
Jangan lupa tinggalkan vote,komen, dan save cerita "MENDADAK MENIKAH" Terima kasih. Dan jangan lupa ikuti akun wp aku agar tidak ketinggalan cerita athiyafakiha terima kasih
...________...
Ada apa dengan senyuman Pak Shivan?
...________...
New Park Hotel, Ankara-Turki
Aku merasa waktu istirahat ku kurang cukup. Setelah melaksanakan shalat Subuh sekitar pukul 06.14 aku kembali tidur untuk mengembalikan tenaga. Waktu shalat Subuh di Turki lebih lama daripada di Indonesia. Aku jadi teringat sesuatu dari sebuah buku pernah aku baca beberapa waktu yang lalu, judulnya why we sleep. Disana dikatakan, jika tidur siang tidak bisa menggantikan kurangnya tidur malam. Sebanyak apapun waktu tidur siang yang kita lakukan tidak akan bisa menggantikan tidur malam yang kurang. Dan secara kognitif, tidur yang cukup juga dapat meningkatkan kinerja otak kita. Otak kita menjadi lebih kreatif dan daya ingat kita semakin meningkat. Ada dua fase yang terjadi saat kita tidur yaitu REM (Rapid Eye Movement) dan NREM (Non Rapid Eye Movement).
Dan benar saja, badanku masih terasa lelah dan pegal. Padahal aku sudah tidur sampai 6 jam dari setelah shalat Subuh. Dan siang ini ada pertandingan lomba berkuda. Aku memaksakan untuk membuka mata, apalagi handphone ku sedari tadi berdering cukup mengganggu waktu tidurku. Otakku masih sulit mencerna sekalipun hanya untuk membaca siapa yang menelpon.
Pak Shivan? Ada apa dengan pria itu sampai menelponku? "Halo assalamualaikum, iya ada Pak?" tanyaku pertama kali ketika panggilan suara berlangsung. Suaraku masih terdengar serak layaknya orang baru tidur.
"Kamu masih tidur? Saya sudah berada di Turki. Tepatnya di New Park Hotel. Kamu stay di hotel mana?" tanya Pak Shivan panjang lebar. Bagaimana pria ini sudah berada di Turki. Bukannya Bu Ria yang akan menemaniku selama aku di Turki, kenapa tiba-tiba pria itu yang berada disini?
"Hallo Alisha?" tanya Pak Shivan di seberang sana memastikan bahwa aku masih mendengar panggilan telponnya. Karena aku masih terdiam cukup lama.
"Ya Pak, kita berada di hotel yang sama. Kalau gitu saya matikan telepon dulu, karena saya harus membersihkan diri dan shalat Dzuhur." Kataku langsung mematikan panggilan telepon. Sikapku ini sepertinya samgat tidak sopan. Nanti aku akan minta maaf padanya.
Setelah itu aku segera bergegas mandi. Hanya membutuhkan waktu sesaat. Aku melihat jarum jam sudah menunjukan angka 13.00. Aku segera mengambil mukenah dan melaksanakan shalat Dzuhur. Perbandingan waktu shalat Dzuhur di Indonesia dan Turki sekitar 1 jam. Jika waktu Dzuhur di Indonesia pukul 11.44 WIB, beda halnya dengan Turki. Waktu Indonesia itu seperti waktu masa depan. Selalu berada diawal.
Ketika aku sudah selesai melaksanakan sholat, aku segera memakai sepatu boots dan keluar dengan seragam perlombaan, blazer hitam dan celana putih. Aku tidak memakai jeans warna putih, karena aku hanya membawa satu, dan naasnya kemarin sudah aku pakai. Sebenarnya aku bisa saja memakai kembali, tetapi kebetulan juga seseorang tidak sengaja menumpahkan secangkir kopi di celanaku waktu masih berada di pesawat.
