berhijab.
"Gila banget seleranya om-om."
"Ya tapikan dia ganteng sama berduit. Liat aja tuh outfitnya, bisa beli nyawa kita."
"Tapi nggak sama om-om juga kali."
"Tapi dia berani loh gandengan sama om-om, apa mungkin udah sah?"
"Mana gue tau," Aku seperti mengenal logo almamater yang dipakai tiga perempuan itu. Ya benar, mereka masih satu kampus denganku. Aku sengaja mengeratkan gandenganku dan menyandarkan kepala di bahu Papa. Membuat mereka bertiga semakin melongo tidak percaya. Aku tidak peduli. Hitung-hitung transfer amal. Mereka menilai ku pandangan yang buruk sangka, padahal mereka tidak tahu tentangku yang sebenarnya. Dan mereka telah melupakan sesuatu, jika amal ibadahnya bisa habis karena menggunjing orang lain, itupun kalau mereka seorang muslim. Tapi sepertinya mereka seorang muslimah hanya tidak memakai hijab seperti ku. Terlihat di tas ransel nya menggunakan gantungan kunci ber lafadz لا اله الله محمد الرسول له.
"Mbak saya tadi sudah pesan, dan sekarang saya mau ambil pesanan saya, atas nama Fatih Adnan."
"Al, kamu beli yang rasa apa?" tanya Papa memberikan buku menu padaku. Aku memilih cake yang aku suka dari kecil.
"Maaf Pak, apa perempuan di samping Anda pacar atau istri Anda?" Tanya Mbak-mbak cantik di sebelahnya. Dahi Papa langsung mengkerut tidak percaya. Papa menunjuk jar terluk ke arahku.
"Maksudnya ini?" tanya Papa memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah. Mbak pegawai itu mengangguk cepat.
"Apa wajah saya terlihat seperti seorang pedofil?" tanya Papa kepada kedua perempuan cantik yang menjadi pegawai cake AJ. Dua perempuan itu menggeleng cepat. Aku hanya menahan diri agar tidak tertawa.
"Dia bukan istri maupun pacar saya. Doa putri bungsu saya, namanya Alisha."
"Alisha? Kayaknya nggak asing dengan nama itu." Kata perempuan yang usianya terlihat lebih dewasa dariku. Dia berdiri di sebelahku.
"Apa nama kamu Alisha Adnan?"
"Iya benar,"
__ADS_1
"Masya Allah, senang banget bisa ketemu langsung sama kamu. Dua hari lagi kita akan bertemu di pertandingan pacu kuda untuk mewakili kampus. Dan saya sangat senang bisa bertemu sebelum pertandingan."
"Saya Kanaya Tama, dari fakultas teknik 2021,"
"Alisha Adnan dari fakultas Psikologi tahun 2021. Kita seangkatan."
"Betul sekali,"
"Ini Ayah saya."
"Fatih Adnan,"
"Mimpi apa semalam ya saya sampai bisa bertemu orang-orang hebat seperti Anda. Pak Fatih Adnan, salah satu pengusaha sukses yang pernah meraih penghargaan 30 under 30 forbes entrepreneur Asia. Kehormatan bagi saya bertemu dengan Anda , Pak. Dan Alisha Adnan yang selalu menjadi winer pacu kuda secara berturut-turut sejak tiga tahun terakhir ini."
"B-boleh saya foto bersama kalian?" tanyanya minta izin.
"Silahkan," Kata Papa mengizinkan. Lalu kami bertiga berfoto dua kali jepretan. Setelah itu Papa langsung membayar semua pesanannya. Kemudian kami keluar dan kembali ke mobil.
Setelah itu mobil melaju ke daerah Menteng tempat kami tinggal.
...___________...
...To be continoude ...
...Cuman 1060 kata, entah kenapa kayak nggak bisa banyak-banyak. ...
...Aku usahain 1 minggu kedepan bakal up terus. ...
...Jangan lupa vote, komen dan save cerita mendadak menikah di perpusatakaan kalian. Terima kasih. ...
__ADS_1