Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman

Mendadak Menikah Karena Kesalahpahaman
7. Si Misterius


__ADS_3

..."Nggak semua urusan aku kamu harus tahu, Shabiya."...


...___________...


Hebatnya lagi rumah Shabiya bisa dialih fungsikan sebagai beskem oleh persahabatan kami. Shabiya hanya terlihat pendiam di luar pertemanan kami, selebihnya dia sangat aktif berbicara. Contohnya saja saat ini, dia terlalu memikirkan masa depannya yang terkadang selalu meleset dari setiap perkiraannya. Padahal takdir tidak bisa diperkirakan oleh manusia. Karena takdir sudah ditetapkan oleh sebaik-baiknya perencana, yaitu Allah swt.


"Al, menurut kamu gimana, aku harus lanjut sama dia? atau aku nggak lanjutin aja hubungan sama dia?" tanya Shabiya begitu serius. Aku sangat paham kemana arahnya. Dia yang dimaksud itu Deva. Sebenarnya aku tidak pernah kenal sama orangnya seperti apa. Dan aku juga tidak tertarik untuk menstalking bagaimana wajahnya entah dari media sosial apapun. Aku sangat cuek setiap urusan pribadi orang lain. Selama hal itu tidak ada sangkut paut dan tidak merugikan  dengan kehidupanku, aku memilih untuk bersikap bodo amat. Dan sudah banyak mengetahui tentang kisah percintaannya Shabiya yang begitu rumit dibuat sendiri.


"Semua pilihan itu ada di tangan kamu, Biya. Kalau misalnya kamu bisa bertahan dengan playboy nya ya, oke aja. Tapi, kamu harus menanggung banyak sakit hati, karena pacar Deva itu banyak. Kalau kamu nggak tahan sama sikap playboy nya Deva, ya kamu harus putus." Jelasku.


"Terus aku harus gimana dong?" tanyanya lagi. Shabiya ini mencerminkan wanita diluaran sana yang memakai hijab namun tetap memilih pacaran. 


"Menurut aku sih, bertahan dulu aja. Kalau dia mau serius sama kamu, pasti dia bakal datang ke rumah kamu kok."


"Apa mungkin Deva bakal ngelakuin itu? Yang aku tahu ya Al, semua perempuan yang dipacarinya itu nggak pernah diajak serius." Katanya mulai aktif overthinking. 


"Bisa jadi kamu beda, Shabiya. Stop overthinking!" kataku. Anak itu malah mengangguk kepala seperti anak kucing yang sangat menggemaskan. 


"Aku nggak siap kalau harus asing lagi sama dia. Aku sayang banget sama dia, Al." Katanya. 


"Itu namanya rumus siklus percintaan, Shabiya, asing-kenalan-dekat-asing lagi." 


"Iya juga sih. Tapi aku nggak mau sad ending. Aku maunya happy ending." Katanya sambil mengotak-atik bolpoin yang ada di jari-jemarinya. 


"Itu sih keinginan semua orang. Nggak ada yang mau sad ending. Tapi balik lagi, kita nggak bisa maksain kehendak Allah. Kita boleh berdoa, tapi bukan memaksa." Jelasku.

__ADS_1


"Kamu tuh kayak memiliki kepribadian ganda tahu nggak?"


"Why?"


"Yes, sometimes you are like a religious person. But a few seconds or hours later you are like people who are far from religion." Katanya, aku hanya tertawa hambar. 


"So, kamu sebenarnya yang mana? Alisha yang taat pada agama, atau yang jauh dari agama? Selama setahun lebih kita sahabatan, kamu tuh orang yang sulit ditebak. Dan aku nggak tahu banyak tentang kamu, Al." Tanya Shabiya seperti sengaja menggali semua kehidupanku. Namun yang dilakukan hanyalah sia-sia. Aku akan tetap bungkam dan selalu manipulasi.


"Nggak usah dipikirin tentang aku. Yang perlu kamu pikirkan sekarang, bagaimana kamu yakin bisa bertahan sama makhluk playboy yang kamu sayang itu?" kataku. 


"Biya, aku pamit pulang." 


"Loh, kan ayamnya belum dimasak? Mau dibawa balik ke rumah lagi? Jangan gila deh, Al. Yang ada kamu kayak orang maling." Kata Shabiya menahanku.