Aku benar-benar terkejut ketika membuka pintu kamar hotel yang ditempati, Pak Shivan sedang berdiri tepat pintu. Seperti cesper, datang tak diundang. Reflek aku memegangi dada karena efek terkejut. Aku juga reflek memgucap istighfar. Pria itu hanya bersikap biasa saja seolah dia tidak melakukan kesalahan.
"Alisha, ayo kita berangkat sekarang! Mobil sewanya sudah menunggu kita dibawah." Katanya, aku mengangguk pelan tanpa mengiyakan ucapannya. Kata Azura, pria ini sedingin antartika, tapi aku tidak peduli ketika harus bersikap sedingin ini. Lagi pula sikapnya memang dingin, jadi jika aku bersikap demikian tidak perlu merasa terancam bukan? Ya walaupun dia dosenku.
Setelah pintu berhasil terkunci dengan menggunakan kartu kunci hotel RFID/card lock. Setelah itu aku berjalan disamping Pak Shivan. Aku ini tidak seperti air, yang sangat sulit menyeimbangkan siapapun yang berada disampingku. Kami berjalan menuju lift. Hening, tidak ada pembicaraan apapun. Ya mau bagaimana lagi, aku bukan orang yang ramah tamah dan friendly, sementara Pak Shivan juga memiliki karakter sama sepertiku. Jadi jika kami memiliki hubungan lebih juga tidak akan bertahan lama. Aku lebih menyukai sahabat atau pasangan yang ekstrovert dan mudah mencairkan suasana, daripada dengan seorang yang dingin layaknya suhu antartika.
"Alisha, kamu udah siap?" tanyanya.
"Insya Allah," jawabku. Aku yakin sekali jika ketenangan fisik Pak Shivan tidak seperti dalam pikirannya. Aku yakin dia sama canggungnya denganku. Sayangnya juga dia tidak begitu mudah mencairkan suasana. Pintu lift terbuka. Kami langsung menuju keluar hotel dan menaiki mobil yang sudah Pak Shivan pesan. Fakta anehnya yang baru aku tahu dari Azura adalah Pak Shivan Ekstrovert.
__ADS_1
Tidak bisa dipercaya bukan. Ya tapi faktanya ada beberapa ornag yang ekstrovert tapi censerung ke introvert.
Pak Shivan duduk di samping kursi pengemudi. "Saya di depan nggak Papa kan Alisha?" tanyanya seelah kami masuk ke dalam mobil sewa.
"Iya nggak papa." Jawabku. Mobil melesat di kota Ankara, menuju area perlombaan. Aku sangat menikmati indahnya kota Ankara di Turki. Banyak bangunan tua peninggalan sejarah. Fakta menarik yang belum banyak diketahui ialah, Ankara merupakan Ibukota Turki. Ya selama ini aku memang jarang mencari tahu tentang Turki. Sebenarnya mungkin hanya aku yang baru tahu jika kota Ankara merupakan Ibukota Turki. Karena aku hanya mengetahui Turki hanya kota Istanbul. Ya tidak beda jauh dengan orang luar yang kebanyakan mengetahui tentang Bali. Tapi tidak begitu tahu tentang Indonesia. Padahal Bali bagian dari Indonesia.
Turki menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi para wisatawan di seluruh penjuru dunia. Negara yang menjadi batas antara Benua Eropa dan Benua Asia ini memiliki tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Hagia Sophia, Istana Topkapi, Masjid Raya Sulaimaniah, dan masih banyak lagi. Kota Ankara merupakan salah satu kota terbesar sekaligus menyandang status sebagai Ibu Kota Turki.
Selain menjadi pengemudi pria yang duduk sebagai driver juga seorang guide. Jadi sekalian kami menambah pengetahuan tentang Turki.
"What is interesting about the city of Ankara compared to other cities in Turkey?" tanyaku pada driver untuk memecahkan semua pertanyaan yang ada pada isi kepalaku. Aku selalu menggunakan aksen Amerika ketika berbicara bahasa Inggris, terkadang aku juga lupa ketika menggunakan bahasa Indoemsia aksen aku masih Amerika.
