
...Semanis ucapan Barra, sepahit tindakan Alesha...
...____________...
Sudah terbiasa, jika orang jatuh hati/mengagumi seseorang dari tampang yang rupawan nan menawan. Tapi ada juga segelintir, bahkan sebagian orang jatuh hati karena kecerdasan yang memukau, baik secara publik speaking yang bagus maupun wawasan yang luas. Tapi ada juga alasan yang tidak masuk akal, jatuh hati karena tidak enakkan. Alasannya karena dia katanya terlalu baik atau tidak memiliki pilihan lain. Itu alasan yang paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar. Tapi kembali lagi tentang dasar cinta, buta dan tuli. Bahkan ada beberapa hadits meriwayatkan, bahwa sejatinya cinta, buta dan tuli. Aku lupa dimana pernah mendengar penjelasan itu.
Saat aku sampai di rumah sakit untuk menemui Alesha dipagi buta seperti ini, karena jam baru menunjukan setengah enam pagi. Entah bagaimana langkahku harus berhenti ketika melihat Barra sedang berbincang dengan seorang dokter spesialis. Aku tahu beliau dokter spesialis hanya dari snelli putih yang panjang yang pria paruh baya itu kenakan. Jujur saja, ini bukan jatuh hati. Aku hanya terkagum dengan caranya dia berbicara kepada seorang dokter senior.
"Jadi ada beberapa hal yang harus diambil tindakan secepatnya. Tapi sayang sekali, orang tuanya tidak mengizinkan untuk melakukan tindakan operasi." Kata Barra. Dia memang tidak terlihat tengil layaknya Kak Hanzal dan ketiga sahabatnya. Sepertinya Barra bisa dikatakan lebih bahkan sangat waras dibanding dengan keempat sahabatnya itu. Dia juga sepertinya salah memilih pergaulan dengan bersahabat dengan Kak Hanzal.
"Alasannya karena apa, Dokter Barra?"
"Mereka takut kehilangan putra tunggalnya. Karena dari penjelasan orang tua nya, hampir penantian selama 16 tahun mereka baru dikaruniai seorang anak. Dan ada banyak fase yang mereka lalui dengan sangat sulit. Tapi saya akan berusaha membujuk mereka. Karena biar bagaimanapun, Ali tetap membutuhkan operasi pengangkatan ginjal." Jelas Barra begitu yakin. Setelah diingat-ingat aku baru mengingat siapa beliau. Dokter senior itu ternyata Dokter Mara, beliau merupakan dokter yang merujuk aku ke dokter spesialis gizi, saat aku ingin melakukan diet sehat. Karena saat itu aku benar-benar salah total melakukan diet. Dan berakhir di opname di rumah sakit.
"Baiklah, saya mengerti bagaimana orang tuanya jika suatu kejadian sama anaknya. Sekali lagi, terima kasih sudah membantu saya Dokter Barra." Kata Dokter Mara.
"Sama-sama, Dok. Saya juga senang bisa berada di bawah bimbingan oleh Anda." Katanya. Lalu Dokter Mara mengakhiri perbincangan mereka, setelah itu Dokter Mara meninggalkan Barra.
Pria yang memiliki wajah menawan memang banyak, tetapi Barra memiliki dua hal sekaligus yang kebanyakan orang tampan tidak memiliki kedua hal itu, tampan dan karismatik. Karismatik disini terlihat dari attitudenya saat berbicara dengan orang yang lebih tua darinya. Bagaimana dia menjelaskan tentang wawasannya dan ilmunya dan banyak hal yang membuat dia memiliki aura kharismatik. Katanya, wajah karismatik bisa mengalahkan wajah tampan. Begitupun dengan Bara, apalagi dia memiliki keduanya. Yang membuat pesonanya tidak mencair. Saat aku kembali melangkah ke lantai dua dimana Alisha dirawat, Barra malah memanggil namaku dan juga berjalan menghampiriku.
"Alisha?" tanyanya memastikan. Apa wajahku terlihat berbeda hanya beberapa minggu tidak bertemu dengannya?
"Iya," Aku berhenti sejenak. Aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri. Ketika Barra menghampiriku dan berdiri di hadapanku, ada apa dengan detak jantungku? Kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Masya Allah, ada yang beda ya setelah pulang dari Turki?" pujinya, aku memeriksa diriku sendiri, karena aku tidak tahu apa yang dimaksud. Dia malah tersenyum simpul, ada dengan diriku? kenapa wajahku malah memanas? Padahal aku tidak sedang sakit.
"Hijab kamu, Sha. Semoga kamu bisa pertahankan hijab kamu. Oh ya, ngomong-ngomong kamu mau jenguk Alesha atau mau pulang?" tanyanya.
__ADS_1
"Baru mau jenguk,"
"Sekalian bareng aja, Sha." Katanya. Aku mengangguk setuju.
"Udah lama nggak ketemu ya, Sha. Sekalinya ketemu, sekarang kamu bawa perubahan yang baik. Gimana rasanya memakai hijab?" tanya Barra mencairkan suasana. Dia memang mudah mencairkan suasana. Kami benar-benar sangat berbanding terbalik, aku yang terlalu bingung untuk mencari topik pembicaraan, sementara Barra sebaliknya.
"Alhamdulillah mulai nyaman. Mungkin karena baru pakai kemarin, jadi ngerasa aneh aja. Apalagi orang-orang ngeliatin saya kayak baru ketemu hantu saat mereka baru bangun tidur." Jelasku membuat Barra terkekeh. Barra menekan tombol open lift, kebetulan lift juga tidak sedang ramai. Lalu pintu lift terbuka. Kami masuk dengan bersamaan tanpa sengaja.
