
Jangan lupa tinggalkan vote, komen dan save Mendadak Menikah. Terima kasih. Maaf kalau nggak bisa terus update.
...___________...
Di Psikologi, kami belajar memahami bahwa hal-hal sederhana bisa membawa pengaruh yang besar, sesederhana pola asuh orangtua dengan anaknya yang masih bayi bisa mempengaruhi perilaku seorang anak dalam bersosialisasi dengan orang lain ketika dewasa. Di Psikologi juga lah kami belajar memahami bahwa, masa lalu mungkin ada pengaruhnya ke siapa diri kita saat ini, tapi kita ini manusia yang berdaya terhadap diri kita sendiri. Kita bisa pilih mau terkekang dengan masa lalu atau menerima dan belajar dari masa lalu itu untuk menjalani lembar baru yang lebih baik. Bagaimanapun juga, tidak akan ada kabar baru dari masa lalu.
Lingkungan kampus juga menurutku mendukung mahasiswanya buat berkembang selama masa perkuliahan. Teman-temannya juga seru-seru dan membaur, peer group pasti selalu ada di setiap jenjang pendidikan. Tapi itu tidak menjadi batasan di jurusan Psikologi buat tidak bergaul sama teman dari peer group lain. Senioritas di dalam kampus sudah tidak jamannya lagi. Baik Kakak tingkat maupun adik tingkat semuanya kolaboratif. Dosen-dosen juga gak cuma praktisi akademik, tapi banyak banget yang menerapkan langsung apa yang mereka omongin dalam berperilaku sehari-hari di kampus. Sumber : quora.
Dan sejak masuk kampus psikologi, aku seperti bayi yang baru lahir kembali. Aku baru mendapat seorang teman, sahabat dan lingkungan yang mendukung secara tulus. Sekalipun keluargaku masih datar saja seperti papan berjalan. Tapi setidaknya ada banyak sekali perubahan yang hadir dalam hidupku. Nanti malam aku akan berangkat ke Turki. Alesha gagal membujuk Mama dan Papa supaya mengantarkanku. Seharusnya aku tidak terlalu berharap lebih jika orang tuaku akan sebaik itu. Mereka sangat baik, tapi sayangnya bukan untukku.
Pak Shivan sedang mengajar tentang psikologi perkembangan. Beliau menjelaskannya dengan sedetail itu. Sementara Hafizha sudah tidak sanggup memahami semua materi yang diberikan oleh Pak Shivan. Sekalipun Hafizha sangat giat kiat menginginkan calon good looking tapi tidak berlaku untuk Pak Shivan. Menurut Hafizha, pria tampan seperti Pak Shivan memang perlu di blacklist dari kehidupannya. Beliau ini ketika mengajar materi nadanya terlalu tegas hampir banyak yang mengatakan terlalu galak. Sehingga pendengaran dan otak kami harus menangkap sedetail mungkin.
"Kita akan membahas tentang pertumbuhan. Alisha, Apa yang kamu ketahui tentang pertumbuhan?" tanya Pak Shivan padaku, aku duduk di kursi urutan kedua. Semua dosen sangat mengenal semua mahasiswanya dengan baik. Tak jarang pula mereka juga mengenal karakter dan pribadi kami masing-masing. Terkecuali denganku. Aku sangat tertutup untuk segala hal.
Dan Pak Shivan pernah mengatakan pada kami, ketika kami baru menginjak tiga bulan di semester pertama. "Saya sangat mudah menganalisis karakter dan kepribadian orang sekitar saya, namun anehnya saya tidak bisa mengenal karakter Alisha dengan baik. Ketika saya berpikir Alisha adalah A ternyata bukan, ketika saya berpikir B ternyata salah besar."
"Karakter seperti Alisha sangat sulit ditebak. Tapi saya yakin jika MBTI Alisha ialah INFJ." Katanya sekitar setahun yang lalu.
"Perubahan adalah alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah / fisik dan menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru dari organisme/ individu."
"Pertumbuhan ( Growth ) adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound), ukuran panjang (cm, inchi), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh)."
"Contoh: Bertambah tinggi, bertambah berat badan dan tumbuhnya kelenjar-kelenjar ***." Jelasku secara detail. Pak Shivan ini masih muda. Usianya sekitar 29 tahun. Tapi ia sudah dua tahun ini menjadi seorang dosen.
"Aku nggak yakin kalau Pak Shivan nggak punya perasaan sama kamu!" kata Raffasya berbisik, karena dia duduk tepat di sebelah kananku.
"Jangan mikir aneh-aneh." Kataku mengingatkan.
"Apa yang dijelaskan Alisha sangat benar." Kata Pak Shivan.
"Dan sekarang tentang perkembangan. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan."
"Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya."
"Termasuk perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan."