Dan untuk mencampuri kehidupan orang lain memang bukan fashion ku. Aku sangat tidak tertarik untuk mencari tahu urusan pribadi kehidupan orang lain. Namun sangat berbanding terbalik untuk suatu pemahaman, aku sangat antusias untuk bertanya. Dan banyak sekali fakta menarik tentang Ankara.
"Ankara, formerly known as Angora, city, capital of Turkey, situated in the northwestern part of the country. It lies about 125 miles (200 km) south of the Black Sea, near the confluence of the Hatip, İnce Su, and Çubek streams. Pop."
"Ankara is the second largest city in Turkey after Istanbul. The city has a population of around 5.6 million people."
"The city was first known as Angora. Only in 1930, the city changed its name to Ankara."
"In 1354, the city was captured by Sultan Orhan Ghazi of the Ottoman dynasty. Ankara officially became part of the Ottoman empire in 1360."
"Kocatepe Mosque is the largest mosque in the city of Ankara. This mosque was built in 1967 and opened in 1987. Wonderland Eurasia is a favorite amusement park in Ankara which is one of the amusement parks with the most roller coasters in the world." Jelasnya sangat detail. Aku mengangguk menegerti. Setelah itu Pak Shivan juga banyak bertanya tentang Turki. Beberapa menit kemudian mobil berhenti di area yang kami tuju. Kami bertiga turun.
...__________...
Horseback Archery Exhibition, di Ankara-Turki. Aku lupa tepat areanya apa. Intinya di area inilah aku akan bertanding melawan 130 peserta dari berbagai negara. Aku sudah mengenakan blazer hitam dan celana putih, sekaligus helm serta keselamatan berkuda lainnya. Kompetisi ECL menampilkan beberapa kategori dalam equestrian seperti Show Jumping (ketangkasan pengendalian berkuda melompati rintangan), Dressage (perpaduan estetika dan pengendalian kuda yang baik) dan Eventing (rangkaian dressage, show jumping dan cross country).
Tanganku sudah berkeringat dingin. Pria disampingku ini benar-benar bukan seperti Pak Shivan yang biasanya. Dia benar-benar berbeda. Jika di kelas terlihat seperti kebanyakan garam, disini dia seperti kebanyakan gula. Dan dia juga ramah dan banyak bicara. Dan sayangnya aku tidak seperti bunglon yang mudah beradaptasi.
"Alisha, kamu udah siap?" tanya Pak Shivan. Entah sudah berapa kali pria itu bertanya demikian.
"Insya Allah,"
"Saya yakin kamu pasti bisa memenangkan perlombaan ini." Katanya. Aku mengangguk dengan mengaminkan doanya. Semua peserta menaiki kudanya terlebih dahulu untuk pemanasan. Semoga saja kuda yang aku naiki ini tidak berbahaya. Sejauh ini aku mendapatkan bagian kuda yang baik dan jinak. Tetapi ada juga yang kudanya tiba-tiba menjadi liar.
__ADS_1
Pertandingan pun dimulai, setelah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit. Berawal dari Brunei Darussalam dan disusul oleh negara lainnya yang sudah terdaftar sebagai peserta. Aku dapat giliran nomor 7 Beberapa peserta mengalami insiden yang cukup mengerikan. Peserta pertama sampai keempat selamat sampai melompat pada rintangan ke sepuluh. Ketika peserta kelima maju berada di lompatan kedua, kuda yang ditumpangi peserta itu tiba-tiba menjatuhkan peserta itu sampai jatuh terpental mengenai kayu rintangan. Setelah itu aku semakin was-was jika sesuatu terjadi padaku. Paramedis dengan sigap membawa peserta yang jatuh itu ke tenda khusus palang merah, agar segera ditangani.
Berkali-kali aku mengucap basmalah dan memohon kepada Allah agar semuanya lancar tidak mengalami insiden seperti peserta yang keempat dan kelima.