Sebenarnya aku cukup mampu meng-imbangi orang lain saat berbicara atau membahas hal apapun selain ghibah. Hanya saja, karakterku yang cukup menonjol lebih menyukai mendengarkan orang lain berbicara, daripada aku yang harus banyak berbicara. Jadi seperti ini rasanya, agak awkward. Karena jika aku banyak berbicara dengan orang yang tidak begitu dekat akan membuat energiku terkuras habis. Dan hal itu membuat mereka yang tidak begitu kenal dengan ku merasa tidak nyaman.
Dan sekarang aku memakai sedang outfit abaya hitam model abaya Arabian, tapi desainnya sangat simpel. Dan aku padukan dengan pashmina aku gunakan menutupi dada tapi tetap terlihat menawan warna coklat muda. Dan sepatu boots warna putih. Sekalipun aku sudah memilih berhijab, namun sepatu boots tetap aku kenakan sebagai ciri khas seorang Alisha Adnan.
"Kadang sesuatu yang baik memang perlu dibiasakan. Selagi itu kebaikan lakuin aja. Sekalipun banyak orang akan menilai buruk sama kita. Biarin aja, jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain tentang kita. Kalau kita tau apa yang kita lakukan benar, lakuin aja." Katanya.
"Dan alangkah baiknya, niatkan untuk ibadah. Sayang Sha, kalau hal baik yang kita lakukan nggak kita niatkan untuk ibadah. Jadi kayak sia-sia aja." Setiap perkataan yang keluar kenapa sangat menyejukan sekali? Padahal ruangan di lobi tidak dingin.
"Terima kasih atas sharingnya." Kataku.
"Sama-sama." Katanya. Barra mengangguk bersamaan dengan pintu lift terbuka. Kami berjalan ke ruang VVIP yang ditempati Alesha. Barra, pria yang sepertinya lebih suka menasehati dengan cara privasi dan bukan tipikal orang yang menjudge sendiri tanpa tahu alasannya apa. Dia juga sepertinya lebih menyukai sesuatu yang berkaitan dengan agama dengan cara mencontohkan seseorang dengan tindakannya yang baik tanpa banyak bicara. Karena biasanya tidak semua perkataan akan masuk telinga dan hati orang lain, kemudian diterima baik oleh orang lain. sekalipun setiap perkataan benar. Tapi karena kendala bahasa, terkadang membuat orang lain mudah tersinggung.
Kami berhenti setelah Barra membuka pintu. Aku berdiri berada di samping Barra. Entah bagaimana Barra enggan melepas handle pintu dari genggaman tangannya. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada handle pintu. Aku mencoba apa yang terjadi dengan mimik wajahnya kenapa dia langsung berubah seperti itu. Aku sangat terkejut ketika berhasil melihat penghuni ruangan, Alesha berada di ruangan inap sedang tertawa lepas dengan seorang pria. Kevin juga sedang menyuapi Alesha. Mereka terlihat sedang bermesraan.
'Tamatlah riwayatmu Alesha.'
Dia memang sudah benar-benar tidak waras. Bagaimana mungkin Alesha membiarkan Kevin masuk ke kamarnya. Dimana keberadaan Mama dan Papa. Memang anak manja tidak seharusnya selalu dibiarkan manja. Karena dia jadi tidak tahu batasan-batasan.
"Kayaknya kita nggak perlu masuk deh, Sha. Takut ganggu mereka." Kata Barra, dia bersikap cukup tenang. Tapi aku tidak yakin dengan pikiran dan hatinya. Apa dia benar-benar baik-baik aja? Tapi aku nggak yakin.
__ADS_1
"Cowok itu … yang namanya siapa?" tanya Barra mencoba mengingat sesuatu.
"Kevin,"
"Iya Kevin. Dia pacarnya Alesha atau sahabatnya?"
"P—pacarnya Alesha," Jawabku cukup ragu. Dia mengangguk paham. Bagaimana dia bersikap setenang ini? Lalu dia menutup pintu ruang inap Alesha. Mereka berdua tidka terusik ketik pintu tertutup sekalipun bunyinya tidak begitu keras.
"Loh Barra, kenapa kamu nggak jadi masuk?" tanya Mama begitu lembut yang tiba-tiba sudah berada di belakang kami. Aku menoleh dengan keadaan terkejut sambil mengusap dada sekaligus mengucap istighfar.
"Astaghfirullah al adziim, Ma. Aku pikir siapa?" kataku. Mama malah mengerutkan dahi.
"Alisha?" ucap Mama seperti melihat sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku yakin tebakanku tidak salah, Mama bukan orang pertama yang terkejut dengan hijabku ini. Aku segera mencium punggung tangan Mama.
"Hm-mm nggak pa-pa kok, Ma. Kayaknya waktu kita berdua kesini momen nggak tepat aja. Kita jadi takut yang di dalam ngerasa keganggu aja dengan kedatangan kita berdua." Jawab Barra, filter bahasanya terlalu sempurna.
"Ada siapa?" tanya Mama, kami berdua tidak langsung menjawab pertanyaan dari Mama. Mama langsung membuka pintu,
"Ale … sha," kata Mama dengan nada tinggi, wajah Mama berubah memerah hebat melihat putri kesayangannya malah bermesraan dengan pria yang bukan tunangannya. Aku tidak yakin jika Alesha akan baik-baik saja. Mama sekalinya Marah perkataan benar-benar akan menjadi racun.
...____________...
...To be continued...
...Terlaksana menghadirkan Barra,...
...Masalah Alesha dan Alisha akan dimulai,...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan vote, komen dan save sha & sha. Ikuti akun wp aku biar nggak ketinggalan notif athiyafakiha...