"Perkembangan diartikan sebagai perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya (maturity) yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis. Contoh: Sikap perasaan dan emosi, minat, cita-cita dan kepribadian seseorang." Jelasnya dengan sangat detail. Dan masih banyak lagi yang dijelaskan, tidak lupa memberikan tugas. Setelah itu Pak Shivan meninggalkan kelas setelah jamnya selesai. (Sumber Abu Layla Supry).
"Alisha, kamu yakin kalau Pak Shivan nggak ada perasaan sama kamu?" tanya Hafizha cukup penasaran. Aku pernah mengatakan sebelumnya, jika sahabat-sahabatku ini lebih cocok jadi hakim di meja hijau daripada kuliah du psikolog.
"Ya nggak lah, mana mungkin dia suka sama aku." Jelasku mengelak semua hal yang ada dipikiran dua orang ini. Hafizha duduk di sebelah kiriku.
__ADS_1
"Setiap kali mengajar, matanya selalu fokus sama kamu, Al." Kata Azura masih berpegang teguh pada prinsipnya. Padahal sudah beberapa kali aku jelaskan sangat mustahil seorang Shivan Arrasya bisa jatuh hati dengan gadis petakilan sepertiku.
"Nggak semua hal apa yang kalian pikirkan itu benar." Kataku masih berusaha menjelaskan sesuai logika dan teori.
"Ingat satu hal! ciri dari pikiran manusia? ada tiga ciri mendasar, yakni tidak nyata, sementara dan rapuh."
"Pikiran itu bukanlah kenyataan, Hafizha. Ia adalah tanggapan atas kenyataan. Pikiran dibangun di atas abstraksi konseptual atas kenyataan. Pikiran juga sementara. Ia datang, ia pergi, dan ia berubah. Cuaca berubah, maka pikiran juga berubah. Ketika lapar, pikiran melemah. Dan sebaliknya, ketika perut kenyang, pikiran bekerja lebih maksimal."
"Dan itu artinya bisa ditegaskan ciri selanjutnya, bahwa pikiran itu rapuh. Apa
yang kita pikirkan sama sekali belum tentu benar. Bahkan, keyakinan kita atas pikiran kita cenderung mengarahkan kita pada kesalahan dan penderitaan, baik penderitaan diri sendiri maupun orang lain."
"Pikiran kita begitu amat mudah berubah, dan ini jelas menandakan kerapuhan dari semua bentuk pikiran kita. Dan apa yang kamu katakan seratus persen kesalahan besar." Jelasku membuat Azura terkekeh ketika mendengar penjelasan ki yang terlalu detail. Ternyata sedari tadi dia menyimak penjelasan ku.
"Lama-lama kamu ketularan sama Pak Shivan. Jangan-jangan kalian jodoh lagi?" kata Azura yang otaknya semakin berpikir jernih.
"Semuanya aja jodohnya Alisha." Kataku membuat mereka bertiga tertawa. Hari ini Shabiya tidak masuk karena sedang sakit.
"Klarifikasinya nggak usah terlalu panjang kali Al," kata Raffasya.
"Sebanyak apapun jurnal yang kamu baca hanya untuk menjelaskan hal ini, kamu nggak akan bisa mengubah sesuatu. Termasuk perasaannya Pak Shivan sama kamu." Lanjutnya semakin di luar nalar. Aku termasuk orang yang ketika disukai orang aku akan berusaha menjauh darinya.
Makanya kalau ada orang yang suka sama aku, jangan sampai aku tahu. Kalau memang mau mendekati ku, dekati saja sampai nyama. Tapi syaratnya jangan sampai aku tahu, atau orang terdekatku tahu. Karena jika hal itu terjadi, maka sebelum dia berhasil meluluhkanku, aku sudah menghindar lebih dulu. Ibaratnya kisahnya belum dimulai sudah berakhir.
"Dan kemungkinan yang kedua itu yang paling masuk akal. Bisa jadi dia memperhatikan aku, agar nantinya dia bisa mendekati Alesha dengan mudah. Karena mendekati orang dalam yang memiliki pengaruh besar bagi Alesha itu lebih cepat berhasilnya. Daripada mendekati langsung orangnya."
"Lagi pula siapa yang nggak suka sama Alesha? Ya kan?" tanyaku membuat mereka bungkam. Raffasya hanya menggeleng kepala.
"Serah kamu deh Al, maunya kayak gimana. Aku sebagai seorang laki-laki, nggak bisa menerima alasan logika kamu itu. Sekalipun itu pakai jurnal." Kata Rafasya. Sebenarnya anak itu lagi ada masalah apa sih? Semua hal yang aku jelaskan ditolak terus.
"Yaudah sih, lagian aku cuman menjelaskan yang aku paham. Bukan maksain kalian untuk sependapat denganku." Kataku.
"Oh ya Al, udah hampir dua pekan dari pertunangan Alesha. Mama sama Papa aku nanyain keputusan kamu." Kata Raffasya membuat aku teringat terakhir kali bertemu keluarganya Raffasya untuk pertama kali.