"Nggak deh. Udah ah aku nggak mood belajar masak. Kapan-kapan aja deh kalau moodnya baik. Itu ayam buat Bude aja." Kataku. Aku langsung mencari Bude Mira untuk pamit. Aku menemui di dapur. 


"Loh, inikan  ayamnya belum matang, Alisha. Duduk dulu, baru juga nyampe. Masa harus pulang sih?"


"Udah nggak papa Bude, ini ayamnya buat Bude sama Shabiya aja. Kalau kelebihan, Bude bisa kasih ke tetangga aja! Aku pamit ya Bude." Kataku memaksa mencium yangan Bude. 


"Yaudah, hati-hati di jalan. Ingat, langsung pulang ke rumah! Jangan mampir-mampir." 


"Siap, assalamualaikum." Ucapku. Aku langsung pamit ke Shabiya. Aku langsung melajukan motor ke Masjid Al I'tisham di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat Sudah hampir setengah tahun aku mendalami ilmu agama disana. Setiap hari Minggu siang selalu diadakan pengajian disana. 


Aku hanya perlu menempuh jarak sekitar 38 menit jarak tempuh dari Jakarta Barat ke Jakarta Pusat. Ketika sudah sampai, semua orang sudah berada disana dengan sangat rapi. Aku lupa, jika aku masih memakai celana jeans dan jaket bomber berwarna hitam. Aku langsung berlari ke kamar mandi Masjid Al I'tisham untuk mengganti pakaianku dengan abaya berwarna hitam dan hijab pashmina hitam. Dari rumah aku memang sudah membawa abaya dan pashmina berwarna hitam du dalam tas ransel. Karena aku sudah berniat dari rumah untuk mencari ilmu.

__ADS_1


"Alisha," panggil seorang perempuan yang dua tahun lebih dewasa dariku. Kami berteman sudah sekitar empat bulan semenjak kami bertemu di kajian ini. 


"Hai Kak Naya," kataku, kami langsung bersalaman. Kak Naya tahu jika aku kurang nyaman untuk dipeluk apalagi untuk cipika-cipiki. Akhirnya Kak Naya memintaku untuk segera duduk di pertengahan para jamaah. Kak Naya juga mengetahui jika keseharian aku tidak memakai hijab.


"Masya Allah, kamu cantik banget kalau pakai abaya begini. Kelihatan kayak orang Arab." Katanya. 


"Masya Allah, terima kasih. Padahal muka aku lebih Turki banget ya? Kak Naya juga cantik, masya Allah." Kataku dengan balik memuji. Perempuan jika sudah memuji satu sama lain sepertinya akan terus memuji sampai mulutnya berbusa. Tapi untuk kali ini tidak. 


"Aku mohon sama Kakak, tolong jangan tanya aku kapan pakai hijab secara total. Aku akan melakukannya. Tapi nggak bisa secepat itu." Kataku. 


"Itu keputusan kamu, Alisha. Yang perlu kamu ingat, hijab adalah kewajiban sekaligus pembeda dari umat lain. Kakak akan selalu mengingatkan kamu, dan juga selalu mendampingi proses kamu untuk berhijab. Semoga Allah akan mempercepat agar kamu bisa berhijab."


"Amiin, Allahumma amiin." 


"Alisha," sapa Naira begitu antusias. Naira juga katanya baru berhijab di.awla bulan ini. Ada banyak cerita orang yang pernah aku temui. Dan semua hal itu aku jadikan motivasi untuk meningkatkan iman sekaligus melaksanakan hal yang seharusnya segera dilaksanakan. Kata-kata yang paling aku ingat adalah, "kalau bukan sekarang kamu berhijab karena kamu suka mencari alasan untuk menunda, apa kamu sudah yakin besok kamu masih bernafas? Jika tidak, maka kamu akan Allah hijabkan dengan kain kafan." Hal itu yang membuat aku yakin, kapan  aku akan berhijab. Setelah itu kajian dimulai. Dan aku mencatat semua yang dijelaskan oleh penceramah. 


..._________...


...To be continoude...


...Maaf Barra belum bisa muncul lagi, sedang mencari bagaimana menggambarkan sosok Barra biar karkaternya dapat....


...Oke, hari ini updatenya lebih cepat dari minggu lalu. Semoga aja isyiqomah dengan kemageranku....


...Cukup basa-basinya! Semoga besok bisa ul lagi....

__ADS_1


...Oh ya, jangan lupa vote dan komen terima kasih. ...


__ADS_2