"Alisha Adnan, Endonezia." Kata seorang MC. Aku maju dengan jantung yang berdebar. Antara yakin dan tidak sangatlah beda tipis. Aku menaiki kuda dengan sangat hati-hati. Aku tidak merasa ada apapun yang terjadi kedepannya. Aku meyakinkan diri agar semuanya baik-baik saja. Aku berusaha fokus sambil mengucap shalawat.
Rintangan pertama aku berhasil, suara ketukan sepatu kuda dan suara kuda begitu terdengar di area balapan ini. Rintangan kedua, dan ketiga aku berhasil melewatinya dengan baik. Tetapi ketika lompatan kelima kuda hampir meleset tidak mau melompat. Pada akhirnya aku berhasil mengendalikan kuda dengan baik. Aku berusaha agar bisa cepat finish dan mendapat nilai tercepat. Dan benar saja aku mendapat 4:50. Dan aku berhasil lolos ke tahap selanjutnya.
Sampai akhirnya ke babak final mengalahkan ratusan peserta. Aku sangat berhati-hati melewati rintangan yang lebih sulit daripada yang pertama dan kedua. Aku mengendalikan kuda cukup cepat sampai akhirnya ketika lompatan rintangan ke tujuh kuda benar-benar menjadi liar, untung saja tidak keluar jalur garis yang ditentukan.
Dan lompatan kedelapan aku sudah setengah jatuh melayang, sementara kuda masih berlari cepat, hampir saja aku terjatuh ke tanah jika aku tidak kuat menahan badanku sendiri. Dengan sekuat tenaga aku berhasil membenarkan posisi badanku menjadi duduk. Aku berhasil dengan baik mengendalikan kuda ini dengan baik dengan melewati rintangan yang ada. Semua orang bertepuk tangan. Aku tidak tahu jika pertandingan ini disiarkan oleh berita setiap negara masing-masing. Semua orang bertepuk tangan.
MC mengumumkan siapa pemenangnya. aku berhasil meraih nilai terbaik dari semua peserta. Aku tersenyum bersyukur sambil mengucap hamdalah. Aku maju untuk menaiki tangga kemenangan juara pertama. Juara kedua diraih oleh peserta dari Turki dan ketiga diraih oleh Saudi Arabia. Beberapa media meliput kemenanganku dan kedua orang ini. Aku menghampiri Pak Shivan. Baru pertama kali ini aku melihat Pak Shivan tersenyum lebar. Padahal aku yang menang,kenapa dia yang merasa bahagia sekali. Kemudian beberapa media asing meliput sekaligus menginterview atas kemenanganku.
"Selamat Alisha, saya sangat bangga sama kamu." Katanya. Aku beryerima kaish atas ucapannya.
Aku merasa sangat bersyukur, karena persiapan selama kurang lebih dua bulan terakhir aku fokus untuk mempersiapkan diri belajar berkuda di klub kuda andalanku sejak SMA akhirnya membuahkan hasil. Aku sangat senang akhirnya aku bisa setara dengan Alesha. Aku akan memperlihatkan piala ini, bahwa aku juga bisa seperti Alesha. Aku sangat berharap banyak jika nanti aku pulang, Mama dan Papa mengapresiasi aku sekaligus bisa menganggapku ada sebagai putri mereka.
...To be continued...
...Senyumannya mencurigakan nggak tuh Al?...
...Ada apa dengan Pak Shivan? ...
...Apakah ada yang berlayar ke Raffasya- Alisha?...
...Shivan- Alisha? atau...
...Barra-Alisha. Apapun kapalnya,...
...penulislah yang tahu segalanya wkwkwkwkkw...
...Jawabannya besok. Kemarin nggak sempet update karena nggak ada ide sama sekali. ...
...Tapi aku sangat bererima kasih sama pembaca cerita aku yang udah nungguin atau cuman iseng mampir,tapi aku ucapkan terima kasih. ...
__ADS_1