"Keputusan apa?" tanya kami bertiga meliputi Azura dan Hafizha.
"Keputusan perjodohan kita berdua, Alisha. Kamu lupa?" jelas Raffasya agak menekan.
"Kamu kok nggak bilang Al, kalau kamu mau dijodohin?" tanya Azura.
"Jadi itu beneran? Aku pikir cuman bercanda." Jawabku dengan santai.
__ADS_1
"Ya itu beneranlah. Coba dulu aja Al?" kata Raffasya semakin membuat kosakata ku habis. Aku harus beralasan seperti apa lagi?
"Jangan gila deh Raf, aku nggak pernah kepikiran nikah sama sahabat sendiri. Apalagi di usiaku yang masih muda." Kataku.
"Kita hidup di Indonesia. Usia kamu udah legal untuk menikah, Alisha. Kamu udah 19 tahun lebih kan?" kata Hafizha malah ikut serta menjadi tim sukses perjodohan antara aku dan Raffasya. Padahal dari pihak aku saja belum mengiyakan. Aku tidak bisa membayangkan jika menikah dengan sahabat sendiri, pasti awkward sekali.
"Iya lebih sebulan. Tetap aja aku belum pengen nikah." Jawabku membuat Azura mencubit lengan tanganku cukup keras. Membuat aku meringis.
"Kenapa kamu keberatan menerima perjodohan orang tua kita? Apa ada orang yang kamu sukai?" tanya Raffasya. Aku heran, kenapa Raffasya ingin cepat-cepat menikah sih? Nadanya itu loh, ngebet pengen nikah.
"Iya karena aku nggak bisa, maaf Raff. Lagian menikah muda nggak seindah fyp atau reels instagram. Ada banyak hal yang harus dilewati dengan pikiran yang dewasa. Sekalipun orang tua aku mampu membiayai biaya pernikahan, tapi mental aku belum tentu siap. Dan alasan kedua karena aku masih memiliki perasaan sama seseorang." Jelasku membuat mereka mengangguk setuju.
"Oh ya hampir aku lupa. Malam ini habis Isya aku mau berangkat ke Turki. Kalau kalian nggak ada acara atau kesibukan, aku bisa minta tolong nggak, anterin aku ke bandara?"
"Bisa dong, tapi kita nggak bisa nemenin di Turki. Padahal aku pengen banget ngerasain jalan-jalan ke Turki. Tapi aku nggak punya uang lebih." Kata Azura begitu melankolis.
"Yaudah, kapan-kapan kita berenam ke Turki bareng. Setuju nggak?" tanya Raffasya sambil mengusap pundak Azura.
"Setuju," kata kami bertiga. Azura paling antusias.
"Orang kaya kalau ngomong sat-set banget. Ngajakin ke Turki aja, kayak ngajakin beli seblak di warungnya Mak Deno." Kata Azura.
"Siapa tuh Mak Deno?" tanya Raffasya.
"Itu orang depan kosan aku. Raf, daripada kamu ngajakin Alisha nikah, tapi ditolak. Lebih baik aku aja yang diajak nikah. Nggak bakal aku tolak deh. Serius." Kata Azura dengan bercanda memasang wajah yang serius.
"Nggak deh,"
"Orang pada kenapa sih, dikasih yang baik-baik mintanya yang mainstream." Celetuk Azura sambil menghela nafas. Aku tersenyum simpul ke arah Azura.
"Ra, jangan sedih gitu dong! Kamu pasti akan baik-baik aja. Oh ya nanti aku berangkat setelah Isya. Raf, tolong jagain Azura sama Hafizha." Kataku membuat Azura memelukku.
"Harus banget ya nanti malam?" tanya Azura seperti sulit melepaskanku. Azura ini selalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Tapi aku tidak pernah menganggap hal itu berlebihan.
Aku sangat tahu background keluarga Azura seperti apa. Sedari kecil dia hidup di panti asuhan. Orang tuanya entah dimana. Jangankan dia pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Azura saja tidak pernah melihat wajah kedua orang tuanya seperti apa. Itulah sebabnya Azura sering bermanja dengan kami. Bahkan Azura juga tidak tahu, masih punya keluarga atau tidak. Azura itu selalu ceria, hiperaktif dan kekanakan. Itu semua karena dia ingin mendapat kasih sayang.
"Yaudah kalau gitu kita pulang sekarang. Ra, mau aku anterin apa nggak? Atau mau dianterin sama Raffasya aja. Siapa tau kamu bisa dapetin Raffasya."
"Sama kamu aja," setelah itu kami berpisah.
...___________...
__ADS_1
...To be continued ...
...Alisha itu peka terhadap lingkungan sekitarnya, dia peduli dengan semua orang. Tapi sayangnya tidak ada yang peka dengan perasaannya. ...